alexametrics

Jangan Bersepeda Terlalu Lama di Zona Merah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski hanya komunitas hobi bersepeda, bukan atlet profesional, Komunitas Sepeda Tendbir (Tenda Biru) memiliki jadwal latihan cukup serius. Mulai latihan rutin untuk menguatkan daya tahan tubuh, kecepatan, dan kekuatan.

“Mungkin di antara komunitas hobi yang lain, kita latihannya paling disiplin dan serius,” kata Ketua Harian Komunitas Tendbir Aryanto Nugroho saat talkshow Ngobrol Asyik tentang Covid-19 yang digelar Jawa Pos Radar Semarang bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid-19, Rabu (3/3/2021).

Ketika pandemi menyebar di Indonesia, tentu ada rasa sedih di benak para anggota. Sebelumnya, mereka biasa melakukan touring cukup jauh, bisa sampai lebih 200 kilometer jaraknya. Selama pandemi, beberapa jadwal touring terpaksa batal.

Namun setelah diperbolehkan bersepeda selama pandemi, akhirnya komunitas ini mulai melakukan kegiatan lagi dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes). Ketika ada beberapa anggota komunitas yang positif Covid-19, tetap melakukan isolasi mandiri.

Baca juga:  Wisuda Virtual Gunakan Teknologi Animasi

“Cuma anggota yang sempat positif Covid-19, gejalanya ringan. Mengalami pegal, mual, sakit kepala, hilangnya indra perasa, tapi pulihnya cepat banget. Tidak ada yang mengalami gejala berat, seperti sesak napas, atau sampai masuk ICU,” jelas pria yang biasa dipanggil Omar ini.

Itu membuktikan bahwa imunitas bisa membantu penyembuhan. Maka jika merasa sakit, lebih baik melakukan olahraga yang ringan dan jangan terlalu memforsir tenaga dengan bersepeda. Jika harus bersepeda di zona merah, waktunya tidak boleh terlalu lama. Sebab, ketika tenaga sudah diforsir, imunitas mengalami penurunan.

“Untuk teman-teman yang suka bersepeda di kala pandemi Covid-19, harus senantiasa meningkatkan imunitas. Jangan sering-sering memforsir diri, dan jangan kecapekan,” ujar Omar memberi tips.

Baca juga:  Jaring Warga yang Bandel Tak Pakai Masker

Orang yang mengalami cedera, sesak napas, atau terkena serangan jantung ketika olahraga, tambahnya, biasanya masih pemula. Namun sudah melakukan olahraga yang berat. Misalnya pesepeda yang baru mulai, tetapi sudah berada di grup yang kuat. Lantas gengsi untuk mengakui bahwa ia tidak kuat. Akibatnya terlalu memaksakan diri.

“Semua olahraga seperti lari, berenang, bersepeda, yang melibatkan pemompaan jantung itu mendorong sirkulasi darah lancar. Tapi terlalu kencang, justru bisa membuat kerak-kerak lemak dalam pembuluh ikut terpompa. Kalau sudah terbiasa, tidak ada keraknya. Tetapi kalau belum terbiasa, lemaknya akan terbawa ke jantung dan bisa menyebabkan serangan jantung,” jelas pria 44 tahun ini.

Irman Yosep, ketua Komunitas Tendbir, menambahkan tips lainnya. Yaitu memperbanyak konsumsi sayur dan cukup tidur. Seorang pesepeda memang tidak boleh begadang supaya bisa segar ketika bangun pagi untuk bersepeda. Ia menyarankan untuk sarapan ringan seperti roti, teh, dan madu. “Pagi sebelum berangkat, minum teh hangat dan makanan basah, roti, serta madu satu tenggak,” ujar Irman.

Baca juga:  Tinggal 500 Lansia yang Belum Divaksin

Tips lain agar imun tetap terjaga, kata Omar, mengimbanginya dengan gerak badan seperti olahraga dan istirahat yang cukup, lalu makan makanan yang sehat. Namun yang paling penting adalah menjaga pikiran tetap positif dan tidak boleh stres. “Pikiran yang positif, pikiran yang bahagia, bisa menjadi bekal melawan jenis penyakit,” paparnya. (mg1/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya