alexametrics

Mengenal Keunikan Jawa melalui Pasar Kumandang.

Artikel Lain

WONOSOBO – Ada hal yang tak biasa saat wisatawan datang mengunjungi Pasar Kumandang. Pasar ini lain dengan identitas pasar yang selama ini dipahami masyarakat Indonesia. Justru karena pasar ini berbeda, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke tempat ini.

TRADISIONAL : Anak-anak bermain di Pasar Kumandang Wonosobo. (Dok Disparbud Kabupaten Wonosobo)
TRADISIONAL : Anak-anak bermain di Pasar Kumandang Wonosobo. (Dok Disparbud Kabupaten Wonosobo)

Pasar yang satu ini jauh dari kata pengap dan semrawut. Pasar di Desa Bojasari, Kecamatan Kertek ini akan mengingatkan pengunjung tentang pasar-pasar di zaman dulu. Tanpa suara bising kendaraan, yang hadir hanya suara manusia saling bersahut dalam bertransaksi. Atau anak anak yang berlari kecil mengelilingi pasar.

Saat memasuki pelataran Pasar Kumandang, ketenangan akan mudah didapatkan. Sebab, letaknya berada persis di dalam hutan. Ditumbuhi pepohonan yang besar dan rimbun, suasana sejuk dan alami akan terasa saat pengunjung hadir di pasar tersebut. Belum lagi semilir angin membuat para pembeli betah berlama-lama di Pasar Kumandang.

Baca juga:  Cepat Layani Aduan Publik, Ganjar Terima Penghargaan

Menariknya, pengunjung akan dihentikan sebelum sampai di pintu masuk pasar. Mereka akan diminta menukarkan uang rupiahnya. Sebab di sana uang rupiah tidak digunakan sebagai alat transaksi. Namun, hanya kepeng bonggol lah para penjual di area pasar menerimanya.

Para pedagang memakai pakaian adat Jawa. Khas dengan blangkon dan pakaian luriknya serta kemben bagi perempuan. Itu digunakan dari mulai orang dewasa hingga hingga anak desa. Para penjual akan menyapa dengan bahasa Jawa halus atau yang biasa dikenal sebagai Kromo Inggil.

“Pengunjung tidak akan melihat makanan cepat saji di sini. Seperti yang biasa ada di mal atau restoran. Para pedagang hanya menyajikan khusus makanan lokal saja,” terang Lurah Pasar Kumandang, Sigit Prihartono.

Baca juga:  Kejurkab PBSI Cup XXV, Tunas Pamor Bidik Final Anak Putra

Pria yang akrab disapa Tono ini menyebut, Pasar Kumandang ingin merepresentasikan model pasar di masa lampau. Tidak ada bangunan memakai beton. Semua kayu dengan atap menggunakan ijuk serta daun kelapa yang ditata rapi.

Salah satu budayawan yang biasa dipanggil Tono mengatakan bahwa sebenarnya dirinya ingin mengusung kebudayaan jawa kembali. Yang saat ini menurutnya mulai hilang akibat pegeseran budaya. “Anak sekarang lebih akrab dengan sebutan umi dan abi atau papa dan mama daripada ibu dan ayah. Jika kondisi ini terus berlangsung, kelak kita tidak akan mengenal lagi budaya kita,” katanya.

Oleh karena itu, ia menginginkan budaya yang santun, luhur dari masyarakat Jawa tetap terjaga. Pasar Kumandang adalah representasi dari wujud kenangan asyiknya zaman dahulu.

Baca juga:  Naveena Buka Program Jumat Tampan

Terlebih saat ini, Tono tengah mengembangkan Pasar Kumandang dengan istilah baru. Yaitu sebagai kawasan cagar kuliner. Di mana setiap makanan lokal akan menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Tentu dengan bahan bakunya terdapat dari daerahnya sendiri. “Ya, Pasar Kumandang akan kita jadikan sebagai pusat kuliner tradisional yang khas,” terangnya.

Menurutnya, cagar kuliner itu memiliki tiga fungsi. Yaitu fungsi revitalisasi (memperbaiki), konservasi (mempertahankan), dan terakhir sebagai ajang mengeluarkan kreativitas. “Sehingga dari mulai bahan yang kita ambil, produk yang dihasilkan dan teknik pengemasan akan kita kemas sedemikan rupa sehingga berani bersaing dengan makanan dari produk luar. Dan Kumandang, sedang mengarah ke sana,” jelasnya. (adv/git)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya