alexametrics

Citarasa Java Arabica Sindoro, Kopi Beraroma Tembakau

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Petani kopi di lereng Gunung Sindoro-Sumbing mengembangkan pola tanam kopi unik yang dikenal dengan Pola Tlahab.  Yaitu sistem tanam tumpangsari dengan model diversifikasi tanaman antara tembakau dan kopi arabika. Pola ini menyebabkan kopi memiliki aroma dan citarasa tembakau yang khas. Para pencinta kopi menyebutnya dengan Java Arabica Sindoro.

Tumbuhan kopi sengaja ditanam selang-seling dengan tembakau dan aneka komoditas lain seperti jagung, cabai, ubi, kacang, bawang dan sayuran lainnya.

Gagasan Pola Tlahab pertama kali dicetuskan mantan Bupati Temanggung Hasyim Afandi pada 2010 untuk mengantisipasi risiko kegagalan panen tembakau yang sering dialami petani akibat cuaca yang tidak menentu. Ketika itu dikembangkan pola tlahab di lahan percontohan milik pemda seluas 0,4 hektare di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, maka kemudian dikenal dengan sebutan pola Tlahab.

Selain untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, pola Tlahab dengan sistem tumpang sari ini dinilai bermanfaat untuk mengkonservasi lahan pertanian dan sumber air di lereng gunung pada kemiringan rata-rata 70 derajat, dengan tanaman kopi.

Pertumbuhan kopi di Desa Tlahab hingga bisa menjadi seterkenal saat ini memiliki cerita yang panjang. Pada awalnya, lahan pertanian di lereng Sindoro-Sumbing hanya diisi dengan komoditas tembakau dan jagung serta aneka sayuran lain. Pada saat itu masyarakat masih asing dengan tanaman kopi.

Baca juga:  Dari Total 35 Kabupaten dan Kota di Jateng, 29 Daerah Memiliki Perkebunan Kopi

Baru kemudian di 2000, Desa Tlahab mendapatkan 50.000 bibit kopi gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Usaha Tani Partisipatif. Bantuan tersebut disusul dengan kembali digelontorkannya bantuan 150.000 bibit kopi arabika pada 2001.

Namun, banyak petani yang enggan dan tidak tertarik mengikuti program itu. Bahkan, bibit kopi yang diberikan dibuang begitu saja. Sehingga sedikit sekali petani yang mulai menanam kopi dan berpartisipasi dalam program tersebut.

Salah satunya Tohar, yang saat ini menjadi Ketua Kelompok Tani Daya Sindoro di Desa Tlahab. Pada saat itu ia mengaku hanya berspekulasi atau iseng-iseng menanam kopi. Bahkan, untuk jenis kopi apa yang dia tanam, ia tidak tahu menahu. “Pokok e sing penting nandur, lha wong bibit e yo gratis,” begitu kata Tohar.

Baca juga:  Perbakin Gelar Kejuaraan Menembak Pertama di Batang

Ternyata, tiga tahun berselang (2003) pohon kopi tersebut menghasilkan buah yang luar biasa melimpah. Hal itu lantas memunculkan keinginan petani lain untuk mulai menanam kopi. Sehingga tanaman kopi berkembang secara luas dan pesat. Bahkan, sudah menjadi komoditas unggulan nomor dua setelah tembakau.

Tohar mengatakan, pola Tlahab merupakan penggabungan dari konservasi, diversifikasi dan usaha tani. Bagi dirinya pribadi, menanam kopi di areal pertanian tembakau itu sama dengan ibadah. Sifat tumbuhan kopi yang dapat menyimpan air sangat baik dalam mengatasi masalah erosi saat musim penghujan di lereng Sindoro-Sumbing yang kemiringannya sampai 70 derajat.

Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, juga dapat menyimpan cadangan air sehingga sumber mata air masih tetap hidup dan mengalir. “Ibadahnya ada di situ, jadi saat menanam kopi, selain untuk usaha pribadi juga diniatkan untuk kepentingan orang banyak. Tapi juga untuk kebaikan sesama dan lingkungan sekitar,” terangnya.

Dengan sistem tumpangsari dan citarasa khas yang dihasilkan, tak ayal Kopi Tlahab sudah beberapa kali menyabut penghargaan. Di antaranya juara III dalam Kontes Kopi Speciality Indonesia tingkat nasional untuk kategori kopi arabika pada 2014. Juga sudah dipamerkan dalam pameran Speciality Coffee Association of America di Atlanta, Amerika Serikat pada 2016 silam.

Baca juga:  Tak Begitu Strong Seperti Kopi Sumatera, Kopi Batang Mulai Curi Perhatian

Kopi Tlahab sudah dikenal luas dan dipasarkan bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. “Jadi uniknya kopi Temanggung itu kan ada aroma dan rasa tembakau yang muncul, kalau tidak ada aroma tembakau berarti bukan kopi Temanggung. Makanya tagline Temanggung disebut sebagai Kopi Negeri Tembakau,” ungkapnya.

Ketika disinggung perkembangan kopi ke depan. Tohar dengan mantap mengatakan perkembangan kopi ke depan akan semakin menjanjikan. Meski komoditas utama di Kabupaten Temanggung masih diisi oleh tembakau, ia berkeyakinan akan datang suatu masa di mana komoditas kopi sejajar dengan tembakau.

“Petani tembakau itu sekarang sudah dimonopoli masalah harga. Pada umumnya orang yang punya harga, punya nilai tawar. Tapi kalau tembakau itu kan harga malah yang beli yang menentukan, bukan yang jual. Jadi ke depan saya pikir akan banyak yang beralih ke tanaman kopi,” tandasnya. (nan/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya