Mengenal Metode Sunat Tanpa Harus Takut Jarum Suntik

172

JawaPos.com – Khitan, sunat, atau sirkumsisi adalah sebuah proses atau prosedur membuang kulut prepusium penis atau lebih dikenal kulup. Di Indonesia, sesuai dengan budaya dan tradisi, sunat biasa dilakukan pada anak laki-laki dengan rentan usia tertentu.

Tapi, karena cerita dari teman-temannya atau pengetahuan sendiri, tak jarang anak lelaki merasa khawatir ketika ingin disunat. Alasannya pasti karena sakit. Sehingga orang tua sering kesulitan membujuk agar anaknya mau disunat.

Seiring berkembangnya inovasi medis, kini ada teknologi revolusi sunat tanpa jarum suntik yang membuat anak tak takut lagi. Revolusi itu salah satunya dilakukan oleh Rumah Sunat dr. Mahdian.

Penggagas sekaligus pendiri rumah sunat tersebut, Dokter Spesialis Bedah Saraf dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, mengungkapkan, ada 2 teknik anastesi yang harus dilakukan sebelum melakukan tindakan sunat. Yaitu anestesi infiltrasi dan anestesi block.

Pemberian obat anestesi tanpa jarum menggunakan teknologi needle free injection dengan mengantarkan cairan obat ke dalam lapisan kulit masuk. Khususnya ke dalam jaringan subkutan tanpa penetrasi jarum yang tajam. Teknologi ini mengantarkan cairan obat dengan menggunakan pegas berkecepatan tinggi. Dengan kecepatan tinggi itu dapat menghasilkan pancaran cairan sehingga obat dapat berpenetrasi ke dalam kulit melalui lubang yang sangat kecil.

“Berdasarkan apa yang saya bicarakan pada pasien paling menakutkan itu saat disuntik. Saya juga merasakan dulu saat sakitnya itu disuntiknya. Kalau sudah baal, enggak lagi sakit dijahitnya dan lainnya. Bahkan dulu ada mitos, sebelum disunat itu harus berendam sampai dingin di sungai agar pembuluh darahnya mengecil. Kini ada revolusi teknologi sunat tanpa jarum suntik,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/6).

Suasana sunatan di Rumah Sunat dr. Mahdian tanpa jarum suntik. (dok Web Rumah Sunat dr. Mahdian)

Manfaat Sunat

Menurut dr. Mahdian, berbagai manfaat kesehatan dari proses sunat begitu baik untuk seseorang. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan sunat bisa menurunkan risiko seperti gonore, herpes, kanker serviks, infeksi saluran kemih, penularan infeksi HIV, dan HPV.

“Apa sunat diperlukan, iya. Terlalu banyak riset yang mendukung alasan ini. Selain faktor agama bisa mencegah kanker penis dan kanker serviks. Atau untuk mencegah penyakit lainnya seperti fimosis dan nyeri saat hubungan seksual. Bahkan muslim di negara Tiongkok ada lebih dari 100 juta orang, dan Tiongkok menjadi salah satu negara dengan pria paling banyak melakukan khitan,” ungkap dr. Mahdian.

Lalu, usia berapa seharusnya anak-anak mulai dikhitan?

Persoalan kapan atau usia berapa sebaiknya anak harus disunat adalah tergantung pada budaya di Indonesia. Anak-anak di daerah Jawa Barat biasanya lebih banyak disunat di usia sangat kecil seperti batita dan balita. Sedangkan anak-anak di daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya disunat di usia lebih remaja ketika akan masuk SMP.

Namum sesuai alasan medis, paling terbaik adalah usia 40 hari. Sehingga pembuluh darahnya masih kecil dan meminimalisir proses perdarahan. Sayangnya hal itu jarang dilakukan di Indonesia dengan alasan kekhawatiran orang tua.

“Sunat pada bayi usia di bawah 40 hari paling pas. Tapi ini jarang di Indonesia, karena orang tua ketakutan anaknya masih kecil banget, enggak tega. Khawatir ada apa-apa anaknya gerak-gerak juga. Selain itu budaya agar anak yang disunat diberikan angpau serta merayakan dengan mengundang teman-temannya, membuat sunat lebih banyak dilakukan di usia Sekolah Dasar,” tutupnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani