Bagikan Seribu Takjil dan Ajak Masyarakat Isi Petisi Tolak People Power

79
TANDATANGANI : Masyarakat yang berada di Alun-alun Timur Kota Magelang mengisi petisi dan tanda tangan bentuk penolakan aksi people power (Agus Hadianto/radarsemarang.id)

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Untidar, dan PMII Magelang serta Muslimat NU Kota Magelang, Selasa (21/5) kemarin membagikan seribu takjil kepada masyarakat yang berada di kawasan Alun-alun Timur Kota Magelang. Selain membagikan takjil, mereka juga mengajak masyarakat untuk menandatangani petisi tolak aksi people power menentang keputusan KPU dalam Pemilu tahun 2019.

Aksi ini dilakukan sejak pukul 16.00 WIB dengan membagi beberapa kelompok untuk berkeliling membagiikan takjil kepada warga yang berada di kawasan Alun-alun Timur Kota Magelang. Usai warga menerima takjil, mahasiswa dan perempuan Muslimat NU kemudian mengajak untuk menandatangani petisi penolakan gerakan people power.

Koordinator Bidang Sospol BEM Universitas Tidar (Untidar), Beny Azwar Suganda Hasibuan, Selasa (21/5) sore kemarin di sela-sela kegiatan mengatakan bahwa pihaknya menolak adanya aksi penggerakan massa yang digelorakan dengan semangat people power oleh kalangan tertentu. Bagi Beny, dirinya tidak menolak masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya, selama masih dalam jalur yang tepat.

“Jika ingin menyalurkan aspirasinya, kami tidak menolak. Namun harus dengan cara-cara yang etis dan konstitusional. Jangan sampai terpecah belah karena banyaknya perbedaan. Kami BEM Untidar, mendukung sepenuhnya hasil rekapitulasi KPU,” imbuhnya.

Beny mengungkapkan, aksi dukungan kepada KPU dirasa tepat dengan aksi sosial membagikan takjil kepada masyarakat, mengingat saat ini memasuki bulan puasa. Selain membagikan takjil, menurut Beny, pihaknya juga mensosialisasikan persatuan meski saat ini perbedaan begitu terlihat karena adanya pandangan politik.

“Kami membuat dua buah banner berukuran 2 x 1 meter berisikan tentang petisi dan dukungan tandatangan. Langkah ini sebagai upaya untuk megetahui sejauh mana keinginan masyarakat tentang penolakan people power. Apakah keinginan masyarakat sama dengan kami. Dalam kegiatan ini, kami menggandeng elemen masyarakat, seperti muslimat NU dan lain sebagainya,” tuturnya.

Ketua Muslimat NU Kota Magelang, Hj Watinah, menjeelaskan bahwa aksi ini sebagai bentuk shadaqah dan amal jariyah di bulan puasa untuk berbagi. Selain itu, menurut Watinah, aksi ini juga sebagai pernyataan sikap organisasi Muslimat NU dalam menolak gerakan people power.

“Ini adalah pernyataan sikap Muslimat NU, kami mendukung dan menerima apapun hasil keputusan KPU. Beberapa waktu yang lalu, kami sudah menyatakan sikap menolak people power. Karena gerakan ini bisa mengoyak persatuan. Untuk itu, marilah bersama menjaga NKRI, jadikan negeri ini tetap aman. Siapapun presidennya, harus diterima dengan legowo,” imbuhnya.

Watinah mengaku pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran pengurus rantingnya agar melakukan doa bersama usai shalat tarawih, demi keutuhan NKRI.

Sementara, pihak kepolisian baik Resor Magelang maupun Resor Magelang Kota telah melakukan apel gelar pasukan bersama dalam rangka antisipasi pengumuman rekapitulasi suara hasil pemilu 2019 di KPU Pusat. Langkah ini sebagai antispasi adanya ekskalasi kamtibmas yang sangat meningkat, sehingga dimungkinkan bisa menimbulkan gangguan kamtibmas kewilayahan.

Kapolres Magelang Kota, AKBP Idham Mahdi dalam amanatnya siap menjaga situasi dan kondusifitas Kota Magelang bersama TNI dan seluruh elemen masyarakat. Pihaknya, menurut Idham, telah memberlakukan siaga satu sesuai petunjuk pimpinan.

“Ada pengamanan berbeda untuk objek vital seperti kantor KPU dan Bawaslu. Ini sebagai langkah antisipasi saja. Semoga Kota Magelang tetap kondusif,” bebernya.

Kapolres Magelang AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengatakan bahwa kesiapsiagaan untuk antisipasi adanya gangguan kamtibmas yang bersifat anarkis atau konflik sosial, maka terhitung mulai tanggal 21 sampai dengan 25 Mei 2019 dilaksanakan dalam status Siaga I. Untuk itu, menurut Yudianto, perlu menjaga kekompakan sinergitas antara TNI, Polri dan seluruh elemen dalam pengamanan.

“Tujuan kita untuk menjaga situasi yang aman dan kondusif baik internal maupun eksternal. Walaupun kita dalam situasi siaga satu namun kesiapan kita dalam melayani masyarakat harus kita utamakan 3S. Kita jalankan SOP yang berlaku, tidak ada perasaan ragu-ragu, tegas, namun tetap humanis. Situasi yang kita harapkan, tergantung situasi di Jakarta, semoga situasi di Jakarta bisa selesai dengan aman dan kondusif,” tegasnya. (had/svc/ap)