Penyelesaian Dzhalilov Sangat Buruk, Persebaya Kembali Gagal Menang

325

JawaPos.Com-Persebaya Surabaya kembali gagal menang dalam pertandingan kompetitif. Sore tadi, Green Force ditahan imbang Madura United dengan skor 1-1 pada leg pertama babak perempat final Piala Indonesia di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Hasil ini membuat Persebaya tak pernah menang dalam enam pertandingan beruntun. Yang menarik, tim terakhir yang mereka kalahkan adalah Madura United pada leg pertama dan kedua semifinal Piala Presiden 2019. Persebaya menang di kandang dan tandang masing-masing dengan skor 1-0 dan 3-2.

Pendukung Persebaya, Bonek, sangat kecewa dengan hasil imbang tersebut. Mereka menyalakan suar dan membakar kembang api. Puncaknya adalah saat beberapa suporter turun ke lapangan sambil mengusung spanduk bertuliskan ‘’Jangan Bikin Malu Surabaya”.  Asisten pelatih dan juga legenda Persebaya Bejo Sugiantoro yang terlihat sangat kecewa. Dia sempat bersitegang dan beradu mulut dengan para suporter. Karena situasi sudah tidak terkendali, wasit memutuskan menghentikan pertandingan saat laga menyisakan 1,5 menit.

Terlepas dari insiden tersebut, pertandingan berjalan dengan sangat menarik dan menghibur. Madura United yang menjalani start luar biasa di Liga 1 2019 dengan menyapu bersih tiga kemenangan, langsung tancap gas pada awal pertandingan. Baru menit ke-2, Madura United sudah bisa mencetak gol lewat sepakan striker asal Serbia Aleksandar Rakic.

Pelatih Madura United Dejan Antonic kembali memakai formasi 4-3-3 dalam pertandingan tadi. Dia memasang line-up yang sama persis ketika timnya membantai Borneo FC, 3-0, dan mengalahkan tuan rumah Barito Putera dengan skor 1-0.

Meski memakai pola 4-3-3, sejatinya Antonic menjalankan mesin Madura United dengan pola 4-2-4 ketika menyerang. Memaksimalkan bintang penyerang yang sangat melimpah, Antonic hanya menyisakan dua gelandang bertahan yakni Zulfiandi dan Asep Berlian di tengah.  Mereka mendapatkan tugas untuk melakukan pressing kepada tiga gelandang Persebaya yakni Misbakus Solikin, M. Hidayat, dan Damian Lizio.

Sementara itu, Rakic dan Beto Goncalves berduet di lini depan. Sedangkan Greg Nwokolo dan Andik Vermansah menjadi winger penusuk yang kerap berganti posisi.

Pada awal pertandingan, pola ini berjalan dengan sempurna. Andik sukses menyiksa Ruben Sanadi dan M. Hidayat yang secara bergantian mengisi ruang di sebelah kiri. Sepuluh menit pertama, Madura United mendominasi total pertandingan.

Persebaya sendiri kembali memakai pola andalan 4-3-3. Pelatih Djadjang Nurdjaman memutuskan menepikan Irfan Jaya dan memainkan Oktavianus Fernando sebagai winger kanan sejak menit pertama. Striker asal Guinea-Bissau Amido Balde juga dipilih sebagai starter.

Setelah mendapatkan tekanan sangat keras, Persebaya baru memiliki peluang pertama melalui tendangan Oktavianus dari dalam kotak penalti pada menit ke-21.

Peluang terbaik Persebaya di babak pertama lahir dalam tempo 11 menit. Manuchekhr Dzhalilov dua kali memiliki kans emas mencetak gol penyama kedudukan masing-masing pada menit ke-27 dan 38. Meskipun posisinya sangat bebas, namun, sepakannya melayang di atas mistar gawang. Sedangkan tandukan Dzhalilov tepat di muka gawang, berhasil ditepis kiper Madura United Muhammad Ridho.

Babak kedua baru berlangsung enam menit, Djadjang yang ingin segera mencetak gol, melakukan pergantian ganda. Osvaldo Haay yang baru sembuh dari luka robek di tangan kanan menggantikan Balde sebagai penyerang tengah. Balde lagi-lagi bermain sangat buruk. Dia gagal menciptakan space untuk diri sendiri maupun untuk timnya. Tidak sekalipun Balde melakukan tembakan mengarah atau tidak mengarah ke gawang. Sementara itu, Irfan mensubstitusi Oktavianus.

Langkah Djadjang berhasil dengan sangat sukses. Lewat kemelut di depan gawang Madura United, Osvaldo mampu mencetak gol penyama kedudukan hanya tiga menit setelah dia masuk ke lapangan.

Setelah itu, Persebaya bermain jauh lebih bagus, lebih cepat, dan lebih taktis dalam mengalirkan bola. Mereka terus menekan Madura United. Terhitung, Dzhalilov mampu menciptakan dua peluang berbahaya. Total, pemain asal Tajikistan itu menciptakan lima peluang bagus. Namun tidak satupun tuntas menjadi gol.

Mendapat tekanan yang sangat konstan, Dejan Antonic melakukan dua pergantian penting di lini depan. Bek kiri tim nasional Indonesia di Piala AFF 2018 Alfath Fathier masuk menggantikan Greg Nwokolo. Antonic juga menarik Beto yang bermain di bawah standar dengan gelandang senior Slamet Nurcahyono.

Dua pergantian ini mampu membuat Madura kembali mendominasi lini tengah. Hasilnya, pada menit ke-81, Andik mendapatkan peluang sangat terbuka. Pemain yang memulai karir profesionalnya bersama Persebaya itu sudah berhadap-hadapan dengan kiper Miswar Saputra. Tetapi tendangannya lemah, tidak akurat, dan akhirnya gampang ditangkap oleh Miswar.

Itulah peluang emas terakhir yang terjadi dalam pertandingan ini. Penonton lantas menginvasi lapangan Stadion Gelora Bung Tomo pada tambahan waktu babak kedua dan memaksa pertandingan berhenti.

Leg kedua perempat final berlangsung di kandang Madura United, Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, pada 27 Juni mendatang.  Namun sebelumnya, pada 23 Juni, Persebaya akan menjalani pertandingan berat di kandang Borneo FC pada matchday keempat Liga 1 2019.

Kalau sampai kalah, posisi, Djadjang Nurdjaman bisa berada di ujung tanduk pemecatan. Tetapi Djanur, begitu dia biasa dipanggil, berusaha untuk bersikap santai. ‘’Selama saya masih belum dipecat, saya akan berusaha membawa Persebaya bangkit,’’ katanya kepada wartawan setelah pertandingan. (*)