Ginting dan Jojo Harus Tiru Konsistensi Momota

264

JawaPos.com – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti mengakui bahwa Kento Momota adalah salah satu pemain paling konsisten di dunia saat ini. Baik Anthony Sinisuka Ginting maupun Jonatan Christie diminta bisa meniru Momota.

Hal ini dikatakan Susy setelah Indonesia takluk 1-3 dari Jepang di babak semifinal Piala Sudirman 2019. Susy menuturkan bahwa sebetulnya PBSI berharap Ginting bisa menundukkan Momota. Namun, harapan itu sirna setelah Ginting keok 17-21 dan 19-21.

“Anthony sudah main bagus tapi di poin kritis dia kurang tenang,” ujar Susy, Minggu (26/5).

Penampilan Jojo boleh dibilang jauh lebih mengecewakan dari Ginting di Piala Sudirman 2019. Hanya diturunkan satu kali saat menghadapi Chou Tien Chen dalam laga kontra Taiwan di babak perempat final, Jojo kalah telak 11-21 dan 13-21.

Menurut Susy, sebagai pemain yang sudah menembus peringkat 10 dunia, baik Ginting maupun Jojo sudah harus segera sadar bahwa mereka tidak bisa terus menerus bermain angin-anginan.

“Konsistensinya yang harus ditingkatkan lagi. Secara peringkat kan mereka sudah ada di sana, cuma konsistennya waktu main itu masih kurang. Bisa main bagus, tahu-tahu nggak bisa stabil, baik Anthony maupun Jonatan. Kami berharap supaya mereka lebih matang dan konsisten seperti Momota yang bisa jaga banget (konsistensinya, Red). Dia nggak pernah kalah dari yang nggak-nggak (pemain ranking bawah, Red),” ujar Susy.

Jika Ginting dan Jojo tidak juga bisa mengembangkan diri mereka dan tetap bermain tidak stabil, Susy mengatakan, maka keduanya bisa dibilang belum layak disebut sebagai atlet matang.

“Seorang pemain bisa dilihat matangnya dari situ (stabil, Red). Sama seperti Viktor Axelsen dan Chen Long. Mereka kalau pun kalah pasti sama pemain yang selevel, paling nggak di lima besar dunia,” ujar Susy lagi.

Susy pun juga tidak menampik bahwa sektor tunggal putri bisa dibilang masih sangat lemah. Kekalahan Gregoria Mariska Tunjung dari Akane Yamaguchi disebut Susy terjadi karena Jorji tidak memiliki jiwa petarung di laga kemarin.

Makanya, menurut Susy, Jorji dan mungkin juga Fitriani harus mendapatkan program khusus untuk bisa meningkatkan kualitas permainan mereka. Jika tidak, mereka akan tetap stagnan.

“Gregoria itu butuh kerja keras, butuh penangangan lebih. Dia pukulannya bagus, tapi nggak bisa tahan lama sampai akhir, safe-nya juga. Tunggal putri memang ketinggalan banyak dibanding sektor lain,” kata Susy gamblang.

Secara keseluruhan, Susy menuturkan bahwa ia angkat topi kepada Jepang. Dengan komposisi pemain yang jauh lebih baik dari Indonesia, Susy menuturkan bahwa Jepang memang pantas berada di partai final Piala Sudirman 2019.

“Tahun ini Jepang memang lebih baik. Kekuatan mereka lebih merata. Mereka layak masuk final,” kata Susy.

Indonesia harus berbagi medali perunggu bersama Thailand setelah sama-sama terhenti di partai empat besar Piala Sudirman 2019.

Trofi juara Piala Sudirman 2019 sendiri sudah kembali ke pelukan Tiongkok setelah mereka mengandaskan Jepang 3-0. Kemenangan ini membuat Tiongkok meraih gelar juara Piala Sudirman ke-11.