alexametrics

Sehari Nggak Ngopi seperti Ada yang Kurang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Jumino, 45, seorang pencinta berat kopi. Dulu ia mengaku tidak suka kopi. Bahkan sampai pada level anti terhadap kopi. Namun itu berubah setelah Bang Jum, sapaan akrabnya, diangkat menjadi mandor di perusahaan tempatnya bekerja.

Ketika itu setiap harinya ia menyiapkan bahan makanan yang dibutuhkan anak buahnya. Mulai dari kopi, teh, sirup dan lain-lain. Dari situ teman-temannya yang suka kopi membujuk Bang Jum untuk mencoba. Satu kali, dua kali masih belum mempan. Setelah berkali-kali akhirnya Bang Jum menyukai kopi juga.

Warga Kalipancur, Ngaliyan, Kota Semarang ini bercerita, awalnya suka kopi sachet apa saja. Kopi hitam, moccachino, mix dan lain-lain. Setelah beberapa tahun, ia beralih ke kopi tubruk. Sehari bisa habis lebih dari lima cangkir kopi. “Sehari nggak ngopi kayak ada yang kurang mas,” akunya.

Kopi hitam bubuk menjadi salah satu bahan pokok yang harus ada di rumahnya. Ia membeli langsung satu bungkus besar. Persediaan untuk beberapa minggu. Jadwal minum kopinya adalah pagi hari, siang di tempat kerja, sore setelah pulang ke rumah, dan malam hari. “Kalau lagi ngobrol malam ya sambil ngopi mas enaknya,” kata penggemar kopi tanpa gula ini.

Baca juga:  Panen Meningkat 700 Persen, Serap 500 Pekerja Petik Kopi

Kopi tubruk juga digemari Waluyo, 26, sejak SMP. Pasalnya, kopi tubruk berisi kopi murni. Tidak ada campuran apapun. Jika diseduh pun masih terasa pahit. Aromanya pun murni. Baginya itu mnejadi kenikmatan tersendiri. “Soalnya aku gak mesti cocok kalo sachetan. Entah gigi linu lah, mulutnya gak enak lah, perut kembung gitu,” ungkapnya setelah menyeruput kopi.

Fahmi Hafid, 24, warga Pedurungan Semarang lebih tertarik dengan kopi tubruk dibanding kopi instan. “Kopi tubruk memiliki rasa yang nikmat dengan cita rasa biji kopi asli, aromanya sedap, dan memiliki sensasi yang berbeda saat diseduh,” kata Fahmi.

Menurutnya menikmati kopi juga bisa dilakukan dimana saja sesuai dengan kebutuhan dan keinginan diri. Tapi ia harus meperhatikan tempat dalam menikmati secangkir kopi tubruk demi kenyaman dan kenikmatan.

“Jadi menikmati kopi paling cocok di malam hari dengan udara yang dingin dengan melepas rasa lelah setelah seharian bekerja. Menurut saya kopi tubruk akan terasa lebih nikmat dan bisa mengembalikan semangat,” ungkapnya.

Baca juga:  Nikmatnya Ngopi Tepi Pantai Ditemani Live Music

Kopi instan atau sachetan juga punya penggemar tersendiri. Praktis jadi salah satu alasan. “Kopi instan mudah dinikmati di rumah sebelum beraktifitas dan setelah beraktifitas, untuk teman bersantai melepas kelelahan,” tutur Putri Setyawati, 24, warga Bulu Lor Kota Semarang.

Menurutnya, kopi instan lebih praktis saat diseduh, lebih banyak variasi rasa, tanpa ampas, mudah didapat, dan rasanya juga nikmat karena ada campuran lain seperti susu, cokelat, krim dan lainnya. Dari segi harga, kopi sachet juga lebih murah dibanding beli biji kopi sendiri.

Raka Setyo Prakoso, 19 menyukai kopi Cappuccino. Menurutnya Cappuccino perpaduan yang pas. Ada pahitnya kopi sedikit-sedikit. Ada rasa susunya juga. Kalau sedang di warung kopi ia mengaku selalu memesan kopi tersebut. “Kalau kebetulan pas nggak ada paling ganti cofeemix mas,” ucapnya.

Ia lebih suka kopi cappuccino dicampur dengan es batu daripada yang diseduh hangat. Kalau sedang hujan saja ia memilih untuk membuat versi hangat. Kalau sedang berkumpul dengan teman-temannya terkadang yang disuguhkan kopi hitam. Raka tetap mau meminumnya namun tidak bisa banyak. “Sehari satu cangkir saja kalau kopi hitam mas. Labih dari itu susah tidur,” jelasnya.

Baca juga:  Kopi Batang Incar Pasar Nasional

Raka bisa dalam sehari menghabiskan dua gelas besar kopi. Kalaupun sehari tidak ngopi ia juga tidak merasakan efek apapun. Kalau dua hari baru terasa sedikit ada yang beda kalau tidak minum kopi.

Handika Koni, 24, juga lebih menyukai kopi instan. Itu karena ada bahan pelengkap seperti susu dan gula. Selain itu, cara penyeduhannya pun sangat mudah. Serta tidak menyisakan ampas. “Tinggal buka bungkusnya, tuang ke gelas, masukkan air panas, aduk, dan selesai. Ada manis-manisnya juga karena tercampur gula,” jelasnya dengan ramah.

Kendati begitu, Handika tidak menampik jika kopi tubruk juga enak. Aroma murninya membuat ia jatuh cinta dengan kopi. Tapi setiap orang punya genrenya sendiri. Karena setiap jenis kopi juga memiliki kenikmatan masing-masing. “Ya semua tergantung pribadi masing-masing. Kan gak bisa disamakan harus suka kopi sachet atau kopi tubruk,” tambahnya. (cr5/cr7/cr8/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya