Operasi Suramadu-Bungurasih Diperketat, Fokus pada Bus Jurusan Jakarta

19

JawaPos.com – Polres Pelabuhan Tanjung Perak menggelar operasi skala besar di Jembatan Suramadu Minggu dini hari (19/5). Kendaraan roda empat dan angkutan umum dari arah Madura diperiksa di turunan jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu. Sasaran utamanya adalah barang bawaan penumpang. Misalnya senjata tajam dan bahan peledak.

Suara bising knalpot di sekitar Jembatan Suramadu pada Sabtu malam (18/5) perlahan-lahan mulai berkurang. Ada sekitar seratus anggota gabungan dari TNI, Polri, dan satpol PP yang tiba di sana sekitar pukul 23.00. Beberapa anak muda yang bergerombol di tengah Jalan Kedung Cowek kemudian memilih menepi. Sebagian lagi meninggalkan lokasi.

Anggota gabungan yang datang ke Suramadu malam itu bertujuan melakukan operasi cipta kondisi. Sudah menjadi tradisi, sebelum operasi dilakukan, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto menyiapkan pasukannya.

Namun, operasi malam itu tidak menyasar pengendara roda dua maupun balap liar seperti biasanya. Kapolres lulusan Akpol 2000 tersebut menekankan, sasaran utama operasi cipta kondisi itu adalah barang bawaan para penumpang roda empat dan angkutan umum dari arah Madura. “Kami periksa bus dan kendaraan roda empat untuk mengantisipasi senjata tajam dan bahan peledak,” kata Agus.

Menurut Kapolres kelahiran Malang tersebut, operasi malam itu juga dilakukan berdasar arahan Polda Jawa Timur. Hal itu juga dilakukan polisi sebagai langkah pengamanan menjelang pengumuman hasil Pemilu 2019.

Setidaknya operasi malam itu dilakukan sampai pukul 3 dini hari kemarin.

Namun, sampai operasi berakhir, tidak ada temuan yang mencurigakan. Baik senjata tajam maupun bahan peledak. “Tadi hanya ada satu. Kami menemukan obat. Namun, masih akan kami periksa lagi jenisnya,” tambah Agus kemarin.

Bukan hanya di Jembatan Suramadu, puluhan personel gabungan TNI, Polri, serta Dinas Perhubungan Sidoarjo juga menggelar razia di kawasan Terminal Purabaya, Bungurasih, Sabtu malam. Hal tersebut dilaksanakan dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjelang pengumuman hasil Pemilu 2019 dan Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Zain Dwi Nugroho memimpin langsung operasi itu. Pihaknya menyebutkan bahwa Terminal Purabaya, yang merupakan salah satu terminal utama di Jawa Timur, berpotensi menjadi titik rawan dari berbagai aksi teror dan kejahatan. “Pemeriksaan dilakukan pada bus secara menyeluruh. Termasuk para penumpang dan barang bawaannya,” ungkap dia.

Namun, lanjut Zain, sasaran utama sweeping saat itu adalah bus yang menuju Jakarta. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi isu aksi teror di ibu kota pada 22 Mei saat pengumuman hasil pemilu. “Termasuk memeriksa jalur transit lainnya seperti bus jurusan Bogor, Bandung, Tegal, Cirebon, dan Lampung,” ungkap perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.

Pasalnya, pada saat pengumuman hasil pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti, marak isu teror dan pergerakan massa yang beredar. Hal tersebut dianggap rawan mengganggu kamtibmas di ibu kota. “Hal ini juga mengantisipasi hal tersebut. Kami juga melakukan deteksi dini di titik rawan lain di Kota Delta,” ujar alumnus Akpol 1997 itu.

Setidaknya, dalam sweeping tersebut, para petugas memeriksa 12 bus yang hendak menuju kawasan ibu kota. “Sejauh ini tidak ada hal yang mencurigakan. Semoga hal tersebut bisa kondusif hingga saat arus balik setelah Lebaran nanti,” harap Zain.

Yudhi Yuwono, salah seorang sopir bus, menyambut baik operasi itu. Pengemudi bus PO Sugeng Rahayu bernopol W 7562 UN tersebut menjelaskan, mendekati arus mudik, tingkat keamanan di setiap terminal semakin ketat. “Hari ini saja sudah tiga kali menjalani pemeriksaan. Mulai tes urine, cek kesehatan, hingga pemeriksaan barang,” bebernya.

Menurut Yudhi, operasi itu tidak mengganggu aktivitasnya dalam bekerja. “Justru lebih senang. Agar para penumpang bisa aman dari berbagai ancaman,” tutur pengemudi bus jurusan Bandung tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yon/yog/c9/end