Dulu, tiap kali melewati jalan di depan Markas Yonif Riders 400 Srondol, alam ini terasa indah. Ratusan burung berwarna putih terbang menari-nari di atas pepohonan Asam. Terasa kontras, sebagian burung putih itu bertengger di atas rimbun daun nan hijau sejuk.
Keindahan itu harus dibayar dengan kesabaran. Melewati jalan yang tepat di bawah pohon asam, tidak boleh takut kotor. Sebab, setiap kali mengendarai sepeda motor, hampir bisa dipastikan tertimpa kotoran burung yang berwarna putih juga. Tidak hanya menempel di sepeda motor, tapi juga mengenai helm, baju, bahkan tas. Bahkan jalan aspal di sepanjang jalan tersebut penuh bekas kotoran burung.
Tapi kini, itu semua tinggal kenangan. Padahal burung tersebut sempat menjadi ikon wilayah Srondol. “Saya sudah jarang melihat burung itu bertengger di pohon Asam Srondol. Sudah pindah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPU) Jatibarang dan area pertambakan di daerah pesisir,” tutur Ashadi, 45, warga Karangayu.
Burung blekok yang memiliki nama latin Ardea Intermedia sudah melakukan migrasi. Praktis, burung putih ini menetap dan bersarang di pohon Asam di wilayah Srondol pada sekitar tahun 1980 hingga 2010-an. “Dulu hingga tahun 2014, saya berkantor di Jalan Perintis Kemerdekaan. Hampir setiap hari, pulang pergi melewati Srondol. Kala itu, masih menyaksikan burung putih itu berterbangan dan selalu tertimpa kotoran. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” tutur Ela, warga Semarang Barat.
Menurut pengamatan Dosen Biologi Undip, Karyadi Baskoro burung tersebut perlahan bermigrasi ke pesisir Semarang dan Demak sejak tahun 2010. Ketua Semarang Bird Community (SBC) itu mengungkapkan, sudah sangat langka melihat kuntul perak di area pepohonan depan markas Yonif. Terakhir ia melihat tiga kelompok burung di tahun 2019.
“Mereka bermigrasi karena melihat tempat yang lebih nyaman untuk hidup dan berkembang biak. Karena sejatinya mereka kan burung air,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Memang awal tahun 80-an mereka singgah di kawasan Srondol. Karena saat itu masih banyak lahan air dan persawahan untuk burung tersebut mencari sumber pangan. Namun seiring berjalannya waktu, area sawah mulai berkurang. Urbanisasi terus meningkat. Para blekok mulai kehilangan sumber pangan terdekat.
“Dulu juga pernah 2010 di Srondol berkali lipat lebih ramai dari tahun 1980. Mereka sampai menyebar di rumah warga. Karena saat itu saya amati abrasi terjadi di pesisir, mangrove rusak, habitat mereka hilang, makanya pada ikut koloni yang di sini,” imbuhnya.
Saat habitat asli blekok di pesisir mulai pulih kembali, para koloni ikut bermigrasi ke tempat asalnya. Mereka pindah bukan karena tidak dilindungi. Namun karena menemukan hunian yang lebih nyaman, aman dengan sumber pangan yang terjamin. Berada di pesisir memudahkan kuntul perak menangkap ikan.
Jenis blekok seperti kuntul perak cenderung berkoloni. Mereka menetap di suatu tempat bersama. Lalu pindah juga dengan rombongannya. Hidupnya sangat bergantung dengan air. Sehingga wajar bila mereka bermigrasi ke pesisir. Jumlah kuntul perak pun masih sangat banyak. Mereka masih jauh dari kata punah.
“Mereka sempat dianggap khas Semarang karena ada suatu masa dimana banyak koloni kuntul perak itu tinggal di depan Markas Yonif. Sebenarnya itu tidak wajar untuk burung air,” paparnya.
Jika burung blekok ini kerap berterbangan di atas tumpukan sampah TPA Jatibarang, itu hanya untuk mencari makan saja. “Ini karena di TPA Jatibarang banyak serangga. Itu juga terjadi di hampir semua tempat sampah di semua daerah. Bukan di TPA Jatibarang saja,” ujarnya.
Ia mengakui peristiwa migrasi burung di tengah kota sangatlah unik dan jarang terjadi. Karyadi juga menegaskan berkurangnya jumlah kuntul perak di kawasan tersebut tidak mengindikasikan kepunahan. Karena sejatinya mereka hanya berpindah mencari habitat yang lebih nyaman. “Kalau mau lihat sekarang masih ramai di sekitar TPI Mangunharjo, Jerakah, sampai Sayung, Demak,” ujarnya.
Meski demikian, sebagai upaya konservasi spesies hewan apapun harus dilindungi dan tidak diburu. Selain itu, habitatnya perlu terus dijaga, agar hewan merasa aman dan nyaman untuk menetap. Dengan begitu, mereka dapat terus melanjutkan hidup dan berkembang biak dan menjaga keseimbangan alam. (taf/ida) Editor : Agus AP