alexametrics

19 Orang Terpapar, Separo Sudah Negatif

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang bergerak cepat untuk melakukan tracking klaster pondok pesantren (Ponpes) Shirotol Mustaqim Jalan Gedongsongo III, Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat. Dari 19 orang yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, separonya sudah dinyatakan negatif.

Kepala DKK Kota Semarang M Abdul Hakam menjelaskan, jika 19 orang yang positif ini adalah pengasuh dan anggota keluarga di ponpes tersebut. “Bukan dari santri ya, karena saat ini belum ada kegiatan santri. Alhamdulillah separonya sudah negatif,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (6/7/2020) siang.

Indeks dimulainya kasus tersebut, lanjut Hakam, berasal dari luar kota. Yakni, salah satu orang yang dirawat dari kabupaten/kota tetangga. Saat itu, DKK mendapatkan notifikasi dari rumah sakit dan langsung melakukan tracking. Ternyata ada seorang tamu yang berkunjung ke rumah salah satu pengurus.

“Kita lakukan swab test kepada 50 orang, hasilnya 19 positif. Tidak hanya dari satu keluarga, namun beberapa keluarga, kita juga sudah lakukan sterilisasi,”jelasnya.

Agar klaster serupa tidak kembali terulang, Hakam mengaku telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama dan kecamatan. Apalagi jika ada santri atau pengurus ponpes yang memiliki mobilitas tinggi dan tidak menerapkan protokol kesehatan, maka akan menimbulkan risiko tinggi bagi yang lainnya.

Baca juga:  Sebelum Masuk Rupbasan, Barang Bukti Disterilisasi

“Misalnya kalau pengurus atau santri tetap tinggal di ponpes, itu relatif aman. Tapi kalau salah satunya punya mobilitas tinggi, ini yang menjadi faktor risiko. Ini untuk semua, bukan hanya untuk ponpes saja,” tambahnya.

Sementara untuk sepuluh guru yang terkonfirmasi positif, Hakam menjelaskan jika dari penelusuran yang ada, 20 guru satu sekolah pergi bersama dengan menggunakan bus untuk melakukan perpisahan salah satu rekan sejawat pensiun.

“Kemudian ada keluhan, yang bersangkutan melakukan rapid, hasilnya reaktif, swab secara mandiri positif,”tambahnya.

Dari tracking yang dilakukan, ada empat orang yang kemudian ditemukan positif. Lalu tracking juga dilakukan kepada pihak keluarga dan ditemukan dua tambahan positif. “Ini satu sekolah, sampai sopir busnya juga kita test dan hasilnya negatif,” katanya.

Meskipun satu sekolah dan ada yang tinggal di Tambak Rejo, Kedungmundu, Gayamsari atau wilayah kerja Puskesmas Gayamsari, Hakam menekankan jika klaster ini bisa terputus. “Insya’Allah bisa terputus, kita sudah lakukan tracking,”bebernya.

Baca juga:  Terapkan Prokes, Perpustakaan Batasi Pengunjung

Untuk perkembangan klaster takziah yang terjadi di Kecamatan Ngaliyan, Ngemplak Simongan, dan wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso, lanjut Hakam, kasus ini sudah selesai. “Kasusnya sudah selesai dan konversi, dulu ada sekitar 20 yang kena,” jelasnya.

Dinas menekankan kepada pemangku wilayah, yakni lurah dan camat untuk memastikan status warganya yang meninggal, apakah probable atau justru ke Covid-19.

“Misalnya, dua minggu terakhir apakah pergi keluar daerah atau kedatangan tamu dari luar. Punya status batuk, pilek dan sesak nafas atau tidak, pokoknya harus disinfektan dulu lingkungannya. Kalau belum dicek, saya tekankan jangan takziah, tujuannya untuk mengurangi risiko penularan,” katanya.

Sementara itu, suasana Ponpes Shirotol Mustaqim kemarin terlihat sepi. Sejak Covid-19 melanda pertengahan Maret, santri dan santriwati ponpes ini sudah dipulangkan ke daerah asal.

Saat wartawan mendatangi lokasi, terlihat empat santri sedang belajar nahwu sorof dengan metode daring. Mereka belajar dengan cara mendengarkan spiker dari gurunya dan terlihat serius.   “Memang dalam pemberian pelajaran tidak ada tatap muka, tetapi hanya dilakukan secara daring,” kata pengajar Ponpes Shirotol Mustaqim, Muhammad Ridwan, Selasa (6/10/2020).

Baca juga:  Bisnis Properti Wilayah Semarang Timur masih Potensial

Ridwan menambahkan, dalam proses belajar-mengajar ini, sejak September sudah secara daring. Santri dan santriwati belajar dari rumah masing-masing. Mereka yang mondok berjumlah 150 santri dan santriwati.

Dikatakan, pengurus ponpes yang terpapar warga dari luar ponpes.  Dia sebagai guru dan tinggalnya di luar ponpes. Sehingga kawasan ponpes juga ikut diisolasi. Pada Senin (28/9/2020) itu, dilakukan rapid test oleh petugas medis Puskesmas Manyaran. Tetapi karena ada yang positif, pada Rabu (30/9/2020) dilakukan swab test.

Humas Pramuka Kota Semarang Gunawan Surendro mengaku, kemarin pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan bersama petugas BPBD Kota Semarang di kompleks ponpes dan masjid.  “Ponpes dilakukan sterilisasi dan penyemprotan, termasuk di rumah-rumah warga di sekitarnya,” ujarnya. (den/hid/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya