Fajar Khawatirkan Budaya Mremo

394
CEK HARGA : Menjelang lebaran, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto melakukan pantauan harga kebutuhan bahan pokok di dua lokasi yakni di Pasar Bulu dan Giant Swalayan, Jumat (8/6). Pantuan harga tersebut untuk mengendalikan kenaikan harga agar tidak terlampau tinggi. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CEK HARGA : Menjelang lebaran, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto melakukan pantauan harga kebutuhan bahan pokok di dua lokasi yakni di Pasar Bulu dan Giant Swalayan, Jumat (8/6). Pantuan harga tersebut untuk mengendalikan kenaikan harga agar tidak terlampau tinggi. (ADITYO DWI RIANTOTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Harga daging sapi bakalan naik jelang Lebaran 2018 mendatang, seiring tingginya permintaan. Prediksi kenaikan berkisar Rp 5 ribu. Harga daging sapi lokal di Kota Semarang saat ini berkisar antara Rp 105 ribu sampai Rp 110 ribu perkilogram. Sejak awal Ramadan hingga saat ini, harga tersebut tidak mengalami kenaikan atau cenderung stabil.

Kondisi tersebut berdasarkan pantauan yang dilakukan Dinas Perdagangan Badan Ketahanan Pangan Pemkot Semarang dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB-POM) Semarang di Pasar Bulu Semarang, Jumat (8/6).

Menurut salah satu pedagang daging sapi di Pasar Bulu, Jumiati, meski saat ini harga daging stabil, jelang Lebaran tetap ada kenaikan daging. “Meski stok daging tidak ada kendala, tetapi sudah menjadi kebiasaan pedagang untuk mremo atau menaikan harga jelang Lebaran,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto menyebutkan meski kenaikan masih wajar atau sekitar 5 persen dari harga semula. Namun demikian, ia mengkhawatirkan budaya mremo pedagang di pasar tradisional. Sebab hal itu akan ditinggalkan pembeli.

“Harga daging sapi di pasar modern atau swalayan, jauh lebih stabil dan murah dibanding harga di pasar tradisional. Adapun harga daging di beberapa swalayan hanya sekitar Rp 80 ribu – Rp 93 ribu per kilogram,” tandasnya.

Fajar mengatakan adanya selisih harga antara swalayan dan pasar tradisional semakin mematikan pedagang pasar tradisional. Dia berharap, pedagang dapat melihat persaingan dagang secara sehat. “Apalagi saat ini tidak ada stok sembako yang langka,” katanya. (zal/ida)