Selamatkan Kampung, Berujung Jeruji Besi

264

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Niat hati ingin mengamankan kampung dari kebrutalan sekelompok anak remaja yang mengganggu keamanan daerahnya di Kampung Barutikung, Semarang Utara, sekuriti salah satu pabrik di Kota Semarang, Bagus Aditya (BA) alias Ucil, 23, justru terancam lama di dalam jeruji besi  dan dihadiahi timah panas oleh polisi. Sebab, perbuatannya berakibat menewaskan anak korban berinisial DFA ,17.

BA sendiri didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang Dewi Rahmaningsih Nugroho, melanggar Pasal 80 ayat (3) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun. Adapun perkaranya tercatat dengan nomor register: 184/Pid.Sus/2019/PN Smg, kini telah memasuki sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Penasehat hukum BA dari LBH Mawar Saron Semarang, Ester Natalya, Edo Bagus Artandy, dan Tommi Sinaga, berharap majelis hakim dapat memberikan putusan yang objektif dan mampu menilai perkara itu, dengan tidak mengabaikan fakta yang ada, yakni peristiwa yang mengakibatkan meninggalnya remaja tersebut diawali karena ulah mereka yang menyerang kampung Barutikung, sehingga memprovokasi terjadinya tindak pidana.

Dijelaskannya, melihat maraknya aksi geng dikalangan remaja, pihaknya juga berharap agar orangtua dapat mengawasi pergaulan anak-anaknya, karena usia remaja membutuhkan perhatian yang khusus. Disebutkannya, remaja cenderung bertingkah imitatif dengan lingkungan sekitarnya dan jika salah memilih figur yang dapat diteladani dan salah bergaul.

“Pergaulan buruknya dapat merusak kebiasaan-kebiasaan baik yang dibawa dari rumah,”kata Ester, yang juga Direktur LBH Mawar Saron Semarang ini, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (14/4).

Edo Bagus Artandy, menambahkan, saat ini kliennya BA sedang menjalani proses hukum akibat aksinya mengamankan kampungnya dengan melawan sekelompok anak remaja yang awalnya menganggu keamanan daerahnya. Kejadian itu, bermula pada 29 Desember 2018 sekitar pukul 03.00 pagi, sekelompok anak remaja sekitar 15 orang menyerbu Barutikung dengan menggunakan senjata tajam, sehingga membuat warga kampung  merasa terancam.

Mendengar kerusuhan tersebut, BA terbangun dari tidurnya dan mengetahui kampungnya terancam, BA berniat mengamankan kampungnya dari aksi brutal sekelompok anak remaja tersebut. Tanpa berpikir panjang, BA yang sehari-harinya bekerja sebagai security langsung mencoba menghalau. Namun karena melihat mereka menggunakan senjata tajam, demi keselamatan diri BA kembali ke rumah dan mengambil senjata tajam, yang kemudian digunakan untuk mengusir sekelompok anak remaja tersebut.

“Kelompok anak remaja tersebut pun berhasil dipaksa mundur oleh BA beserta beberapa warga Barutikung lainnya, akan tetapi akibat dari adu fisik tersebut, salah seorang remaja yang datang terluka karena terkena senjata tajam BA, yang belakangan diketahui meninggal dunia,”jelasnya.

Hanya saja, lanjutnya, BA secara gentleman mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan mengakui secara terus terang dan bersikap koperatif selama menjalani proses hukum yang berlaku. Ia juga kagum warga Barutikung begitu antusias menghadiri persidangan untuk memberikan dukungan moril kepada BA.

Perlu diketahui, BA dijebloskan ke jeruji besi usai menghilangkan nyawa seorang bocah asal Srondol Kulon, Banyumanik, berinisial DFA, Sabtu (29/12) lalu. Lutut kanan BA juga dihadiahi timah panas oleh polisi. DFA sendiri sempat dilarikan ke rumah sakit oleh kedua temannya. Namun nahas, DFA tak terselamatkan dengan dua luka sabetan celurit yang cukup dalam mengenai bagian paru-paru dan limpa. Usai ditangkap BA mengaku tidak pergi kemana-mana, bahkan sempat bekerja pada pagi harinya. Celurit yang menghilangkan nyawa DFA disembunyikan di rumah.

“Ya, saya ketangkap pas lagi kerja, saya enggak ada pikiran apa-apa dan cuma takut saja, saya nyesal juga,” kata BA usai ditangkap.  (jks/aro)