Perkotaan, Polusi Udara, dan Ancaman Kanker Paru

323

JawaPos.com – Selain asap rokok, asap kendaraan dan polusi udara luar ruangan merupakan faktor risiko pemicu kanker paru. Sekalipun seseorang yang tak merokok atau perokok pasif, harus mewaspadai ancaman ini.

Hal itu tercermin dalam potret Kepala Badan Kepala Pusat Data dan Informasi, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho yang meninggal dunia karena kanker paru. Padahal almarhum adalah perokok pasif.

Pakar Hematologi dan Onkologi Medik Dr. Ronald. A. Hukom, MHSc, Sp.PD, KHOM dari RS Dharmais. Polusi menjadi salah satu faktor risiko sebagai karsinogen atau pemicu kanker.

“Multifaktor. Asap yang khusus secara epidemiologi mungkin sulit dipastikan, tapi polusi secara umum di kota besar lebih tinggi,” tegasnya kepada JawaPos.com, Senin (8/7).

Ilustrasi gejala awal kanker paru ditandai dengan batuk. (VectorStock)

Maka selain memakai masker, masyarakat harus mewaspadai beberapa karsinogen lain yang ada di lingkungan atau du tempat kerja, seperti asbestos, radon, chromium, nickel.

Pemaparan asbes bisa ditemukan di industri pertambangan dan penggilingan, konstruksi dan industri lainnya. Pemaparan pada keluarga pekerja asbes juga bisa terjadi dari partikel yang terbawa ke rumah di dalam pakaian pekerja.

Radon gas radioaktif tidak berbau, tidak berasa, dan tidak kasat mata. Radon bisa terakumulasi di tempat-tempat yang aliran udaranya tidak lancar, misalnya di tambang bawah tanah atau di dalam gedung.

Dan juga cromium adalah logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat. Kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen bangunan maupun pada komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor.

Data Polusi Udara dan Kanker

Data terbaru menyebutkan, situs AirVisual mengumpulkan data polusi udara di sejumlah negara di dunia.
Dari data tersebut didapatkan peringkat negara-negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia. Tingkat polusi dihitung berdasarkan satuan mikrogram per udara meter kubik atau ug/m3. Berdasarkan pemantauan AirVisual, polusi udara di Jakarta tergolong yang terburuk di dunia yang berada pada peringkat 11 dengan tingkat polusi 42,01 ug/m3.

Dalam laman Vital Strategies disebutkan meskipun prevalensi merokok secara global telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, kanker paru tetap menjadi penyebab paling umum kematian akibat kanker. Setidaknya menewaskan sekitar 1,7 juta orang setiap tahun.

Apa saja kandungan zat dalam polusi udara?

Polusi udara biasanya terdiri dari campuran kompleks dari gas dan aerosol (partikel padat dan cair yang tersuspensi), polutan atau olusi partikel juga disebut partikel (PM), yang bermanifestasi sebagai debu, jelaga, kabut asap, atau asap. Materi partikulat halus, juga dikenal sebagai PM2.5, atau partikel kurang dari 2,5 mikron, memiliki dampak terbesar pada kesehatan masyarakat secara global.

PM2.5 dihasilkan langsung dari pembakaran berbagai bahan bakar berbasis karbon. Ini juga sudah dihasilkan dalam reaksi kimia antara polutan yang sudah ada di atmosfer. Knalpot kendaraan, emisi industri, penggunaan bahan bakar padat, dan pembakaran sampah adalah beberapa sumber polusi udara PM2.5 yang paling umum di pusat-pusat kota di seluruh dunia.

Sehingga, risiko seseorang terkena kanker paru-paru akibat merokok tentu saja jauh lebih tinggi daripada risiko tinggal di kota dengan udara yang tercemar. Namun ada 15 persen terjadi pada individu yang tidak pernah merokok.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah
Reporter : Marieska Harya Virdhani