alexametrics

Serap Aspirasi, Petani Butuh Dicarikan Solusi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, WONOSOBO – Seluruh anggota DPRD Kabupaten Wonosobo masa bakti 2019-2024 telah melangsungkan masa reses selama tiga hari. Dari hasil tersebut, anggota DPRD menghimpun sejumlah usulan untuk disampaikan dalam rapat paripurna.

SERAP ASPIRASI : Wakil Ketua DPRD Wonosobo Muhammad Albar saat menggelar reses bersama 120 konstituen di Balai Desa Sitieng, Kejajar. (Sigit Rahmanto/Jawa Pos Radar Kedu)
SERAP ASPIRASI : Wakil Ketua DPRD Wonosobo Muhammad Albar saat menggelar reses bersama 120 konstituen di Balai Desa Sitieng, Kejajar. (Sigit Rahmanto/Jawa Pos Radar Kedu)

Diketahui, reses merupakan kegiatan anggota DPRD  untuk menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen. Menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat serta memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo Muhammad Albar menjelaskan selama tiga hari melakukan reses. Mulai Senin (3/12) hingga Rabu (5/12) kemarin. Setidaknya setiap kali bertemu dengan konstituen, yang hadir pada acara tersebut hingga ratusan orang jumlahnya. Bahkan, pihak yang dihadirkan hingga 150 konstituen.

Baca juga:  Pemkab Dintuntut Maksimalkan Kinerja di Periode Terakhir

“Kita ingin menjaring sebanyak-banyaknya usulan yang disampaikan dari warga. Sehingga kita bisa memilah, mana yang memang menjadi prioritas untuk segera direalisasikan atau kita tunda,” terangnya.

Dari masukan yang diterima, pihaknya menyampaikan banyak keluhan yang berasal dari petani. Permasalahan yang dikemukakan antara lain adalah jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk masa tanam dan panen tak sebanding.

“Misalnya tanaman kentang saat ini hanya dihargai Rp 7.000 per kilo. Padahal beban yang harus dikeluarkan mereka dari mulai menanam menghabiskan Rp 7.500 per kilo. Artinya, petani terlalu banyak menanggung kerugian,” kata Albar yang menakhodai DPC PKB Wonosobo itu.

Lanjut dia,, saat ini bekerja menjadi petani hanya bisa untuk bertahan. Untuk  mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selebihnya, mereka harus menambah ongkos dengan bekerja serabutan. Tentu hal ini menjadi keprihatinan. Sebab Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai kota dengan corak agraris. Pertanian sudah menjadi urat nadi masyarakat Wonosobo.

Baca juga:  2022, Perlu Kreasi dan Inovasi

“Maka semestinya kita bisa mencarikan solusi bagi mereka. Sehingga para petani masih tenang dengan pekerjaannya,” lanjutnya. Pihaknya berusaha memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk segera merealisasikannya. Mesekipun saat ini diketahui bahwa anggaran APBD Kabupaten Wonosobo tergolong kecil. Namun, pihaknya akan tetap berkomitmen, sehingga setiap usulan yang datang dapat segera direalisasikan.

“Jika mengacu pada proses perencanaan anggaran, tahun 2020 merupakan pengajuan pada tahun 2019.  Sementara reses baru minggu ini kita gelar, setelah RAPBD diajukan untuk dievaluasi gubernur,” ucapnya.

Namun, apapun usulan masyarakat baik itu usulan berupa pembangunan infrastruktur, maupun usulan yang berkaitan dengan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat, akan ditampung untuk ditindaklanjuti.

“Yang mendukung saya kan masyarakat hingga jadi wakil rakyat. Itu artinya saya juga siap dikawal oleh masyarakat. Aduan serta aspirasi semaksimal  mungkin akan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Baca juga:  Perkuat Pendidikan Karakter Anak Bangsa

Beberapa usulan dari warga di antaranya  masalah pertanian, pembangunan jalan, jembatan penghubung, pengurangan pengangguran,  serta peningkatan kapasitas atau skill masyarakat. “Penyerapan aspirasi ini bersifat luas. Tidak hanya terbatas pada bidang tertentu. Sebab, nanti bisa saya hubungkan ke OPD terkait yang membidangi,” ucapnya. (git/adv/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya