Satgas, Komdis PSSI, dan Masa Depan Pemberantasan Mafia Bola

214

JawaPos.comMemangnya Satgas Antimafia Bola masih ada? Sering banget pertanyaan ini ditujukan kepada saya baik secara langsung maupun via media sosial. Karena tidak yakin dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka diam menjadi pilihan paling masuk akal buat saya.

Sebenarnya, kalau mau memberikan jawaban mudah, tinggal bilang saja masa kerja yang diberikan Polri kepada satgas yang dipimpin Brigjen Pol Hendro Pandowo dan Brigjen Pol Krishna Murti itu enam bulan. Satgas itu dibentuk pada 21 Desember 2018, jadi berakhir pada? Silakan hitung sendiri.

Benar, ada keinginan dari beberapa pihak agar diperpanjang saja. Atau dibentuk lembaga khusus yang permanen. Namun, kenyataan satgas adalah temporer. Tetap harus dibubarkan. Dan, saya belum mendengar kabar soal adanya lembaga pengganti dalam urusan pemberantasan mafia bola di tanah air.

Saya pikir terlalu jauh membahas apa lembaga atau badan pengganti. Kita coba telaah saja kasus per kasus yang sekarang sedang atau telah ditangani satgas. Dari semua kasus yang mencuat ke publik, hanya ada dua yang sudah masuk dalam tahap persidangan.

Kasus yang diajukan mantan manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani dan kasus perusakan barang bukti yang menjerat mantan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono. Persidangan kedua kasus itu masih berjalan di Pengadilan Negeri (PN) Banjarnegara dan PN Jakarta Selatan.

Lalu, bagaimana dengan kasus lainnya? Kasus upaya penyuapan yang dilakukan mantan anggota Exco PSSI Hidayat terkait laga PSS Sleman versus Madura FC musim lalu. Kali terakhir saya berkomunikasi dengan manajer Madura FC Januar Herwanto selaku pelapor, kasus itu belum masuk ke tahap pengadilan.

Juga, bagaimana dengan kasus yang menjerat Vigit Waluyo? Oleh satgas, dia telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 14 Januari 2019. Namun, sampai saat ini belum ada kabar soal kelanjutan skandal itu. Dan, bagaimana pula dengan laporan Imron Abdul Fatah terkait kasus pada 2009 yang melibatkan Plt Ketua PSSI saat ini, Iwan Budianto?

Selain dua kasus yang sudah masuk persidangan, kasus-kasus lainnya sudah tak lagi terdengar. Mungkin saja tetap diproses, tapi perlahan publik mulai lupa. Dan, apabila terus begini, maka kita bisa membaca bahwa beginilah masa depan pemberantasan mafia bola di Indonesia: tanpa masa depan.

Nah, apabila satgas tak lagi eksis, bagaimana dengan pemberantasan mafia bola di masa datang? Apakah kita memberikan kepercayaan penuh kepada football family untuk menyelesaikannya? Itu artinya akan menjadi tugas dan kerja bagi Komdis PSSI dan Komite AdHoc Integritas PSSI.

Sebenarnya, dengan perangkat yang dimiliki, Komdis PSSI dan Komite AdHoc Intergritas PSSI bisa. Faktanya, itu dilakukan ketika menjatuhkan hukuman kepada PS Mojokerto Putra atas skandal musim lalu di Liga 2. Saat itu, Komdis PSSI menjatuhkan hukuman setahun bagi PSMP.

Selain kesaksian dan laporan-laporan yang masuk, Komdis PSSI menggunakan pula data dari Federbet, Genius Sport, atau Sportradar. Kredibilitas Federbet sebagai analis pergerakan bursa ini luar biasa. Mereka berkolaborasi dengan Interpol. Dan, skandal paling anyar yang mereka bongkar adalah match fixing di Liga Spanyol.

Berdasar laporan Federbet, kemudian ke polisi, lalu La Liga sebagai operator kompetisi federasi sepak bola Spanyol bekerjasama. Hasilnya, operasi bersandi Oikos pun dilakukan. Klub seperti Valencia, Real Valladolid, Huesca, dan Gimnastic kena dalam bidikan.

Belasan orang jadi tersangka. Ada nama yang tidak asing seperti Raul Bravo, Borja Fernandez, dan Carlos Aranda adalah tiga di antaranya. Juga, ada presiden klub Huesca Agustin Lasaosa. Kini operasi Oikos menyasar Liga Italia. Nama Ciro Immobile dan klub Frosinone masuk dalam bidikan.

Itu bukti bahwa Komdis PSSI sudah menggunakan perangkat yang tepat. Juga, menjadikan referensi dari data statistik dan rekaman Genius Sport atau Sportradar. Sekjen PSSI Ratu Tisha pernah mengklaim mereka punya kerjasama dengan Genius Sport. PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengklaim kerjasama dengan Sportradar.

Apabila benar, maka mereka selalu akan disuplai data akan pertandingan yang mencurigakan. Genius Sport membagi dalam dua kategori, Red Flag untuk laga yang wajib diinvestigasi dan Yellow Flag untuk laga mencurigakan direkomendasi untuk diinvestigasi.

Pertanyaannya, dikemanakan suplai data dari Genius Sport? Apakah ditindak lanjuti atau langsung masuk dalam keranjang sampah. Jangan berani bilang kompetisi kita tidak kotor. Bahkan, liga yang sudah stabil seperti La Liga Spanyol dan Serie A Italia saja bisa dipengaruhi mafia judi bola.

Declan Hill, jurnalis investigasi asal Kanada yang kerap mengungkap kasus mafia bola level dunia, mengklaim bahwa salah satu pusat mafia judi dunia ada di Asia Tenggara. Para mafia itu bahkan diduga terlibat dalam pengaturan skor untuk laga level Eropa seperti Liga Champions.

Kenapa di Spanyol atau Italia terungkap dan di negara kita berupaya ditutup rapat seolah itu aib. Penyebabnya, karena di sana, setiap laporan dari analis bursa atau penyedia data statistik langsung diolah departemen integritas, lalu diserahkan ke komdis, dan federasi kemudian bertindak. Polisi juga.

Masa depan sepak bola kita akan lebih cerah apabila tidak menganggap skandal mafia bola sebagai aib yang perlu ditutup rapat. Sebab, sebaik dan sejujur apapun federasinya, tetap saja mafia judi beroperasi. Yang menyedihkan adalah kalau orang dalam federasi ikut terlibat. Dan, siapa yang tidak curiga akan fakta itu? (*)