Michel Platini dan Kehancuran Instan Seorang Raja

237

BAGI rakyat Prancis, Michel Platini di tahun 1984 bukan cuma pemain sepak bola. Dia melebihi manusia biasa. Platini adalah dewa.

Tim Nasional Prancis cukup lama dianggap tidak serius oleh Eropa. Sudah 20 tahun, Les Bleus tidak pernah lolos ke Euro. Oleh karena itulah, ketika Prancis terpilih sebagai tuan rumah pada 1984, tak banyak yang menjagokan mereka menjadi kampiun.

Orang-orang lebih memfavoritkan juara bertahan dan finalis Piala Dunia 1982 Jerman Barat. Lothar Matthaeus dan Rudi Voeller adalah mesin canggih yang bakal menggilas siapapun, penghalang langkah mereka.

Dan ketika Jerman Barat tersungkur di penyisihan grup, Prancis tak terbendung. Sang Ayam Jantan Galia tak terbendung dengan menyapu bersih kemenangan mulai dari babak penyisihan sampai final.

Platini tidak hanya kapten tim. Dia adalah inspirator terbesar bangsa Prancis. Dalam enam pertandingan, Platini yang ketika itu berusia 29 tahun, mencetak sembilan gol. Termasuk dua kali hat-trick di penyisihan, satu gol kemenangan pada perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Portugal di semifinal, dan menceploskan satu dari dua gol yang membekap Spanyol pada partai final.

Bersama Alain Giresse, Jean Tigana, dan Luis Fernandez, Platini membentuk kuartet lini tengah yang tidak hanya luar biasa solid, tetapi juga bermain sangat indah. Publik Prancis menamai barisan gelandang idola mereka dengan nama carre magique. Sebuah kotak ajaib.
Selain membawa Prancis menjadi kampiun Euro, pada tahun yang sama, Platini juga mengantarkan Juventus meraih gelar Serie A dan Piala Winners. Platini melengkapi semua kemegahannya dengan gelar individul paling penting Ballon d’Or.

Penggemar sepak bola yang sekarang berusia 40 tahun ke atas, kemungkinan besar akrab dengan julukan Le Roi. Sebuah julukan yang menggambarkan bahwa pemiliknya adalah raja terbesar sepak bola dunia. Platini tidak hanya pemain dengan skill tinggi, namun juga playmaker yang cepat, serba bisa, elegan, dan sangat jenius. Bonusnya, Platinis merupakan maestro bola-bola mati.

Gagal menjadi pelatih, Platini banting setir menuju jalan administrasi. Dia bergabung dalam organizing committee Piala Dunia 1998 di Prancis. Nama Platini kembali harum. Dia tidak hanya menjadikan kejuaraan tersebut salah satu yang tersukses sepanjang masa, namun juga karena Timnas Prancis menjadi juara dunia untuk kali pertama dalam sejarah.

Karir Platini di deret birokrasi terus merangkak naik saat dia terpilih menjadi anggota komite eksekutif UEFA dan FIFA sejak 2002. Platini mungkin tidak sadar, bahwa sejak saat itulah, dia resmi terjerumus dalam organisasi bobrok yang dilambari dengan bau anyir korupsi.

***

Sore tadi, kabar sangat mengejutkan datang dari Prancis. Platini ditangkap oleh polisi dengan tudingan serius; melakukan korupsi di seputar terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Situs berita Prancis, Mediapart, adalah yang pertama pengabar berita tersebut. Platini dibekuk di Nanterre, wilayah pinggiran sebelah barat Paris. Pihak kepolisian dan komite antikorupsi Prancis (OCLCIFF) belum memberikan keterangan resmi terkait penangkapan Platini. Sumber Mediapart menyebutkan bahwa investigasi sedang berjalan.

Platini terjerat kasus korupsi dengan statusnya sebagai Presiden UEFA. Pada 2007, dia terpilih menjadi orang nomor satu di Federasi Sepak Bola Eropa, mengalahkan incumbent Lennart Johansson dengan selisih empat suara. Platini menjabat sampai 2015. Namun, pada akhir masa kepemimpinannya, Komite Etik FIFA menganggap Platini bersalah karena menerima ’’uang kesetiaan’’ sebesar USD 2 juta (Rp 28, 621 miliar) dari mantan Presiden FIFA Sepp Blatter.
Dari hasil investigasi yang dilakukan pemerintah Swiss, duit tersebut diberikan agar Platini tidak mempermasalahkan apapun tindakan Blatter sebagai Presiden FIFA dalam periode 1999 sampai 2002.

Baik Platini mapupun Blatter dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman pelarangan aktif terlibat dalam sepak bola selama delapan tahun sampai 2023. Belakangan, hukuman untuk Platini dikepras sampai Oktober 2019 atas perintah Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).

Jauh, sebelum penangkapannya kemarin, Platini berkali-kali memicu kontroversi. Namanya pernah masuk dalam Panama Papers, terlibat skandal sepak bola Yunani, dan yang paling terkenal adalah pada momen November 2010, atau sembilan hari sebelum terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Saat itu, mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengundang Putra Mahkota Qatar Tamim bin Hamad al-Thani dalam sebuah makan siang di Elysee Hotel, Paris. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Platini yang punya jabatan dobel, sebagai Presiden UEFA sekaligus wakil presiden FIFA.

Inti pertemuan tersebut adalah pembicaraan mengenai akuisisi Paris Saint-Germain oleh pemerintah Qatar di bawah bendera Qatar Sports Investments (QSI). Namun, sejumlah media Prancis mengabarkan bahwa ada agenda tersembunyi dalam rapat tersebut. Yakni upaya konspirasi untuk menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Platini tentu saja menyanggah kabar tersebut. ’’Saya sudah akan memilih Qatar sebelum makan siang itu. Saya akan menemui Nicolas Sarkozy dan mengatakan kepada dia tentang keputusan saya. Saya tidak tahu bahwa pihak Qatar juga berada di sana!,’’ kata Platini waktu itu kepada Surat Kabar Inggris, Daily Telegraph.
Pada akhirnya, 2 Desember 2010 di Zurich, Swiss, Qatar terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Negeri terkaya di dunia versi IMF itu mengalahkan Amerika Serikat pada ronde keempat dengan kemenangan 14 berbanding 8 suara.

Karena munculnya banyak kecurigaan, Komite Etik FIFA lantas melakukan investigasi internal. Hasilnya, sebanyak 16 anggota Exco FIFA dinyatakan bersalah karena korupsi. Mereka diduga menerima uang suap sebagai kompensasi untuk meloloskan Qatar.

Penangkapan tadi, membuat nama Platini semakin rusak. Inovasi-inovasi pentingnya sebagai Presiden UEFA dengan penerapan goal-line technology, peningkatan jumlah peserta Euro dari 12 menjadi 24, idenya untuk membentuk kejuaraan Pan-European 2020, kemudahan tim-tim negara kecil untuk mengikuti Liga Champions, dan kebijakan keras kepalanya dalam wujud Financial Fair Play, seolah musnah tak berbekas.

Orang juga akan lupa bahwa sedikit lagi, Platini akan menjadi presiden FIFA. Bukan pria Swiss-Italia bernama Gianni Infantino.
Namun, bagi pencinta Le Bleus, Michel Platini tetaplah seorang pahlawan terbesar. Kemampuan dribel, visi, gayanya yang anggun, serta umpan-umpannya yang memikat, akan terus mengendap dalam ingatan kolektif rakyat Prancis. Selamanya.