alexametrics

Sensasi Nyeruput Kopi di Desa Tertinggi Jawa Tengah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berkunjung ke desa tertinggi di Jawa Tengah, langsung disambut cuaca dingin. Seruputan kopi panas akan mengurangi rasa menggigil. Harus segera diteguk sebelum keburu dingin.

Bagi masyarakat Desa Sembungan, Dieng, Wonosobo, minum kopi atau ngopi adalah rutinitas yang biasa dilakukan. Hawa dingin di desa tertinggi di pulau Jawa ini, membuat kopi menjadi teman yang cocok untuk beraktivitas. Tidak sulit menemukan warga ngopi di pos ronda maupun warung-warung di desa tersebut.

Malam itu ketika wartawan Jawa Pos Radar Semarang datang ke Desa Sembungan, tampak beberapa orang asyik ngopi dan merokok sembari berjaga di pos ronda. Kopi yang masih panas mereka seruput secara perlahan. Saat itu suhu di Desa Sembungan adalah 10 derajat celsius. Kopi yang panas pun akan cepat dingin hanya dalam kurun waktu 5 menit saja. Sehingga harus cepat diminum.

“Ngopi bagi warga Desa Sembungan sudah menjadi tradisi, Mas. Untuk menghangatkan badan. Karena di sini dingin, jadi kalau ngopi itu rasanya kayak menyatu banget dengan alam,” ujar Lukman Maulana, salah satu warga Desa Sembungan kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di pos ronda, sambil menikmati kopi, Lukman dan beberapa rekannya juga menghangatkan badan di depan tungku. Di tungku tersebut mereka membakar pisang untuk dijadikan camilan ngopi.

Baca juga:  Sehari Nggak Ngopi seperti Ada yang Kurang

Diceritakan oleh Lukman, meski warga sekitar doyan ngopi, namun tidak ada yang menanam pohon kopi. Mayoritas warga menanam kentang maupun sayuran lain. “Jadi kalau ngopi ya harus beli, ada yang beli kopi sachetan ada pula yang beli kopi murni. Kebanyakan sukanya yang kopi hitam,” tutur Lukman sembari menyeruput kopi hitam di gelas.

Saking akrabnya dengan kopi, dalam sehari ia bisa menghabiskan sepuluh gelas kopi. Lukman merasa ada yang kurang jika belum ngopi. “Saya itu kalau habis makan, minumnya ya kopi panas. Kalau nggak minum kopi rasanya kaya nggak minum,” tutur pria 35 tahun ini.

Di sekitar Desa Sembungan juga banyak pedagang kaki lima menjajakan kopi di warung. Banyak pengunjung mampir, karena Desa Sembungan terkenal dengan wisata Bukit Sikunir yang memikat dengan pemandangan golden sunrise-nya ketika pagi.

Baca juga:  Jembatan Kali Petung Putus, Warga Harus Memutar Delapan Kilometer

Selain ngopi, pengunjung juga akan dimanjakan dengan sajian khas sekitar yang nikmat. Yakni tempe kemul dan semur kentang. Dimakan dengan kopi yang panas sangatlah nikmat. “Biasanya kalau ngopi di warung, camilannya tempe kemul sama kentang semur,” kata Mukholik, pedagang di Desa Sembungan.

Harganya pun cukup terjangkau. Hanya dengan uang Rp 15 ribu sudah mendapat satu gelas kopi hitam, satu cup kentang semur dan 3 tempel kemul. Para pengunjung betah berlama-lama ngobrol di warung ditemani sajian yang disediakan. Saking asyiknya, wartawan koran ini pun hampir satu jam duduk ngopi di warung. Sembari ngemil tempe kemul panas yang baru diangkat dari wajan.

Menjelang subuh, makin banyak orang yang datang ke Desa Sembungan. Mereka beramai-ramai ingin melihat sunrise dari Bukit Sikunir. Bukit tersebut tingginya 2.263 meter di atas permukaan laut. Pengunjung pun harus jalan kaki sekitar 40 menit untuk sampai di puncak.

Ketika akan naik ke Bukit Sikunir, wartawan koran ini membawa kompor portable. Supaya di puncak bisa digunakan memasak air untuk membuat kopi panas. Tujuannya jelas untuk menghangatkan badan.

Baca juga:  Citarasa Java Arabica Sindoro, Kopi Beraroma Tembakau

Sekitar 40 menit berjalan mendaki, wartawan koran ini sampai lah di puncak Bukit Sikunir. Suasana berkabut dan mendung. Sehingga membuat udara terasa semakin dingin. Bersama tiga teman, wartawan koran ini segera membuka kompor portable, memasak air dan membuat kopi hitam. Karena sudah tidak kuat dengan hawa dingin di puncak saat subuh tiba.

Rasanya langsung hangat di badan dan sedikit menghilangkan kantuk di pagi itu. Kopi yang dimasak dengan air mendidih pun dengan cepat berubah menjadi hangat dan dingin. Perlahan wartawan koran ini menyeruput kopi sambil menikmati pemandangan sekitar. Sayangnya golden sunrise yang dinanti tidak muncul, karena tertutup kabut dan mendung.

Namun sensasi ngopi di puncak Bukit Sikunir setidaknya bisa mengobati kecewa karena tidak bisa melihat golden sunrise. Karena sangatlah membawa kenikmatan dan ketenangan. “Minum kopi panas dengan suasana yang dingin di Sikunir rasanya enak. Hangat di badan,” celetuk salah satu teman bernama Rexy. (luqman.sulistyawan/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya