Khilafah Tak Dapat Gantikan Pancasila

110
Anggota MPR RI H A Mujib Rohmat saat menyosialisasikan empat pilar kebangsaan di Kaliwungu Selatan (BUDI SETIYAWAN/RADARSEMARANG.COM)

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Para perangkat desa, ulama dan tokoh masyarakat memiliki tugas khusus untuk mengawal dan membela Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebab sistem pemerintahan negara Indonesia yakni Demokrasi Pancasila tidak bisa digantikan dengan sistem lainnya, bahkan sistem Khilafah sekalipun.

Demikian dikatakan Anggota MPR RI, H A Mujib Rohmat di hadapan para perangkat desa, para ulama dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Kaliwungu Selatan. Yakni dalam helatan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Kelurahan Megalung, Kecamatan Kaliwungu Selatan.

Peran dan tugas perangkat desa, ulama dan tokoh masyarakat sangat penting sebagai ikhtiar merawat dan membela empat pilar bangsa. Yakni UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Keempatnya merupakan satu rangkaian yang saling memperkuat dan melengkapi untuk tetap tegaknya NKRI. Tujuannya untuk melindungi seluruh masyarakat dan komponen bangsa yang berbeda-beda,” tandasnya.

Menurut Mujib, Indonesia dibangun di atas kemajemukan. Dimana rakyat Indonesia berbeda-beda latar bekalanganya. Baik suku, ras, agama, bahasa, budaya dan sebagainya. Perbedaan itulah yang justru menyatukan Indonesia menjadi NKRI.

“Seluruh eleman bangsa ini yang telah menyepakati Pancasila dan NKRI pada UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Seluruh eleman bangsa ini akan menolak dan melawan oknum dan kelompok yang akan menggantikan ideologi Pancasila dengan sistem yang lain, termasuk dengan khilafah,” tegasnya.

Mujib menyebutkan, bagi ormas Islam seperti NU, Pancasila adalah dasar negara yang telah bersifat final serta menjadi panduan utama bagi warga negara dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Agama, termasuk Islam mempunyai kedudukan dan peran yang berbeda dengan Pancasila.

“Agama merupakan sumber etika dan moral bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan dalam melaksanakan pembangunan dan penyelenggaraan negara,” ujar Mujib yang juga angota DPR tersebut.

Ia menambahkan, NKRI bagi NU merupakan bentuk final perjuangan umat Islam dalam memperjuangkan berdirinya negara di wilayah Nusantara. Dengan berdirinya NKRI di atas wilayah Nusantara ini maka perjuangan umat Islam Indonesia dalam upaya mendirikan negara telah dicapai.

Mujib menyebutkan bahwa negara kita dari perspektif agama Islam adalah darul mitsaq, negara perjanjian, yang harus dibela dan dipertahankan karena didirikan atas dasar perjanjian para tokoh pendiri negara, termasuk tokoh Islam dan ulama, termasuk dari NU.

Makanya, imbuh Mujib, merupakan salah satu ciri khas NU yang menunjukkan cintanya kepada NKRI adalah ketika acara-acara NU digelar akan dinyanyikan lagu Subbanul Wathon setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. (bud/ap)