Ricka Ulfatul Faza, Lulusan Tercepat Unnes yang Jago Seni Beladiri Pencak Silat

Nilai IPK Absolut 4.00, Kini Jadi Pelatih di Ponpes

204
BERPRESTASI: Ricka Ulfatul Faza ditemani ibundanya saat mengikuti prosesi wisuda di  Unnes. (DOKUMEN PRIBADI)
BERPRESTASI: Ricka Ulfatul Faza ditemani ibundanya saat mengikuti prosesi wisuda di  Unnes. (DOKUMEN PRIBADI)

Ricka Ulfatul Faza tak hanya cerdas. Ia juga banyak mengukir prestasi dari seni beladiri pencak silat. Sejumlah juara lomba seni beladiri pencak silat diraihnya.

Oleh EKO WAHYU BUDIYANTO

Pencak silat tidak hanya digemari kaum adam. Banyak kaum hawa di Pondok Pesantren (Ponpes) yang gandrung dengan jenis beladiri ini. Pencak silat Pagar Nusa adalah salah satu produk beladiri asli pesantren. Salah satu kaum hawa di ponpes yang menggeluti beladiri ini adalah Ricka Ulfatul Faza. Gadis 21 tahun ini baru saja dinobatkan sebagai wisudawati terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2019.

Ricka –sapaan akrabnya– sampai saat ini masih berstatus sebagai salah satu santriwati di Ponpes Durrotu Ahlissunnah Wal Jama’ah, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati. Ia juga mencatatkan namanya sebagai pelatih pencak silat khusus santri perempuan di ponpes tersebut.

Prestasi yang ditorehkan di dalam seni beladiri tersebut bisa dibilang tidak sedikit. Antara lain Juara I Seni Beregu Pencak Silat tingkat Jawa Tengah dan DIJ 2013, Juara I Seni Pencak Silat Tunggal Putri se-Kabupaten Kudus 2015, Juara I Seni Pencak Silat Tunggal Putri se-Jawa Tengah 2015, Juara I Seni Pencak Silat Beregu tingkat Jawa Tengah dan DIJ 2016, Duta FKAR 1439 Ponpes Aswaja 2018, dan sederet prestasi lainnya.

Ketiak ditemui di Ponpes Durrotu Ahlissunnah Wal Jama’ah, Ricka menceritakan bagaimana awal mula ia terjun di seni pencak silat tersebut. Hal itu berawal pada 2009 saat ia duduk di bangku MTs NU Hasyim Asy’ari 3 Kabupaten Kudus. “Karena saat itu di sekolah ada ekstrakurikuler pencak silat,” ujar gadis kelahiran 29 Januari 1997 itu.  Keinginannya mengikuti ekstrakurikuler pencak silat semakin kuat, karena sebagai seorang perempuan, seni beladiri ini bisa berfungsi sebagai penjaga diri. “Lantas saya ikut menjadi atlet pencak silatnya,” katanya.

Namun saat itu justru ia tidak bisa mengikuti perkembangan dari seni beladiri tersebut. Selanjutnya sang pelatih di ekskul sekolahnya, menyarankan dirinya untuk mengikuti program seni pencak silat. Bukan program atlet pencak silat.

Memasuki program seni itulah potensinya mulai tergali. Hal itu ia teruskan saat menempuh pendidikan di MA NU Hasyim Asy’ari 3 Kabupaten Kudus. Terbukti, pada 2013 ia langsung menyabet Juara I Seni Beregu Pencak Silat tingkat Jawa Tengah dan DIJ.“Syukur Alhamdulillah itu karena kecintaan saya pada pencak silat,” katanya.

Potensi yang ada di dalam dirinya tersebut lantas ia kembangkan dengan menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pada 2015, ia diterima menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Jurusan PJKR Unnes melalui jalur Bidikmisi. Selain untuk mengembangkan potensi diri, cita-citanya menjadi santriwati akhirnya ia wujudkan di Ponpes Durrotu Ahlissunnah Wal Jama’ah.

Terkait dengan dunia akademisnya, ia juga pernah mengalami kesulitan. Khususnya dalam membagi waktu antara kehidupan di ponpes dan kampus. Rapatnya kegiatan di Ponpes, juga berpengaruh di dalam kehidupan kampusnya.

Diceritakan, awal semester 1, dirinya sempat keponthal-ponthal dengan jadwal kuliah yang padat. Bahkan waktu untuk istirahat pun berkurang lantaran padatnya kegiatan di ponpes. “Namun saya tidak langsung menyerah, saya terus berusaha supaya kuliah dan di pondok tidak kacau,” ujarnya.

Setiap tugas kampus ia kerjakan manakala ada waktu senggang di ponpes. Waktu belajarpun juga sangat minim dan terbatas. “Belajarnya biasanya setelah selesai mengaji pukul 22.00 saya tidur sebentar sampai pukul 00.00, setelah itu tahajud baru belajar sampai subuh,” katanya.

Namun tampaknya, putri dari almarhum Supanzi dan Alfiyah ini tidak putus semangat. Terbukti, dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) di setiap semester selalu cumlaude. Apalagi untuk jalur Bidikmisi memang menuntut mahasiswa untuk memiliki nilai di atas rata-rata. Selain itu, ia juga lulus tepat waktu. “Maksimal semester 8 harus lulus, karena kalau semester 8 belum lulus, biaya kuliah selanjutnya harus membayar sendiri,” katanya. Dengan himpitan kondisi yang luar biasa tersebut, ia semakin bersungguh-sungguh dalam mengejar impiannya.

Terbukti pada 2019 ini, ia menjadi mahasiswa bidikmis dengan lulus waktu tercepat, yaitu 3 tahun 4 bulan. Artinya, ia hanya membutuhkan waktu 7 semester untuk memperoleh gelar sarjananya dengan IPK 4,00. “Ini lagi cari beasiswa untuk ambil S2,” akunya.

Keinginan kerasnya tersebut bukan tanpa alasan. Mengingat selama ini dirinya menghidupi diri dari usahanya sendiri. Apalagi ibu kandungnya selama ini hanya pengajar honorer di TK dengan gaji kurang dari Rp 500 ribu per bulan.

Sembari menunggu panggilan beasiswa, kini ia masih menyibukkan diri dengan kehidupan di ponpes. Khususnya menjadi pelatih pencak silat untuk santri putri. “Masih jadi pelatih di sini, karena jujur saja di kehidupan pondok saya memang sangat suka,” katanya. (*/aro/ap)