Susy Susanti: Apa Pemain Putri Harus Dikasih Daging Macan Biar Galak?

71

JawaPos.Com-Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti mengakui bahwa tunggal putri adalah sektor yang paling tertinggal dibandingkan empat divisi lain di pelatnas. PP PBSI, tambah Susy juga terus berusaha mengejar ketertinggalan itu.

Hadirnya Rionny Mainaky yang menjadi pelatih kepala tunggal putri diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan prestasi Gregoria Mariska Tunjung dkk.

“Saat ini tunggal putri yang harus ekstra kerja keras, makanya kenapa saya bawel ngomong terus, bukan menganakemaskan tunggal putri, tapi saya mau memacu semangat mereka,” kata Susy dalam siaran pers yang diterima Jawa Pos dari PP Perbasi (24/6).

”Saya bilang ‘saya nggak terima, lho. Kita tuh bisa, bukannya nggak bisa, walaupun cuma satu orang, tapi bisa’. Bagaimana caranya menemukan yang satu orang ini,” imbuhnya.

“Kami berharap di Gregoria, tapi dia masih on-off begitu, kadang bagus, kadang dia kalah dengan dirinya sendiri. Kurang jaga badan, dia harus disiplin sama diri sendiri. Kalau tidak bisa jaga kondisi dampaknya apa? Latihannya kepotong, sudah naik, turun lagi, bagaimana mau ke atas, kalau sudah mulai naik, sakit, nanti sudah naik lagi, sakit lagi, kan susah,” ujar Susy.

Susy juga mengungkapkan beberapa pemain yang sudah memiliki persiapan begitu bagus di latihan, namun tidak bisa mengeluarkan kemampuannya saat bertanding. “Sudah, tidak usah memikirkan apa-apa, nekad dulu di lapangan. Sampai saya bercandain, apa perlu dikasih daging macan ya biar galak? Ha ha ha. Jangan kelemer-kelemer, memang kita ini putri Timur, tapi kalau di lapangan kan bukan putri Timur lagi. Di depan kalian itu musuh, lho, harusnya berpikir, dia atau saya yang mati? Harusnya berpikir seperti perang, kalau kita tidak melawan, ya kita yang akan mati. Itu yang kami terapkan, saya sendiri juga gemas,” tutur Susy.

Hal-hal yang terlihat sepele, tambah Susy adalah hal yang terkadang menentukan karakter pemain. Kebiasaan-kebiasaan pemain yang terlalu pasrah bisa menjadi hambatan di lapangan, membuat si pemain dinilai kurang memiliki daya juang yang lebih.

“Di lapangan itu harus kejar bola ke manapun, mungkin ini sepertinya sepele, tapi kan kebiasaan. Mungkin sudah terbiasa ‘ya sudah lah”. Nggak bisa kayak gitu kan, makanya mindset-nya harus diubah, sikapnya diubah,” ujar peraih emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.

Menurut Susy, perbaikan di tunggal putri masih akan memakan waktu yang tak sebentar. Dari target seratus persen, kini progress tunggal putri masih ada di tingkat 20-30 persen. “Bahkan belum setengahnya. Salah satunya memang kurangnya materi pemain putri, kan bisa dilihat sendiri. Tunggal putri sekarang kalau lagi bagus, lalu sakit, bagus lagi, sakit lagi,” ujar Susy.

“Sambil kami cari, kalau yang atas nggak bisa, ya cari di yang bawahnya. Tapi kan nggak bisa instan, butuh proses. Kami berusaha kerja keras, sampai berpikir terus, bagaimana caranya. Cari pemain yang petarung, bukan yang ‘ya sudah lah’. Menang kalah nggak ada urusan, itu belakangan. Bagaimana dia berani dulu, ngelawan,” pungkas Susy.

Diakui Susy menemukan pemain yang memiliki potensi dan kemauan tidak mudah. Ada pemain yang memiliki potensi, tapi tidak memiliki kemauan. Ada juga yang sebaliknya. Dia menambahkan sudah banyak memberikan masukan, nasihat, dan bimbingan ke atlet, namun kembali lagi, si atlet yang akan menentukan nasibnya sendiri dan menjadi ujung tombak dalam menentukan prestasinya. (*)