Enam Pendeta Salatiga Ikut Main Ketoprak di BU UKSW

305

RADARSEMARANG.ID – SALATIGA – Ratusan orang menyaksikan pementasan ketoprak yang di laksanakan di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) pada Minggu (16/6/2019) malam. Ketoprak mengangkat judul Songsong Agung Triwiguna Murca, yang berarti payung pusaka kraton yang hilang ini dimainkan oleh para pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomukti.

Pagelaran seni ketoprak ini memang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomukti ke 25. Dengan mengangkat tema tegar melangkah utuh merengkuh, bertujuan untuk mengicauwantahkan diri menjadi gereja sebagai rumah bersama. Setidaknya ada enam pendeta yang ikut memerankan tokoh dalam ketoprak ini. Salah satunya yakni Pdt. T.M, Ebenhaezeer Lalenoh, yang menjelaskan bahwa melalui cerita di pagelaran ini dimaksudkan untuk turut serta membangun kehidupan bersama yang lebih bersaudara. Sekaligus membangun toleransi, karena seni itu merekatkan.

“Ini kan dibikin dalam sebuah suasana pemilu kemarin. Saya kira yang bertengkar itu para elit saja, sementara para kawula sebenarnya enak-enak saja. Meskipun memang ada yang bisa saja diprovokasi, ketika elit memiliki kepentingan bukan untuk pengayoman untuk kawulo itulah rusak negara itu. Disitulah muncul kontrol sosial,” paparnya.

Ia menambahkan, yang terpenting bukan pada pusaka dalam bentuk payung. Payung itu simbol pengayoman dari para elit, jika fungsi pengayoman dari para elit itu hilang, negara tidak bisa apa-apa. “Songsong agung bukan segalanya, bukan payung yang diagungkan. Namun bagaimana hidup dengan mengambil keputusan yang hati-hati, jangan mengadili dan menghukum semena-mena tapi bagaimana hidup dalam persaudaraan.,” jelasnya.

Selain itu, Nur Cholis pemeran lainnya yang berangkat dari komunitas Lintas Iman mengatakan senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Ini pengalaman baru bagi saya karena baru pertama kali main ketoprak dan bisa menambah wawasan. Bentuk ini suatu rasa toleransi karena kegiatan ini adalah dari berbagai lintas agama, lembaga maupun institusi,” jelasnya.

Adista Nisrini, 15, salah satu penonton pementasan ini mengaku kagum akan kreasi para pemerannya. Karena hal ini juga salah satu cara untuk memperkenalkan kebudayaan. “Baru kali ini nonton ketoprak,” terang Adista, sembari mengambil gambar acara tersebut.(sas)