Shelter-Shelter BRT Trans Semarang; Makin Cantik di Sejumlah Titik

671

RADARSEMARANG.ID, Selain armada, BLU Trans Semarang terus membenahi shelter. Perombakan dilakukan di sejumlah titik. Tidak hanya mendongkrak kenyamanan, shelter-shelter ini dibentuk dengan tampilan yang artistik.

BENTUK dan warna shelter berbeda satu dengan lainnya. Menyesuaikan wilayah shelter berada. Seperti di Jalan dr Sutomo yang berada di dekat Kampung Pelangi, shelter juga dibuat berwarna-warni.

Terhitung ada empat shelter BRT di sepanjang Jalan dr Sutomo. Satu shelter berada di depan SMP Pangudi Luhur Domenico Savio. Sementara 3 lainnya berada di depan Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama dan di depan RSUP dr Kariadi sisi barat dan timur. Kecuali yang di depan SMP Domsav, shelter lainnya memiliki bentuk yang cukup menarik.

Hijau, kuning dan oranye. Warna ini mendominasi bangunan shelter berbentuk setengah lingkaran. Sementara pintu shelter penghubung ke pintu bus, berwarna merah. Bagian depan juga terdapat semacam kaca yang dipasang menggunakan penghubung dengan rapi. Melalui dinding kaca ini, pengguna BRT Trans Semarang bisa melihat keadaan luar.

Memasuki bagian dalam, kursi untuk menunggu bus tidak luput dari sentuhan seni. Tidak hanya kursi beton biasa. Semacam rangkaian kerangka besi kotak dibuat memanjang membentuk tempat duduk. Lain dari biasanya.

Ketiga shelter di Jalan dr Sutomo hampir sama satu sama lainnya. Baik bentuk dan juga warna. Yang sedikit membedakan, pada dua shelter di depan RSUP dr Kariadi terdapat digital running text ”Semarang Hebat” tepat di atas pintu shelter.

Tidak hanya dari segi keindahan, tampaknya kenyamanan pengguna diperhatikan. Tidak terkecuali, bagi pejalan kaki dan juga difabel. Guiding block terpasang hingga ke tempat duduk di dalam BRT. Selain itu, ada juga ramp untuk pengguna kursi roda.

”Ini sudah lebih bagus lah ya dari sebelumnya. Selain bentuk, juga kenyamanannya,” jelas Vanesh yang hari itu hendak pergi ke mal Paragon bersama rekannya, Alya. Ia berangkat dari shelter BRT Trans Semarang depan RS Bhakti Wira Tamtama.

Untuk kenyamanan penumpang, terdapat pula tempat sampah berwarna hijau yang terpasang kantong sampah di dalamnya. Penumpang BRT Trans Semarang tidak perlu repot mencari tempat sampah untuk membuang bungkus makanannya, misalkan.

Tak ada gading yang tak retak. Dengan keindahan dan kenyamanan yang ada, pengelola dinilai masih perlu melakukan pembenahan. Vanesh menilai shelter yang sudah mulai membaik ini perlu diberikan pengatur suhu udara. Sebab, suhu udara di shelter cukup membuatnya berkeringat ketika harus menunggu agak lama. ”Mungkin ke depannya ya,” ujarnya menyarankan.

Selain itu, kebersihan di sekitar shelter tampaknya masih perlu mendapat perhatian. Tidak hanya pengelola, termasuk menjadi tugas para pengguna. Bukan tanpa sebab, terlihat di shelter RSUP dr Kariadi, meskipun disediakan tempat sampah masih ada pengguna yang meninggalkan gelas plastik berisi sisa minuman di tempat duduk.

Yang juga sangat disayangkan, shelter-shelter cantik ini juga terjamah tangan-tangan jahil. Masih di shelter depan RSUP dr Kariadi, di sana terdapat tulisan menggunakan spidol permanen yang dibubuhkan orang yang tidak bertanggung jawab. ”Kita, warga Semarang sudah dibangunkan shelter yang bagus. Menjadi tugas kita untuk bersama-sama menjaga ini, selain memanfaatkannya,” terang Ridwan, pengguna BRT Trans Semarang.

Dari Jalan dr Sutomo, beralih ke Jalan Talangsari Raya. Tepat di depan kampus Universitas Katolik Soegijapranata, terdapat shelter dengan bentuk yang juga cukup menarik. Memang tidak seluas shelter di Jalan dr Sutomo. Apalagi shelter di Simpang Lima. Shelter di depan Unika tidak terlalu besar, tapi apik. Shelter juga berbentuk setengah lingkaran. Berwarna merah dan memiliki fasilitas yang memadai.

Satu lagi shelter yang agaknya tidak boleh kelewatan untuk diulas, yaitu shelter BRT Trans Semarang di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Shelter ini berupa bangunan permanen dengan tulisan Trans Semarang berwarna merah. Memang, bangunan ini tidak begitu menonjol untuk langsung menarik perhatian.

Akan tetapi, masuk ke dalam pengguna BRT Trans Semarang disambut fasilitas yang lumayan. Di ruangan ber-AC ini, ada 10 kursi rangkaian. Total, kursi ini dapat digunakan untuk 30 orang untuk menunggu kedatangan bus.

Dari kursi ini, sembari menunggu, penumpang dihibur dengan keberadaan layar TV. Ada dua. Satu untuk informasi, satunya untuk menampilkan program acara TV. Juga dilengkapi CCTV.

Seluruh keindahan dan kenyamanan ini, akan lebih memikat jika didukung SDM yang ramah kepada penumpang.

Desain shelter di depan kebun binatang Semarang Zoo lain lagi. Dinding shelter dihias dengan motif loreng harimau. Gambar gajah juga menghiasi dinding bagian dalam.

“Iya, menarik apalagi yang bawa anak, jadi kalau busnya lama, anak-anak bisa sambil cerita hewan,” kata Agnes Suprapto, pengguna Trans Semarang yang sengaja naik Trans Semarang bersama anak ke kebun binatang.

Halte ini dijaga satu petugas. Tidak terlalu banyak penumpang yang naik atau turun di shelter tersebut. “Untuk shelter ini memang jarang sekali yang sampai menunggu banyak, paling hanya satu dua begitu, karena mungkin kebanyakan penumpang yang turun di sini mungkin mau ke kebun binatang saja,” ungkap petugas penunggu shelter Novi Zanadiktia Sabtu (13/4).

Sementara shelter Simpang Lima tergolong lebih besar dari shelter lainnya. Shelter transit ini memiliki satu pintu kedatangan dan tiga pintu keberangkatan. Pintu masuk menuju bus memang sengaja dipisah berdasarkan koridor. Ini untuk mencegah terjadinya penumpukan penumpang atau salah masuk bus di shelter transit yang melayani empat koridor tersebut.

“Desainnya biasa aja, hanya fasilitasnya lebih memadai, ruang tunggu terutama lebih baik,”kata salah seorang calon penumpang, Aan Kristanto. Halte yang beroperasi dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB ini selalu ramai penumpang. (sga/cr5/ton)