James Harden Adalah Pemenang Sekaligus Pecundang dalam Trade Ini

94

JawaPos.com-Saya menyangka, saat sang maestro Adrian Wojnarowski nge-tweet soal kegagalan Marcus Morris ke San Antonio Spurs, galaksi perpindahan para megabintang NBA pekan ini sudah redup. Dengan penuh kenikmatan, kita semua akan memasuki Jumat pagi yang tenang, nyaman, dan tenteram.

Pikiran juga lebih senggang. Hati bisa beristirahat. Sebab, kehebohan-kehebohan yang bikin sesak nafas tim, pemain, pelatih, penggemar, dan tentu saja para jurnalis olahraga di seluruh dunia sudah tamat. Setidaknya sampai akhir pekan ini lah.

Ketika bahan kicauan Woj cuma sekelas Morris yang dipastikan ke New York Knicks, artinya dia telah kehabisan konten sensasional. Alhamdulillah. Puji Tuhan.

Tetapi ternyata itu semua palsu! Wartawan senior ESPN itu tiba-tiba menjatuhkan bom atom blockbuster: Russell Westbrook ditrade dengan Chris Paul!

Mampus!

Westbrook, superstar utama, sang ikon, dan wajah terpenting Oklahoma City Thunder dalam satu dekade terakhir, dikirim ke Houston Rockets. Menurut Woj, Westbrook ditukar dengan Paul plus dua pilihan pada ronde pertama NBA Draft 2024 dan 2026.

’’Kami sangat bersemangat mendapatkan Russell Westbrook,’’ kata pemilik Rockets Tilman Fertitta kepada televisi Houston Fox 26. ’’Saya sempat melihatnya bermain di Oklahoma City. Dia luar biasa atletis,’’ tambah sang juragan properti, restoran, dan kasino itu.

Fertitta tentu paham bahwa langkah timnya ini gila. Tepatnya, Wilayah Barat sudah gila. Kevin Durant memang pindah ke Timur meninggalkan Golden State Warriors menuju Brooklyn Nets. Namun, itu semua fatamorgana.

Karena Barat malah kedatangan pemain terbaik NBA saat ini Kawhi Leonard yang memilih pulang kampung ke Los Angeles. Bukan demi Lakers, tetap berlabuh ke Clippers.

Keputusan Leonard itu bikin jutaan orang tidak habis pikir. Ternyata sebuah cincin juara dan rengekan fans Toronto Raptors yang sedang sayang-sayangnya, tak bisa menahan Leonard untuk tinggal lebih lama di Kanada. Yang juga bikin orang terperanjat, peluang besar untuk membentuk superteam bersama LeBron James dan Anthony Davis di Lakers, sama sekali tak membuatnya tergoda.

Leonard malah mengajak superstar lain, Paul George, untuk membangun hal besar dalam tim yang sepanjang sejarah, terus-menerus berada dalam bayang-bayang kebesaran tetangganya.

Bergabungnya George ke Clippers ini juga bikin takjub. Dia memang orang asli California. Namun, sebelum pamitan kepada Westbrook dan Thunder, tak ada satupun isu, desas-desus, kabar burung, gosip, atau apapun namanya, yang mengabarkan bahwa George bakal pergi dari Oklahoma.

Tampaknya, tim-tim wilayah Barat sudah sangat geram untuk segera menggulung dominasi Golden State Warrios. Kebetulan Durant sudah pergi. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuk mengambil alih kekuasaan.

Berkali-kali General Manager Houston Rockets Daryl Morey mengatakan sudah sangat penasaran untuk menghentikan dominasi Warriors. Bagi orang yang lebih percaya pada kekuatan bintang ketimbang chemistry seperti Morey, lima tahun beruntun melihat Warriors melenggang ke final NBA adalah tontonan yang menyebalkan.

Berkali-kali mencoba dan terus gagal, membuat rasa penasaran makin memuncak. Belakangan, ambisi itu makin mengental. Bukan semata Durant terbang ke Timur. Namun karena Kawhi Leonard kembali ke Barat.

Siapapun gampang menebak bahwa menggantikan Chris Paul dengan Westbrook adalah langkah Rockets untuk meng-upgrade barisan backcourtnya. Dari seorang point guard klasik menjadi bintang yang lebih muda, bertenaga, atletis, eksplosif, dan tentu saja mematikan.

Bagi Westbrook, perpindahan ini juga menguntungkan. Pertama, dia terbebas dari tim small market yang tak punya peluang juara musim ini. Dia juga terhindar dari kepergian ke Selatan menuju Miami, bermain untuk tim yang sejauh ini tak punya masa depan.

Kedua, Westbrook akan menjalani reuni asyik dengan mantan rekan setimnya selama tiga musim di Thunder, James Harden.

Dan ketika dua mantan MVP bergabung dan didukung oleh talenta-talenta solid pada diri Clint Capela, Eric Gordon, dan PJ Tucker, maka saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada fans tim-tim Barat. Selamat bertarung melawan mereka. Selamat tersiksa. Malam demi malam.

