Dijatuhi Sanksi oleh Komdis PSSI, Arema FC Ajukan Banding

57

JawaPos.com – Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami Arema FC, juga Aremania. Sudah kalah 1-3 di kandang PSS Sleman, plus jatuhnya korban luka dari Aremania pada laga itu, Arema FC harus menerima sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.

Mengacu surat keputusan Komdis PSSI bernomor 003/L1/SK/KD-PSSI/V/2019 tertanggal 19 Mei, Arema FC diwajibkan membayar denda sebesar Rp 75 juta. Denda harus dibayar selambat-lambatnya 14 hari setelah surat diterima.

Dalam surat itu, Komdis memaparkan alasan menjatuhkan sanksi kepada Arema FC. Di antaranya, berbunyi seperti ini: ”Bahwa pada tanggal 15 Mei 2019 bertempat di Stadion Maguwoharjo, Sleman, telah berlangsung pertandingan Liga 1 2019 antara PSS Sleman vs Arema FC, di mana pada pertandingan di atas, ditemukan fakta berupa tingkah laku buruk suporter Arema FC yang berada di tribun bagian barat. Yakni, tidak mengindahkan sikap sportif, respect, dan fair. Karena suporter Arema FC terbukti saling lempar dengan suporter PSS Sleman”.

Memang, denda yang harus dibayar oleh Arema FC lebih kecil ketimbang PSS Sleman. Klub berjuluk Super Elang Jawa itu harus membayar denda Rp 200 juta. Meski begitu, Arema FC tidak berdiam diri atas turunnya sanksi ini. CEO Arema FC Ir Agoes Soerjanto pun berang. Dia menyebut bahwa insiden yang terjadi di Stadion Maguwoharjo Sleman disebabkan oleh kelalaian panitia pelaksana (panpel) tuan rumah. Mereka tidak mampu memberikan rasa aman kepada tim dan fans tamu.

”Jangankan tim tamu. Saat laga pembuka juga terdapat undangan penting seperti kepala daerah setempat, pimpinan daerah lainnya serta petinggi PSSI dan LIB, apalagi itu laga pembuka, panpel tentunya sudah harus mempersiapkan jauh lebih baik dari laga biasa. Faktanya justru timbul ricuh karena ketidaksiapan panpel. Jika tidak siap sejak awal ajukan penundaan,” ujarnya seperti dilansir Radar Malang (Jawa Pos Group).

Kesalahan, kata dia, juga tidak bisa serta merta ditimpakan pada Aremania. ”Bayangkan Aremania seminggu sebelum berangkat ke Sleman sudah koordinasi dengan manajemen, juga panpel terkait keberangkatan keamanan dan soal tiket,” kata dia.

Namun, faktanya tiba di Sleman yang awalnya disambut baik jelang laga malah Aremania justru mendapat sambutan yang provokatif. Panpel tidak mampu mengantisipasi gangguan keamanan, mulai dari area parkir, lorong pintu masuk sampai tribun biru di mana Aremania ditempatkan.

Terlepas klaim itu ulah provokator, berbagai fakta dan laporan beberapa media, panpel benar-benar tidak sanggup menguasai keadaan, bahkan malah banyak jatuh korban dari Aremania. Seharusnya, sebagai tamu, Aremania wajib dilindungi.

Apalagi, ajakan wali Kota Sleman agar fans tuan rumah menghentikan tindakan kekerasan kepada fans tim tamu tidak diindahkan. Malah diperkeruh pernyataan salah satu LOC (local organizing committee) atau panpel yang terekam secara live di TV dan dilihat oleh seluruh warga Indonesia yang seakan memprovokasi Aremania.

Agus menyatakan, keputusan Komdis ini sangat jauh dari harapan publik. ”Saya khawatir jika tidak ada perlindungan terhadap tim dan suporter tamu. Semua akan abai. Dan berdampak pada perilaku negatif suporter masing-masing klub yang akan mengambil keputusan hukum sendiri. Dan ini tidak baik,” tegasnya.

Pihak Arema FC juga mempertanyakan alasan kenapa diberi sanksi Rp 75 juta. Bila alasannya karena Aremania membalas perlakuan oknum yang melakukan kekerasan berupa pelemparan. ”Mereka sebagai tamu merasa ingin menahan diri. Bayangkan kalau mereka hanya diam. Akan banyak korban berjatuhan. Bayangkan kalau mereka tidak berusaha melindungi kendaraannya yang diserang. Harusnya objektif Komdis mengambil keputusan,” pungkas dia.