Berawal dari pelatihan dari Dinas Perindustrian Kota semarang, keterampilan warga sekarang merambah pada produksi secara besar. Ratusan macam dan jenis tas ditampilkan dengan aneka ragam dan corak.
Produknya meliputi, pouch, tas makeup, dompet, sepatu, tempat penyimpanan sepatu, totebag, tas alat pancing, dan masih banyak lagi. ”Kadang beberapa instansi juga sudah langganan, mereka request nanti kita yang kerjakan. Mereka sering menggunakan untuk seminar, ultah, souvenir, dan bagi reseller yang kemudian dijual lagi,” ujar salah satu pengrajin Erwi Riyanto.
Berada di permukiman padat penduduk, tidak mengurangi semangat mereka untuk terus memproduksi. Deretan rumah produksi sekaligus mesin produksi menjadi satu. Mesin jahit terus beroperasi untuk memenuhi pesanan besar maupun kecil.
Mereka mematok dengan harga murah dan itu merupakan hal yang wajar. Kebanyakan sentra industri dikerjakan oleh pasangan suami istri yang memutuskan untuk berwirausaha. “Saya tidak mengandalkan dari Whatsapp, itu saja Alhamdulillah sudah cukup. Kalau hari-hari biasa bisa dapat pemasukan Rp 5 juta. Kebanyakan reseller yang mengambil kemudian didrop di toko atau pasar,” tutur Tumiyem, salah satu pengrajin.
Sentra Tas Kampung Leduwi Kelurahan Sarirejo menjadi simbol pergerakan ekonomi yang potensial. Selain meningkatkan kesejahteraan warga, prinsip mandiri dan terus berinovasi adalah hal yang sudah sepantasnya diapresiasi.
Lurah Sarirejo Ismadi menjelaskan, produk dari Leduwi sudah masuk di kancah internasional. Pemesan biasanya membeli produk dalam partai besar. “Tas-tas itu sudah sampai di seluruh Indonesia, juga di mancanegara. Produksinya dilakukan langsung di Kampung Leduwi ini. Warga juga sudah mempunyai langganan masing-masing, baik di offline maupun online,” ujar Ismadi. (avi/ton) Editor : Agus AP