alexametrics

Gambang Semarang, Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Gambang Semarang merupakan salah satu kesenian tradisional Kota Semarang. Kesenian yang berakar dari Gambang Kromong ini sangat lekat dengan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.

Kelahiran Gambang Semarang bermula dari seorang Tionghoa yang menjabat sebagai Volksraad atau Dewan Rakyat Semarang, Lie Hoo Soen. Ia merasa Semarang harus memiliki salah satu kesenian khas, sehingga mengusulkannya pada H. E. Boissevain, wali kota Semarang saat itu. Usulnya pun disetujui dan ia segera memboyong alat musik Gambang Kromong ke Semarang. Gambang Semarang dipentaskan pertama kali dipentaskan pada 1932.

Berkembangnya kesenian ini di Semarang tak lepas dari peran berbagai tokoh. Tak jarang ada yang berasal dari etnis Tionghoa. Sebut saja Oei Yok Siang dan Sidik Pramono yang menggubah lagu ‘Gambang Semarang’. Selain itu, terdapat pula penyanyi Gambang Semarang tersohor bernama Nyonya Sam yang terkenal dengan gerakan pinggulnya. Oei Tiong Ham, Raja Gula Semarang juga kerap menampilkan pentas Gambang Semarang di setiap acaranya.

Baca juga:  Guyub Rukun di Festival Seni Budaya Pekalongan

Menurut Tri Subekso dari komunitas Gambang Semarang Art Company (GSAC), kesenian ini menarik karena adanya perpaduan antara berbagai kesenian dan kebudayaan. Contohnya adalah dari penggunaan alat musik yang memadukan alat musik Tionghoa dan Jawa. Di antarnya adalah gambang melodi, kendang, gong, kecrek, saron, kecapi cina, erhu, hingga yang qhim. “Gambang Semarang menarik karena menyelaraskan etnis yang berbeda. Tak hanya musik, namun juga unsur tari dan lagu yang diciptakan. Hal tersebut yang membuatnya unik,” ujar Tri.

Pamong Budaya Kabupaten Semarang menjelaskan, terdapat penggabungan antara unsur musik, vokal, tari, serta lawak dalam Gambang Semarang. Inilah yang membedakannya dengan kesenian Gambang Kromong. Kemudian dalam perkembangannya, kesenian ini mengalami pasang surut. Banyak grup-grup kesenian yang tidak bertahan lama karena berbagai alasan seperti berkurangnya peminat, pemerhati, atau perang yang kerap terjadi di Semarang. “Grup The Lian Kian tahun 1949 kalah judi lalu bubar. Lalu kelompok Cik Boen di era 1950-an gulung tikar karena jatuh miskin dan meninggal dunia. Pada 1995, perkumpulan Gambang Semarang Kembang Goyang yang dipimpin Amen Budiman juga telah bubar,” tutur Tri.

Baca juga:  Hobi Adu Jago, Dibikinkan Miniatur Ayam

Tri melanjutkan, saat ini masih terdapat kekurangan pengetahuan dari masyarakat terkait kesenian ini. “Banyak yang menganggap cuma tarian dengan 4 penari. Sayangnya pemahaman ini belum utuh. Padahal seni pertunjukan ini kaya dengan seni tari, komedi, dan vokal,” lanjutnya.

Kini, ia bersama GSAC berusaha untuk melestarikan kejayaan dari Gambang Semarang. GSAC menawarkan inovasi agar kesenian ini dapat diterima oleh masyarakat sekarang dengan memadukan unsur modern, seperti penggunaan lagu pop yang dibawakan dengan instrumen Gambang Semarang, atau penggunaan alat musik seperti bas atau saksofon.

Ke depannya, Tri berharap semakin banyak generasi muda yang berusaha untuk melestarikan kesenian ini agar tidak hilang ditelan zaman. “Semoga generasi muda banyak yang tergerak untuk melestarikannya. Sebab kesenian ini adalah wajah sebuah kota. Sebuah kota yang sudah menghidupi ratusan generasi,” jelasnya. (mg1/mg4/ton)

Baca juga:  Buah Naga, Pembawa Hoki di Meja Altar

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya