alexametrics

Kopi Batang Incar Pasar Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Batang – Kabupaten Batang targetkan swasembada kopi lokal pada 2023. Produktivitas kopi dari petani pun terus ditingkatkan. Para pegiat kopi juga tak segan memberikan berbagai pendampingan langsung pada para petani.

Rifani Zuniyanto, 36, owner Batang Coffee menjelaskan, untuk mencapai swasembada, pihaknya memiliki dua zonasi. Yaitu zona produksi dan zona bibit. “Kami menargetkan 2023 Batang swasembada kopi. Kopi Batang bisa dinikmati orang Batang sendiri,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di gudang Koperasi Batang Coffee.

Komunitas Batang Coffee beranggotakan pegiat kopi dari hulu sampai hilir. Mulai petani, sampai penyeduh kopi. Menurutnya, masyarakat Batang belum semuanya mengetahui kopi lokal.

Padahal saat ini pihaknya mengakui telah kelebihan produksi. Sembari mengenalkan kopi lokal ke masyarakatnya sendiri, pihaknya juga mengincar pasar nasional. Hal itu karena kelebihan produksi.

Baca juga:  Pemkab Buka 887 Formasi PPPK

Swasembada kopi itu menargetkan adanya konsumsi yang tinggi dari warga Kabupaten Batang. Orang Batang ngopinya harus produk kopi Batang. Produksi kopi Batang sendiri saat ini lebih dari 1 ribu ton per tahun atau sekali panen. Jenisnya robusta dan arabika.

Panen kopi biasanya pada April hingga September. Produktivitas tanaman kopi pun terus digenjot karena dirasa kurang maksimal, dalam 1 hektare lahan hanya bisa menghasilkan 1,6 ton biji kopi. Sementara targetnya adalah 2 ton per hektare.

“Kami terus melakukan peningkatan produksi, walaupun tahun ini panennya sudah terbilang tinggi. Pendampingan ke petani penting dilakukan, karena kebanyakan petani kurang bisa merawat. Kopi lokal sudah sangat mencukupi untuk pasar lokal. Saat ini kebanyakan kopi Batang dipasarkan ke Temanggung. Namun disebutnya kopi Temanggung,” terangnya.

Baca juga:  Sensasi Nyeruput Kopi di Desa Tertinggi Jawa Tengah

Ia menjelaskan, peranan petani tidak kalah penting untuk menghasilkan kopi berkualitas. Proses dari pertanian sampai pasca panen akan sangat mempengaruhi rasa. Rohim, 54, salah satu penyuluh swadaya di Kecamatan Bawang mengatakan bahwa sejak 2012 dirinya menggenjot produksi kopi lokal.

Warga Desa Surjo, Kecamatan Bawang itu telah mendampingi sekitar 3 ribu petani kopi baik di Kecamatan Bawang maupun di Kabupaten Batang. Ia memperkenalkan bibit yang dikembangkannya sendiri. Produktivitasnya mencapai 10 kilogram untuk satu pohon, bahkan ada yang mencapai 12 kilogram.

“Saya pulang dari perantauan itu pengen mengubah petani-petani kecil di Kabupaten Batang. Alhamdulillah dari tahun 2012 saya ambil bibit dari Lampung. Kemudian saya kembangkan sendiri bibitnya hingga jadi bibit berkualitas,” terangnya.

Rohim menjelaskan jika pasokan bibit di Kecamatan Bawang berasal dari dirinya semua. Total lahan kopi di Bawang ada sekitar 50 hektare. Bibit itu dinamakan bakil ijo dan bakil kuning. Pengetahuannya akan budidaya kopi didapatnya saat bekerja di Lampung sejak tahun 1987. “Saya berharap, Kabupaten Batang punya ikon di bidang kopi. Kopi jadi salah satu ikon Kabupaten Batang,” kata Rohim.

Baca juga:  Kopi Ada di Mana-Mana, dari Pos Ronda hingga Kafe Mewah

Selain itu, Wasturi, 51, petani kopi di Desa Bawang, Kecamatan Blado menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan ekspor hingga ke Belanda. Kopi lokal di sana disebut kopi Curug Genting.

Mereka harus memenuhi kebutuhan ekspor hingga 1 ton per tahun. Namun pada tahun pertama hanya diberi target 600 kilogram, dan hanya sanggup memenuhi 350 kilogram. “Tanaman kopi di sini sisa Belanda, kebetulan kemarin produksi kopi kami lolos sertifikasi dari Belanda. Sehingga bisa ekspor ke sana,” tandasnya. (yan/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya