Koleksinya Terpajang di Museum Belanda, Jepang, dan Australia

Mengenal Karya Legenda Batik Pekalongan Oey Soe Tjoen

118
GENERASI KETIGA: Widianti Widjaja  menunjukkan salah satu koleksi batik Oey Soe Tjoen. (ALIEF MAULANA/RADARSEMARANG.ID)
GENERASI KETIGA: Widianti Widjaja  menunjukkan salah satu koleksi batik Oey Soe Tjoen. (ALIEF MAULANA/RADARSEMARANG.ID)

Kota Pekalongan tidak lepas dari batik. Salah satu bentuk seni yang dilukis dengan media kain ini telah melekat kuat di setiap jiwa warga Kota Nasi Megono ini. Banyak dari mereka yang berprofesi sebagai perajin batik dan menghasilkan karya-karya batik mengagumkan. Salah satu legenda batik di Pekalongan adalah Oey Soe Tjoen.

ALIEF MAULANA

BATIK karya Oey Soe Tjoen sudah ada sejak zaman penjajahan, atau lebih tepatnya sudah dimulai sejak 1925 hingga kini. Batik Oey Soe Tjoen terkenal dengan kelembutan kainnya dan motifnya yang detail dan menarik.Tidak tanggung tanggung, pengerjaannya pun dilakukan berjenjang. Biasanya satu orang pekerja menggarap satu motif tertentu saja, dan proses pengerjaannya bisa memakan waktu tiga hingga lima tahun, dengan nilai jual yang tidak ditentukan.

Batik Oey Soe Tjoen sudah beralih hingga tiga generasi. Generasi pertama pada 1925 dan generasi kedua 1980 yakni Koey Kam Long, serta generasi ketiga pada 2002 yakni Oey Kiem Lian atau Widianti Widjaja

Menurut kisah Widianti Widjaja, generasi ke-3 keluarga Oey Soe Tjoen, pada masa jayanya, batik Oey Soe Tjoen dikenal oleh kalangan bangsawan Belanda, Eropa, dan Jawa. Motifnya pun memadukan budaya China dan Belanda, yakni bunga, burung, dengan warna-warna cerah.

Untuk motif lainnya, yaitu motif Cuwiri seperti gunungan yang menjadi favorit bangasawan Jawa pada masa itu. Kemudian pecinta batik lokal berdarah Indonesia-Eropa saat itu pada 1930-an, yakni Van Zuylen, memperkenalkan warna baru dari batik Oey, yakni warna-warna klasik yang hingga kini menjadi ciri khas batik Pekalongan.

Hingga kini Batik Oey Soe Tjoen masih banyak dikenal di kalangan pecinta batik dalam maupun luar negeri. Beberapa koleksi Oey Soe Tjoen terpajang di museum Belanda, Jepang, dan Australia.

Widianti mengaku, batiknya banyak dibeli oleh kolektor dari Jakarta, Bandung, dan beberapa daerah lainnya. Dikatakannya, batik Oey Soe Tjoen adalah masterpiece di kalangan kolektor batik, yang wajib dimiliki. Bahkan terakhir kali Widjanti sempat membuatkan batik untuk mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Tidak hanya kolektor lokal saja, dari mancanegara seperti Jepang, Amerika dan Eropa juga banyak. Terakhir kita sempat buatkan batik untuk Pak Ahok yang kemudian dipajang oleh beliau di salah satu sudut rumahnya,”ujar Widianti saat ditemui  di rumahnya, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Dikatakan Widianti, tidak ada bahan khusus dalam penggerjaan batiknya. Jenis kainnya pun sama. Hanya detail yang diunggulkan, di mana dalam membuat gambar berisi ribuan titik yang dibuat menggunakan canting ukuran 0,01 milimeter. Untuk menjaga kualitas batiknya, Widianti kerap turun tangan dalam proses pengerjaannya

Kini, batik Oey Soe Tjoen membatasi produksinya.  Hanya berproduksi ketika ada pesanan dari para kolektor. “Kita dari dulu punya pakem sendiri, dari motif dan warna, sehingga tidak mengikuti pasar. Pemesan maunya apa, kita buatkan namun dengan pakem kita,” katanya.

Meski batik Oey Soe Tjoen cukup terkenal, namun usahanya tidak sebesar dulu. Penyebanya di antaranya banyaknya industi batik tiruan Oey Soe Tjoen, serta gempuran tekstil motif batik atau printing.  Masalah lainnya adalah jumlah SDM pembatik yang kian menurun.

“Dulu pekerja kami ada 150 orang dan kini hanya 12 orang. Setiap tahunnya hanya bisa memproduksi 20 potong kain saja.  Banyak di antara pekerja yang sudah tua, ada juga yang memilih pindah ke usaha batik lain,” terangnya

Widianti berharap, batik Oey Soe Tjoen bisa terus bertahan hingga generasi ke generasi tanpa menurunkan kualitas khas generasi sebelumnya. (*/aro)