Dinpersip Salatiga Pamerkan Koleksi Buku Konten Lokal

178

SALATIGA- Kembangkan minat baca dan menulis masyarakat Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dinpersip) Daerah Kota Salatiga adakan pameran buku konten lokal. Sekitar puluhan penulis lokal digandeng dalam pameran tersebut.

Kepala Dinpersip Kota Salatiga Slamet Setyobudi mengatakan ini pameran keempat yang bertujuan untuk meningkatkan baca hingga menulis di Kota Salatiga. Potensi yang masih belum tergali dirasanya masih banyak, terutama milenial. Sehingga adanya pemeran ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa menjadi penulis lokal.

“Ini acara tahunan yang rutin kita lakukan, sudah kali keempat pameran buku lokal kami selenggarakan. Acara ini menjadi wadah para penulis lokal untuk unjuk karya. Dari situ saya ingin para milenial yang memiliki potensi menjadi penulis bisa bergabung dengan kami, “katanya dalam pembuka pameran buku konten lokal yang bertemakan membaca Salatiga Kamis (11/7/2019).

Ia juga menambahkan dengan berpedoman pada UU 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Salah satunya untuk mengembangkan kebudayaan lokal, acara pameran buku konten lokal ini juga bertujuan mengangkat kebudayaan-kebudayaan yang ada di Salatiga.
“Tidak hanya perpustakaan yang menyediakan buku, kami juga ingin menunjukan kepada masyarakat ini lho hasil karya anak lokal Salatiga. Adapun kami juga ingin mengembangkan kebudayaan dengan cara menulis ulang sejarah kota. Tidak bisa dipungkiri buku sejarah Salatiga justru paling laku hingga seluruh Indonesia, “tambahnya.
Pameran yang diselenggaran hingga tanggal 18 Juli 2019 mendatang juga akan diisi dengan berbagai kegiatan lomba, pemutaran film dokumentasi, hingga workshop. Sementara itu salah satu penulis lokal Salatiga Eddy Supangkat sangat mendukung kegiatan tersebut. Ia yang sudah menerbitkan 19 buku berisikan Kota Salatiga.

“Ini kegiatan yang sangat luar biasa terutama untuk saya dan teman-teman penulis lainnya. Seperti kami diberikan penghargaan tersendiri,” curhatnya sambil memegang buku hasil karyanya.
Ia yang memang tertarik menulis kembali sejarah Kota Salatiga mengaku memperlukan kedekatan khusus kepada milenial. Mengingat penikmat bukunya justru sebagian besar para milenial.
“Karena jamannya sudah milenial, sehingga saya harus beradaptasi sering mengamati apa yang sedang disenangi bagaimana bahasa yang mudah dicerna para milenial. Ada satu buku dengan judul Seketsa Kota Lama Salatiga itu dicetak ulang hingga tujuh kali. Nah, dari situ saya harus terus mengembangkan konsep menulis lagi, “jelasnya.
Dari tahun 1999 hingga kini 2019 Eddy tetap konsisten menulis hal yang belum diketahui masyarakat Salatiga sendiri. Hingga akhirnya dirinya diminta oleh Dinpersip untuk selalu memberikan karya terbaik tiap tahunnya untuk Kota Salatiga. (ria/sas)