Kadar gula yang tinggi dalam beras, berbahaya bagi penderita diabetes karena memiliki kadar gula yang tinggi. Hal inilah yang mambuat Abdul Wahid, mahasiswa semester akhir program studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Informatika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) membuat beras analog yang rendah gula dengan memanfaatkan jagung dan umbi suweg yang merupakan tanaman hama.
ADENNYAR WYCAKSONO, RADARSEMARANG.ID
PULUHAN hasil penelitian dari mahasiswa Upgris dipamerkan dalam acara lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) Expo UPGRIS, Jumat (25/10) di Kampus 4, Jalan Gajah Raya Semarang. Aneka temuan dari mahasiswa, tampak dipamerkan, mulai dari aplikasi, hingga teknologi tepat guna yang bergerak atau konsentrasi dalam bidang pangan. “Inspirasinya dari bahan pangan yang ada di Indonesia, namun belum dimakasimalkan,” kata Abdul Wahid kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Wahid yang merupakan mahasiswa tingkat akhir berhasil membuat sebuah beras yang diberi nama beras analog. Beras ini menggunakan bahan dari jagung dan umbi suweg (amorphophallus paeoniifoliu) yang dianggap sebagai tanaman hama oleh masyarakat.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan para ahli, ternyata suweg mempunyai gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, kalsium, vitamin C, fosfor, vitamin B1, dan zat besi. Juga beberapa senyawa berupa flavonoida, polifenol dan saponin. “Namun tanaman ini belum dimaksimalkan sebagai pengganti beras,” kata Wahid.
Dikatakan, beras analog sendiri adalah sebuah beras buatan yang fungsinya bisa meningkatkan diversifikasi pangan lokal. Sumber pangan, lanjut dia, di Indonesia sangatlah melimpah. Ada jagung, bahkan umbi-umbian yang bisa dijadikan bahan pangan selain beras.
“Umbi dan jagung jarang digunakan sebagai bahan pangan, padahal potensinya sangat besar dan bisa menjadi pengganti ketika beras habis. Untuk itu, saya buat beras analog, namun dengan bahan jagung dan umbi suweg,” ucapnya.
Ia menerangkan, pembuatan beras analog sangatlah sederhana. Umbi suweg dan jagung, pertama-tama dibuat menjadi tepung. Kedua bahan yang telah dijadikan tepung ini kemudian dicampur menjadi satu dan diberi air secukupnya lalu dikukus serta dicetak menggunakan alat yang hasilnya bisa seperti beras. Setelah itu, beras analog yang setengah basah ini lalu dikeringkan, agar kadar airnya berkurang. “Tujuan dikeringkan adalah beras bisa bertahan lama. Hasil beras analog ini ketika diteliti punya kelebihan rendah gula tidak seperti baras pada umumnya, dan tinggi serat,”jelasnya.
Karena rendah akan gula, menurutnya, beras analog ini aman dikonsumsi untuk penderita diabetes. Wahid mengaku, proses penelitian yang dilakukan selama kurang lebih tiga bulan, dan masih terus dikembangkan agar beras analog bisa diproduksi secara masal. “Paling susah ya saat nyampur bahannya, nggak boleh terlalu encer dan terlalu kental. Dulu sempat trial and error, sampai akhirnya penelitian selama tiga bulan ini bisa sempurna seperti sekarang,” bebernya.
Menurut Wahid, beras dengan rendah gula ini bisa saja menyasar pasar menengah ke bawah. Ke depan, ia akan mencoba memroduksi beras analog dengan skala yang lebih besar untuk dipasarkan secara luas, mulai dari masuk pasar online hingga supermarket. “Kendala ya dalam pemasaran, Mas. Sama masih rendahnya masyarakat mengonsumsi makanan selain nasi,” ujarnya.
Rektor UPGRIS Muhdi mengaku, jika pihak kampus sengaja mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat. “Saat ini mulai berkembang, di mana mahasiswa dan kampus coba mengembangkan sebuah riset sesuai arahan Presiden Jokowi dan Pak Gubernur Ganjar Pranowo untuk mengembangkan teknologi tepat guna, salah satunya pangan,” katanya.
Meski sederhana, lanjut dia, beras analog adalah sebuah produk yang mampu menghasilkan varian baru dalam bidang pangan selain beras asli. Bahkan, menurut orang nomor satu di Upgris ini, pasar ekonomi kreatif akan terbuka lebar bagi mahasiswa yang mampu berkreasi. “Contohnya mengolah berbagai sumber daya alam untuk menggantikan fungsi beras, sehingga stock pangan bisa terjaga,” ujarnya. (*/aro) Editor : Agus AP