alexametrics

Yayasan Pancaka Semarang Bagikan APD, Vitamin hingga Gratiskan Biaya Kremasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sudah sejak April tahun lalu Yayasan Pancaka Semarang ikut bergerak membantu penanganan covid-19. Dimulai dari penyaluran sumbangan alat pelindung diri (APD), memberi vitamin dan obat-obatan, pembebasan biaya kremasi, hingga menggelontorkan 10 ton beras ke warga melalui Pemkot Semarang.

Ketua Yayasan Pancaka Aman Gautama menceritakan saat awal masuknya virus, belum banyak tenaga kesehatan yang dibekali APD lengkap. Sebagai bentuk perlindungan para nakes di garda terdepan, pengurus yayasan berinisiatif memesan dari luar daerah. “Dulu awal-awal langka, kita cari di Malang dapat (harga) Rp 300 ribu-an itu pun stok sangat terbatas. Terus pas nemu yang lebih murah dan nyaman, kita belikan lebih banyak untuk nakes di Semarang,” tutur Aman kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya kebutuhan warga, nakes dan pasien terus berubah dan bertambah selama pandemi. Dari APD yang sempat langka, vitamin dan obat-obatan, hingga saat ini kebutuhan oksigen. Pihaknya selalu berusaha hadir mencoba mengulurkan tangan untuk membantu sesama. “Kalau ditanya pernah ngasih apa saja dan berapa jumlahnya. Saya nggak ingat. Karena prinsip kami apa yang dibutuhkan, kami coba penuhi semampu kami,” ungkapnya.

Baca juga:  450 Ribu Ton Beras Disalurkan untuk 10 juta Keluarga Penerima Manfaat

Dikatakan, dalam menyalurkan bantuan, yayasan tidak pernah tebang pilih. Tandap membedakan suku, ras, agama, pihaknya tetap membantu bila memang diperlukan.

Melihat kondisi PPKM yang berkepanjangan ini mengetuk hati Aman akan kondisi rakyat kecil. Tak semua memiliki uang darurat. Perekonomian keluarga pun sudah pasti memburuk. Maka muncul inisiatif untuk berkeliling ke kelurahan atau dapur umum. Lalu menyumbang sembako atau kebutuhan yang diperlukan warga. “Kalau 10 ton beras kan nggak mungkin kami bagikan sendiri. Karena kami juga nggak tau persis data warga yang membutuhkan. Jadi ya kami pasrahkan saja ke Pak Wali, biar pemkot yang urus,” tandasnya.

Lalu seorang pengurus lain ikut menyahut perkataan Aman. Menurutnya, mereka bukan selebriti. Jadi sebenarnya tidak terlalu butuh publikasi. “Karena alangkah bagusnya bila tangan kanan memberi, tangan kiri bersembunyi”, tuturnya.

Baca juga:  PHRI Minta Kelonggaran PPKM

Yayasan yang mengurus krematorium di Kedungmundu Semarang ini juga membantu proses pemulasaran jenazah. Pihaknya tidak turun tangan secara langsung. Tapi memberi dukungan berupa keranda, tempat mandi, hingga peti jenazah bagi yang tidak mampu. Baik proses pemakaman maupun kremasi, semua dibantu tanpa pandang bulu. “Biaya kremasi ini juga tetap stabil, nggak naik biar keluarga mendiang tidak kesulitan. Itu pun kadang ada yang tidak mampu. Ya sudah kami gratiskan,” ujar Aman.

Bahkan, pada puncak kasus kematian akibat covid-19, pihaknya harus melakukan kremasi lima kali dalam sehari. Padahal biasanya maksimal dua jenazah saja. Karena kewalahan, beberapa petugas kremasi jatuh sakit tertular covid. Satpamnya juga meninggal. Saat ini pihaknya hanya memiliki dua tenaga kremasi dan tengah mencari tenaga tambahan lagi. “Ya mau bagaimana, nggak semua orang mau dan berani kerja di sana (krematorium),” imbuhnya.

Baca juga:  Yayasan Pancaka Bagikan Vitamin untuk Anggota Polri

Aman mengakui, bantuan kemanusiaan yang selama ini dibagikan tak pernah membuatnya repot. Meskipun sering kali ada telepon yang meminta bantuan di tengah malam atau di waktu istirahat. “Kadang masih setengah sadar bangun dari tidur, ada yang minta bantuan proses kremasi. Ya pokoknya saya ladeni sambil ngantuk-ngantuk,” kata Aman.

Para pengurus yang kebetulan berada di Kelenteng Tay Kak Sie, Pecinan Semarang mengungkapkan rasa syukur bahagia dapat berbagi dengan sesama. Para pengurus mengaku memiliki kepuasan tersendiri di saat dapat menolong dan hadir di saat ada yang membutuhkan. “Ya hepi. Yang dibantu senang. Kita pun ikut senang,” jelas Aman. (taf/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya