Bangkitkan Kesenian Kampung Untuk Lestarikan Budaya

358
PENTAS : Tari Topeng Ireng Sekar Mulyo Asri dari Dusun Tlogo menyedot perhatian warga. (Bah/RADARSEMARANG.ID

RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG – Kehangatan, kebersamaan dan keakraban terpancarkan pada mata warga masyarakat Desa Jragan, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Mereka yang berbondong-bondong datang ke stadion bola volli desa setempat terlihat antusias untuk menyaksikan ‘Festival Kampung’. Tak jarang mereka terlihat bersenda gurau saat duduk di bangku-bangku tribun stadion, bahkan ada pula yang menggelar terpal lantaran kursi tribun yang menampung ribuan penonton itu tak cukup untuk menjadi tempat duduk para warga yang hendak menyaksikan pementasan seni tradisi desa setempat itu.

Seni hadrah Sirojul Ghufron yang tampil awal untuk membuka kegiatan bertajuk silaturahmi pentas di kaki Gunung Sumbing itu. Antusias masyarakat semakin terlihat saat kelompok tari Topeng Ireng Sekar Mulyo Asri dari Dusun Tlogo, Desa Tlogomulyo Kecamatan Tlogomulyo mulai tampil diatas panggung berkarpet merah yang dimainkan oleh para remaja itu.

Meski suasana udara malam terasa dingin, ternya mampu dikalahkan oleh duet lawak Duo GG dari Tuban yang mampu mengocok perut para penonton. Tak hanya itu penampilan tari Soreng ‎Wahyu Putro Manunggal dan Kuda Lumping Ngesti Budoyo Singo Barong pun turut menghibur masyarakat setempat.

Yanto, 18, salah satu warga setempat mengaku sangat terhibur dengan penampilan yang jarang ditampilkan itu. Ia mengaku hanya waktu-waktu tertentu saja untuk menyaksikan budaya yang dianggap adiluhung itu.

“Tentu saja ini menjadi hiburan yang selalu dinanti-nanti karena belum tentu hadir setiap hari,” ungkapnya saat asik menyaksikan penampilan Festifal Kampung, Sabtu (15/6) malam.

Sementara itu, Intan Desa Oktavia, 18, salah satu penari Topeng Ireng mengaku sudah sejak lama menekuni kesenian itu. Bahkan diapun berkomitmen untuk terus melestarikan seni tradisi yang sudah mendarah daging sejak dulu itu.

“Saya tidak ingin tari Topeng Ireng ini musnah karena tidak ada yang melestarikannya, maka dari itu regenerasi itu harus terus dilakukan,” bebernya.

Koordinator Program Utama Festival Kampung, Very Adrian, mengungkapkan bahwa gelaran Festifal Kampung itu merupakan bagian upaya edukasi untuk para pelaku kesenian di arus bawah masyarakat. “Semangat terjadi dalam kegiatan ini adalah gotong royong, guyub rukun migunani, yang identik dengan desa. Kamipun berharap kegiatan ini bisa menjadi contoh dan akan muncul kegiatan-kegiatan serupa di kampug-kampung lain,” harapnya.

‎Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan, Restu Gunawan, menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus berupaya mendorong tumbuh-kembangkan kelestarian seni-budaya berbasis tradisi di desa-desa atau kampung-kampung di seluruh nusantara. Hal ini selain untuk melestarikan seni-budaya yang ada juga bagian dari upaya menggali local wisdom (kearifan lokal).

‎”Di era milenial, anak-anak seringkali lupa, bahwa di daerahnya punya local wisdom dan local genius, berbasis seni tradisi‎. Kami terus berupaya mendorong masyarakat di kampung-kampung untuk terus berkesenian,” terangnya.

Selain itu, kesenian menurutnya memiliki pengaruh besar untuk membentuk karakter dari masyarakat khususnya anak muda. “Tak ada pementasan yang berhasil tanpa ada kekompakan, saling memahami, toleransi dan rasa tepo seliro, ‎yang tinggi,” ujarnya

Dirinya juga berharap kesenian yang terus dibangkitkan mulai saat ini itu mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan. Pasalnya kedepan diprediksi 35 persen jenis mata pencaharian akan musnah digilas teknologi. “Yang akan terus bertahan di antaranya adalah kreativitas. Berkesenian itu adalah kreativitas itu,” bebernya.

Ditambahkan pula oleh Kasubdit Pembinaan Tenaga Kesenian‎ Ditjen Kebudayaan, Yusmawati, bahwa konsep yang diusung adalah kekerabatan antarkampung yang hal ini mulai hilang digerus oleh jaman. “Dulu, kalau ada pentas di kampung sebelah, misalnya, kampung-kampung di sekitar turut mendukung, nyengkuyung. Bahkan tak jarang orang dulu itu menikah dengan tetangga kampung setelah bertemu di acara itu. Hal inilah yang harus kita bangkitkan lagi untuk menjalin kerukunan masyarakat,” terangnya.

Dipaparkan pula olehnya bahwa berkesenian tak harus bertempat di gedung-gedung mewah yang dibangun khusus untuk pertunjukan. Akan lebih bijak, bila bisa memanfaatkan ruang-ruang yang telah ada. “Di luar negeri, seni pertunjukan juga memanfaatkan bangunan-bangunan yang telah ada, semisal bekas penjara, gedung tua, atau lainnya. Nah di kampung-kampung, desa-desa banyak fasilitas-fasilitas yang bisa dimanfaatkan,” ucapnya.

Disampaikan pula bahwa kegiatan serupa ini juga digelar di dua kabupaten lain di luar Jateng. Yakni, di Tulungagung, Jawa Timur, dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogyakarta.‎ Sementara untuk di Temanggung selain pementasan di Jragan, akan ada pementasan serupa juga di Dusun Logede pada tanggal 17 Juni dan pada 19 Juni di Kecamatan Tlogmulyo.

Editor: Agus AP