Sebab, selain menghadapi Westbrook-Harden, mereka juga akan berduel dengan tim-tim macam Lakers dan Clippers. Juga melawan Warriors, tim yang meskipun masih sangat kecewa, tetap memiliki talenta-talenta kelas dunia pada diri Stephen Curry, Klay Thompson, Draymond Green. Pengganti Durant juga sangat lumayan. Seorang bintang utama Brooklyn Nets musim lalu dan All-Star 2019, D’Angelo Russell.

Inilah waktu terbaik bagi Westbrook untuk kembali memeluk harapan, memburu trofi Larry O’Brien yang seharusnya bisa dia didapatkan pada 2016.

Empat musim lalu, hati Westbrook memang sangat remuk. Tidak cuma sekali, tetapi dua kali.

Selain keok di final Wilayah Barat meski sudah unggul 3-1, partner terbaiknya, Kevin Durant juga memilih mendarat ke tim yang mengalahkan mereka, Golden State Warriors.

Hati Westbrook makin pahit dan sesak karena Durant berhasil meraih dua cincin juara plus bonus dua MVP Finals dalam tempo tiga musim saja. Sedangkan dirinya, walau sudah banting tulang selama sebelas musim, toh pada akhirnya hanya mampu menangkap angan-angan.

Saya sangat tidak sabar melihat komposisi permainan Rockets. Bagaimana cara mereka menyatukan dua pemain berego besar dengan posisi nyaris serupa pada diri Harden dan Westbrook.

Maukah Harden berbagi bola dengan Westbrook?

Maukah Westbrook mengurangi mid range jumpernya? 

Maukah Harden dan Westbrook memangkas ambisi untuk terus-menerus menghajar ring lawan dalam kondisi apapun?

Senjata utama Harden untuk mencetak angka selama ini selalu menganiaya lawan dengan jab step dan stepback-nya yang sangat efisien. Harden yang selalu memakai isolation play, memang membuat permainan Rockets sangat lambat. Tapi berbahaya.

Siasat andalan Harden lainnya adalah bergerak untuk mengkreasi foul di depan garis tembakan tiga angka lawan. Gaya yang sangat jenius, juga efektif. Tetapi jujur saja, bagi saya amat menyebalkan. Maaf, ini soal selera saja.

Dengan adanya Westbrook di sampingnya, apakah Harden masih mempertahankan trik itu? Saya tidak yakin.

Westbrook ya tetap Westbrook. Kalaupun mau bekerja sama dengan Harden, toh dia akan tetap melakukan drive eksplosif ke arah ring dan menarik dua defender lawan untuk menghentikannya.

Secara teori, ruang akan terbuka. Setelah itu, Westbrook akan memberikan bola kepada Harden yang sudah siap melakukan eksekusi tembakan tiga angka.

Pertanyaannya lagi, maukah Harden menanti datangnya bola dan melihat aksi edan Westbrook selama 18 sampai 20 detik sebelum melakukan eksekusi? Sekali lagi, saya tidak yakin.

Jadi, pekerjaan terberat sekarang berada di pundak pelatih Rockets Mike D’Antoni. Dia dituntut untuk mengharmonisasi dua talenta luar biasa itu. D’Antoni harus mampu memaksa Westbrook beradaptasi pada peran baru, peran yang berbeda dari gaya yang sudah dia jalani dengan sangat nyaman selama sebelas tahun terakhir.

Kalau D’Antoni bisa membuat Westbrook menurunkan egonya, maka Rockets akan menjadi kekuatan yang sangat berbahaya. Tetapi sejatinya secara psikologis, jika Westbrook sudah mau bereuni dengan Harden, artinya dia sudah siap dengan segala resikonya. Westbrook tentu paham bahwa dalam dua musim terakhir, D’Antoni menyulap Harden sebagai seorang point guard ’’murni’’. Dia wajib menyesuaikan dengan keadaan ini.

Namun sebelutnya, di dalam hati, saya tidak peduli-peduli amat bagaimana pembagian peran Westbrook dan Harden di lapangan. Melihat mereka bereuni saja, adalah kemewahan yang mulia.

Dengan reuni Harden dan Westbrook ini, Wilayah Barat tentu aja menjadi medan pertempuran yang sangat berdarah. Jangankan menebak siapa yang menembus final NBA, meraba delapan tim yang lolos ke playoff saja pusingnya minta ampun.

Selain duo Los Angeles, Rockets, dan Warriors, di sana masih berdiri bakat-bakat terdahsyat pada sosok Denver Nuggets, Portland Trail Blazers, atau Utah Jazz. Jangan lupakan pula San Antonio Spurs. Tim yang meski dalam kondisi babak belur sekalipun, masih memiliki tradisi lolos ke playoff. Entah bagaimana caranya.

Nah, di tengah kehebohan dan ketidakpastian di Wilayah Barat, sejatinya ada satu hal yang absolut dan kepastiannya sangat terang-benderang. Sacramento Kings, tetaplah tim ayam sayur. (*)