Germandes Bantu Kepengurusan Dokumen Pahlawan Devisa

204
DIRESMIKAN - Bupati Batang Wihaji, Kepala BNP2TKI Dr Serfulus Boboriti meluncurkan Germandes di Desa Yosorejo Kecamatan Gringsing, Sabtu (18/5/2019). (Lutfi Hanafi/Radarsemarang.Id)

RADARSEMARANG.ID,BATANG – Untuk  membantu mempermudah para pekerja migran Indonesia (PMI) Pemerintah Kabupaten Batang bekerja sama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) meluncurkan Gerakan Migrasi Aman Desa (Germandes) di Desa Yosorejo Kecamatan Gringsing, Sabtu (18/5/2019).

“Pencanangan ini dimaksudkan untuk membantu para pekerja migran Indonesia sekaligus mempermudah pengurusan dokumen agar pekerja yang mengadu nasib di luar negeri berangkat dengan dokumen resmi,” jelas Bupati Batang Wihaji.

Dengan adanya program tersebut, Pemkab Batang berharap para pahlawan devisa bisa mengurus dokumen dengan mudah dan juga mendapatkan pelatihan yang mumpuni sebagai bekal saat bekerja di luar negeri nanti.
Bupati berujar, bahwa hatinya sebenarnya tidak rela ada warga Batang yang bekerja sampai jauh. Tapi bagaimana lagi toh semua untuk masa depan yang lebih baik. Bupati juga mengingatkan buat para pekeja migran hendaknya berhati-hati dan menjaga hubungan baik dengan keluarga di rumah.

“Jangan sampai terjadi gejolak rumah tangga. Nanti setelah selesai kontrak dan pulang ke tanah air pergunakanlah hasil kerjanya sebagai modal usaha supaya tidak perlu berangkat ke uar negeri lagi,” ingat bupati.

Kepala BNP2TKI Dr. Serfulus Boboriti selaku ketua pelaksana mengatakan, bahwa jumlah pekerja migran Indonesia di luar negeri berjumlah sekitar 9 juta orang. Dari jumlah ini hanya 3 juta yang memiliki dokumen resmi dan berangkat melalui PJTKI yang bonafid. Selebihnya yang 6 juta orang berangkat tanpa dokumen resmi atau jalur ilegal.

“Hal ini sangat disayangkan karena yang berangkat tanpa dokumen resmi sulit untuk mendapatkan jaminan keamanan jika terjadi sesuatu. Pengurusan asuransi sulit tanpa dokumen resmi. Untuk itu dengan launching Germandes ini kami berharap para PMI mendapatkan kemudahan dalam pengurusan dokumen sehingga hak-haknya terlindungi,” kata Serfulus Boboriti.

Pada sesi tanya jawab bupati memanggil seorang eks pekera migran yang sudah bekerja 8 tahun di Hongkong bernama Yuli. Yuli mengaku hasil kerjanya sudah diwujudkan dalam bentuk rumah. Gaji di Hongkong tergolong besar sekitar Rp 6-7 juta . Suami Yuli saat ini masih bekerja di Malaysia.

Kisah Purwanto lain lagi. Purwanto bekerja di Korea hampir 5 tahun dan berhasil mengumpulkan uang hampir Rp 2 miliar yang dipakai untuk mambangun rumah dan membeli sawah selain untuk modal usaha lain. Baik Yuli maupun Purwanto sama-sama tidak ingin bekerja di luar negeri lagi.

Pada kesempatan ini Wihaji juga menandatangani prasasti pencanangan Germandes kemudian meninjau hasil kerajinan pekerja migran yang sukses membuka usaha sepulangnya dari merantau. (han/lis)