Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Penanganan Banjir dan Rob Harus Jadi Prioritas

Agus AP • Senin, 30 Januari 2023 | 16:45 WIB
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat meninjau banjir di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, beberapa waktu lalu. (Adennyar Wycaksono/Jawa Pos Radar Semarang)
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat meninjau banjir di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, beberapa waktu lalu. (Adennyar Wycaksono/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Menjabat wali kota Semarang menggantikan Hendrar Prihadi yang diangkat menjadi Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah  (LKPP), Hevearita Gunaryanti Rahayu (Mbak Ita) harus tancap gas untuk mengatasi sejumlah persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Kota Semarang. Terutama penanganan banjir dan rob.

Banjir dan rob ini sudah menjadi persoalan klasik di ibu kota Jawa Tengah. Beberapa upaya yang sudah dilakukan Pemkot Semarang perlu dioptimalkan.

Karena kontur Kota Semarang ada perbukitan dan pesisir, risikonya ketika curah hujan tinggi akan terjadi peningkatan jumlah air. Penyebabnya tidak hanya curah hujan Kota Semarang saja, melainkan  juga daerah lain seperti Kabupaten Semarang.

Menurut Pengamat Lingkungan Benny D. Setianto, alasan gravitasi inilah yang menyebabkan Kota Semarang sering dilanda banjir. Selain itu juga adanya krisis iklim yang menyebabkan peningkatan permukaan air laut. Maka instrusi air laut ke daratan Kota Semarang juga akan semakin lebar dan luas.

“Kalau melihat itu maka mestinya prioritas yang utama untuk banjir. Secara teknogi untuk mengatasi keduanya itu maka fokusnya harus pada drainase,” jelas Benny.

Kota Semarang bisa mencontoh Belanda. Meskipun daratannya berada di bawah permukaan air laut, tapi wilayahnya jarang terendam banjir, karena penanganan drainase yang baik. Penanganan banjir dengan kolam retensi, menurut Benny, perlu diperhitungkan berdasarkan curah hujan.

Misal kolam retensi saat musim kemarau kedalaman air dua meter di bawah permukaan, maka harus ada rentang dua meter ruang hingga sampai ke permukaan tanah. Selain itu juga didukung pompanisasi yang mumpuni. Sehingga air langsung bisa di pompa ke laut.

“Yang namanya kolam retensi itu saat musim kemarau harus kering atau airnya minim. Misal kolam retensi di Stasiun Tawang itu musim kemarau airnya relatif penuh. Kalau hujan deras ya nggak bisa menampung air lagi,” imbuhnya.



Pemkot Semarang juga harus selektif dan memperketat izin pengembang ketika akan mendirikan perumahan. Yang terjadi saat ini para pengembang hanya sekadar membangun deratan rumah lalu membuat selokan untuk membuang air keluar kawasan.

Artinya mereka tidak melakukan pengelolaan kawasan yang baik. Seharusnya pengembang melakukan pengembangan kawasan. Mereka juga harus bertanggung jawab terhadap larinya air dari kawasan tersebut.

“Tidak sekadar airnya bisa digelontorkan (keluar kawasan) sudah selesai. Kalau keluar nanti urusannya Pemkot, nggak bisa seperti itu. Nah ini tata izinnya harus sampai ke sana,” imbuh Dosen yang mengajar di Soegijapranata Catholic University (SCU) ini.

Menurutnya dengan pengembang melakukan pengelolaan kawasan dengan baik. Membangun deretan rumah dan juga kolam retensi untuk pembuangan air. Maka dipastikan Kota Semarang akan menjadi kawasan yang bebas banjir.

Sementara Pengamat Pemerintahan, Teguh Yuwana mengatakan ada dua aspek yang dikira menjadi prioritas Mbak Ita ketika menjabat menjadi wali kota Semarang. Yakni aspek internal pemerintahan dan aspek eksternal.

Internal pemerintahan berupa penguatan birokrasi supaya bergerak lebih cepat. Caranya dengan penguatan soliditas. Sedangkan aspek eksternal, menyangkut Kota Semarang lebih berkembang dibandingkan dengan kota dan kabupaten lain di Jawa Tengah.

“Kalau perlu juga daerah lain atau kota-kota lain di Indonesia. Karena Kota Semarang ini prestasinya nasional bahkan internasional, ini juga sesuatu yang harus dikembangkan secara lebih baik,” ungkap Dosen FISIP Universitas Dipenogero (UNDIP) Semarang ini. (kap/zal) Editor : Agus AP
#Wali Kota Semarang #Mbak ITA #Hevearita Gunaryanti Rahayu