Meninggal namun Punya Hutang Puasa

428
tanya-jawab

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum Warahmadtullahi Wabarakatuhu, Bapak Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag yang dimuliakan oleh Allah SWT. saya ingin bertanya.Saya memiliki tetangga yang baru-baru ini meninggal dunia pada siang hari lalu. Secara otomatis, tetangga saya ini memiliki hutang puasa di saat dia meninggalsehingga bagaimana cara keluarganya menyikapi hal ini. Mohon jawabannya.
Syakir di Tugu 085659723XXX

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu Bapak Syakir yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah.Jika seseorang mengalami sakit yang tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya, atau wanita dan laki-laki yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi berpuasa, maka tidak ada kewajiban qadla baginya. Kelompok seperti ini hanya diwajibkan memberi makan kepada orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Pembayaran (fidyah) bisa dengan cara setiap hari atau menunda hingga selesai bulan Ramadhan, baik diberikan kepada satu orang miskin maupun dengan cara mengundang mereka sejumlah hari yang ditinggalkan.Dan apabila belum sempat melaksanakannya semasa hidup, maka kewajiban fidyah dilakukan oleh ahli waris. Hal ini sebagaimana riwayatAbu Dawud no. 2401.

Namun, dalam pandangan fuqaha terdapat tiga macam kondisi bagi orang meninggal yang memiliki hutang puasa di bulan ramadhan.

Pertama, orang yang sebelum meninggal berada dalam kondisi sakit dan tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya tidak ada kewajiban qadla namun wajib membayar fidyah. Dan jika belum sempat menunaikan semasa hidup, maka fidyah ditunaikan setelah ahli waris atau kerabat selepas seseorang wafat.

Kedua, orang yang sebelum meninggal mempunyai hutang puasa -karena sebab udzur syar’i- dan tidak mendapat keluasan untuk mengqadla hingga ia meninggal dunia. Orang dalam kondisi seperti ini tidak dibebankan kewajiban apapun berupa fidyah atau qadla, baik terhadap diri maupun ahli waris atau kerabatnya.

Ketiga, orang yang wafat dan masih meningglkan hutang puasa, namun tidak bersegera menunaikan padahal ada keluasan dan kelapangan untuk mengqadlanya. Dan orang yang dalam keadaan seperti ini disunnahkan untuk ditunaikan hutangnya dengan cara dipuasai oleh wali atau kerabatnya sebanyak hari yang ditinggalkan, atau dengan memberi makan orang miskin. Namun apabila hutang yang ditinggalkan adalah puasa nadzar, maka walinya berkewajiban untuk mengqadla atas nama si mayit sebagaimana yang terdapat di beberapa riwayat.

Adapun berkaitan dengan tata cara qadla, Boleh beberapa hari qadla’ puasa dibagi kepada beberapa ahli waris. Kemudian mereka boleh laki-laki ataupun perempuanmendapatkan satu atau beberapa hari puasa.Boleh juga mereka membayar utang puasa tersebut dalam satu hari dengan serempak beberapa ahli waris melaksanakan puasa sesuai dengan utang yang dimiliki oleh orang yang telah meninggal dunia tadi. Sekian penjelasannya, semoga bermanfaat. (*/zal)