Majukan Pariwisata, Jateng – Yogyakarta Harus Bersinergi

248
SILATURAHMI: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Minggu (14/7/2019) menyambangi acara syukuran Dulur Ganjar di RM Joglo Krajan, Magelang Selatan, Kota Magelang dengan mengendarai sepeda motor (Agus Hadianto/radarsemarang.id)

RADARSEMARANG.ID,MAGELANG – Sektor pariwisata di Jawa Tengah yang terus dikembangkan, perlu bekerja sama secara intens dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini menyusul dengan adanya New Yogyakarta International Airport yang semakin membuka peluang penguatan jalinan itu.

“Saya keliling Magelang ternyata bagus banget. Sekarang tugasnya bagaimana mengembangkan pariwisata syaratnya adalah promosi dan interconections antar-destinasi pariwisata,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina dan Ketua Dulur Ganjar Kota Magelang Hery Prawoto Minggu (14/7/2019) di sela-sela acara syukuran Dulur Ganjar di RM Joglo Krajan, Magelang Selatan, Kota Magelang.

Ganjar menyyebutkan, kawasan wisata Borobudur selama ini telah berada di bawah pengelolaan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1980 tentang Penyertaan Modal Negara RI untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Prabu Boko, termasuk di dalamnya Candi Mendut dan Pawon. Hal ini, menurut Ganjar, telah menunjukkan pengelolaan pariwisata dua provinsi sekaligus, yakni Pemprov Jateng dan Yogyakarta.

Dia mengaku telah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo mengenai 12 program unggulan Jawa Tengah, dan salah satu yang diminta langsung pengembangannya adalah sektor pariwisata. Kawasan Borobudur, menurut Ganjar, bisa lebih ditata sebagai kawasan magnet pariwisata.

“Borobudur merupakan satu dari tiga program yang diterima Presiden sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 7 persen pada tahun depan,” bebernya.

Ganjar menuturkan, pihaknya berencana untuk membuat Magelang dan sekitarnya menjadi satelit pariwisata yang pengelolaannya tidak dilakukan tiap-tiap daerah, tetapi dengan proses kerja sama antar-daerah. Dirinya juga merasa terdorong, ketika Presiden Jokowi justru menspesialisasikan soal Borobudur.

“Pengelolaan pariwisata nggak boleh per wilayah, tapi harus bareng-bareng, ada Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Purworejo, Temanggung, yang wilayah Jogja ada Kulonprogo semua harus nyengkuyung. Kami sudah bahas sampai detail dengan Pemprov DI Jogjakarta dan sekarang tinggal eksekusi,” jelasnya.

Ganjar memastikan, mengenai permasalahan promosi kawasan pariwisata di Jawa Tengah, pemerintah berencana untuk mengadakan even spektakuler di Magelang. Pihaknya, mengaku tertarik dengan even-even raksasa yang biasanya hanya digelar di Jakarta saja. Selain gelaran spektakuler, Ganjar menyebut dirinya tertantang untuk menggelar kegiatan olahraga berskala internasional, seperti Borbudur Marathon. Terlebih, kegiatan itu kini telah ditetapkan dunia sebagai even olahraga terakbar nomor dua di dunia.

“Terpikir oleh kami supaya menggelar even besar di Magelang. Seperti konser Westlife di Indonesia, kalau bisa diadakan di Jawa Tengah, Magelang. Ini promosi yang tepat dan harus dilakukan. Untuk Borobudur Marathon, kita dorong supaya besok bisa mendapatkan rangking satu, seperti Boston Marathon, dan lainnya,” tegasnya.

Ganjar membeberkan, dengan adanya event-event berskala internasional tersebut, maka langkah lainnya adalah kenyamanan wisatawan. Segala fasilitas, menurut Ganjar, harus lengkap, termasuk masalah transportasi. Bagi Ganjar, Magelang punya keunggulan lain, yakni tidak hanya destinasi wisata namun juga kultur budayanya.

“Borobudur jelas sebagai wisata religi, candi-candi yang lain, gereja ayam. Kemudian Kota Magelang juga ada Gunung Tidar. Sangat plularis Jawa Tengah ini, karena semua ada di sini,” pungkasnya (had/lis)