alexametrics

Mahasiswa FT Unissula Belajar Penanganan Gempa dari Jepang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Fakultas Teknik (FT) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menyelenggarakan kuliah pakar dengan menghadirkan Prof Dr Ir Buntara S Gan di Ruang Program Doktor Teknik Sipil, belum lama ini.
Buntara menyampaikan, pada dasarnya secara geologi antara Indonesia dengan Jepang mempunyai persamaan dalam hal ancaman gempa. Mempunyai pertemuan 4 lempengan, hanya saja Jepang lebih cepat dan berpengalaman dalam hal penanganan gempa.

Secara kuantitas Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara yang sering terjadi gempa. Indonesia juga sebaiknya menggunakan standart anti gempa dari Jepang karena negara ini berpengalaman dalam menangani gempa.

“Gempa bumi bisa terjadi karena pergeseran lempengan bumi atau sisa dari gempa bumi yang dinamakan sesar-sesar atau patahan. Dan patahan sendiri mempunyai potensi menyebabkan gempa,” ungkap Guru Besar dari College of Engineering Departement Architecture Nihon University.

Baca juga:  ATM Beras, Inovasi Memperkuat Ketahanan Pangan Kota Semarang

Masih menurut Buntara, penanganan gempa di Jepang menerapkan teknologi anti gempa atau teknologi peringatan dini gempa melalui smartphone. Jadi setiap terjadi potensi gempa akan di informsikan potensi gempa mulai dari skala 0, 1, 2, hingga 7 sekalipun. “Jadi masyarakat sudah dapat informasi sebelum efek gempa terjadi,” ujarnya.

Dalam hal struktur bangunan saja ada setidaknya tiga jenis bangunan isolasi, kontrol dan perkuatan. Bangunan isolasi menggunakan lapisan plastik di bawah pondasi atau dasar struktur banguanan, sedangkan kontrol menggunakan sistem kontrol berbasis komputasi dalam merespon setiap perubahan getaran, dan yang terakhir adalah perkuatan yang hanya menggunakan pondasi kuat tanpa mempertimbangkan kontrol maupun anti gempa sehingga jenis struktur ini cenderung paling rawan apabila terjadi gempa.

Baca juga:  Kinerja Pembangunan Pemprov Jawa Tengah 2019 Semakin Positif

“Dalam desain dan kontruksi sebuah bangunan kebanyakan menggunakan penelitian berbasis komputasi, sehingga lebih cepat karena dalam membuat struktur bangunan dapat di ukur menggunakan programing baik secara sistem, bahan dan implementasinya,” terangnya. (tri/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya