Pemilik dan PK Tolak Penyegelan oleh Satpol PP

210

RADARSEMARANG.ID, DEMAK- Proses penyegelan dan penutupan sejumlah tempat karaoke di Kecamatan Demak Kota dan Kecamatan Wonosalam Rabu (3/7/2019) berlangsung tegang. Pasalnya, petugas Satpol PP dan kepolisian yang hendak menyegel karaoke Dewa Musik (DM) di jalan lingkar selatan sempat dihadang para karyawan dan pemandu karaoke (PK). Mereka meneriakkan penolakan terhadap penutupan tempat mereka bekerja tersebut. “Anakku mangan opo pak. Gawe tuku susu gowo duite sopo pak,”ungkap para pemandu karaoke (PK) yang tampak mengenakan masker penutup mulut dan kacamata hitam.

Pemilik DM, H Muhamad Mukhlis mengungkapkan, sebagai pengusaha karaoke, ia sudah membangun dan mengembangkan kafe dan karaoke selama 8 tahun terakhir. “Sebelumnya sudah ada karaoke maharani, pungky dan lainya. Kita juga menunggu perda hiburannya seperti apa. Kita pun lakukan judicial review dan sampai sekarang belum ada putusan tetap. Apalagi, tanah ini hak milik saya. Jadi, jalankan aturan secara prosedural. Saya ini juga punya anak dan istri serta karyawan banyak. Ada 90 an orang. Mereka juga tulang punggung keluarga masing masing,”katanya dihadapan Kasatpol PP Ridhodin dan Kabagops Kompol Akhmadi.

Mendengar penolakan pemilik karaoke dan karyawan DM itu, petugas Satpol PP dan kepolisian akhirnya melakukan negosisasi. Tak lama kemudian, karaoke DM tetap ditutup dengan segel kertas, kawat dan satpol line. “Karena ada toleransi, sementara ditutup untuk dilakukan evaluasi,”ujar Mukhlis. Sebelum disegel, para pemilik karaoke dan sejumlah karyawan dan PK yang berkumpul ditempat tersebut menjalani tes urine. Meski demikian, hasilnya negatif.

Sebelum menyegel tempat karaoke DM, petugas mengawali menyegel rumah karaoke milik Pujiono yang ada di jalan Pemuda Kota Demak. Kemudian, berlanjut menutup karaoke di Kampung Stasiun serta Karaoke Pantura di jalan lingkar lalu mengarah ke karaoke Monalisa dan beberapa karaoke di Trengguli, Kecamatan Wonosalam. Pemilik karaoke Neta Café, Pujiono mengatakan, ia tidak menerima adanya penutupan dan penyegelan tempat usaha hiburannya tersebut. “Tempat ini sudah tidak digunakan untuk karaoke. Jadi, saat disegel hari ini sudah tidak karaoke. Kita juga lagi melakukan judicial review. Kita juga ajukan gugatan ke PTUN serta gugatan ganti rugi materiil,”katanya.

Karaoke yang dikelolanya sudah ada sejak 2010. Sehari semalam bisa mendapat pemasukan antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Karena ditutup dan tidak ada pemasukan, maka akan dilakukan gugatan materiil tersebut. “Pekerja saya ada 30 an orang. Sedangkan, pemandu karaoke (PK) ada 30 orang juga,”katanya. Pujiono menambahkan, tempat karaoke miliknya sedianya akan dijadikan tempat kos kosan. Tapi, tidak bisa lantaran sudah disegel. “barang barang kita jual. Y sound kita perbaiki termasuk komputer,”kata dia.

Kepala Satpol PP, Muh Ridhodin mengatakan, dalam penyegelan tempat karaoke tersebut, tidak ada barang yang diambil. “Ini untuk penegakan perda Nomor 11 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan usaha hiburan. Setelah kita segel, akan ada supervisi dan pemantauan,”katanya. (hib/sas)