Eye Catching Tapi Harus Nyaman

601

RADARSEMARANG.ID, Inovasi terus dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Selain menambah armada, sistem pembayaran, dan memasang converter gas pada bus Trans Semarang, pengelola BRT Trans Semarang juga menggandeng arsitek untuk membangun dan mendesain shelter yang nyaman sekaligus unik dan indah.

Kepala BLU Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan mengatakan, untuk mendesain shelter Trans Semarang, pihaknya menggandeng beberapa desainer dan arsitek lulusan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang. “Pertimbangannya adalah kenyamanan sebagai bentuk pelayanan kepada penumpang yang akan menggunakan moda Trans Semarang,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang akrab disapa Ade ini menjelaskan, dalam membangun shelter juga mempertimbangkan kapasitasnya. Misalnya shelter di Simpang Lima yang merupakan shelter transit. Dari data yang ada, per hari tidak kurang 8.000 penumpang yang menggunakan shelter transit. Artinya penumpang menggunakan Trans Semarang, membutuhkan lebih dari satu koridor.

“Shelter di Simpang Lima dan Bandara Jenderal Ahmad Yani misalnya menjadi shelter transit yang nyaman, dengan pendingin udara dan layanan passenger information system untuk mengetahui jadwal kedatangan bus atau keberangkatan. Serta rute atau koridor untuk melanjutkan perjalanan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pada tahun ini rencananya akan dibangun tiga shelter baru dengan fasilitas yang sama seperti di shelter Simpang Lima. Yakni di Jalan Imam Bonjol atau halte Udinus, Jalan Pemuda atau shelter Balai Kota, dan shelter di Taman Diponegoro atau shelter Elisabeth yang merupakan shelter transit. “Kami juga akan meminta izin PT KAI Daop 4 Semarang untuk membangun shelter di Tawang,” tambahnya.

Ade menjelaskan, pihaknya membangun shelter dengan berbagai ide out of the box dan mengusung konsep tematik. Misalnya Shelter Semarang Zoo yang berwarna belang-belang mirip harimau, shelter di depan Paviliun Garuda RSUP dr Kariadi yang modern, dan shelter lain di Jatingaleh, RSUD Wongsonegoro, Unika Soegijapranata dan lainnya. “Tematik atau unik ini sampingan, paling utama adalah kenyamanan dari penumpang yang menggunakan shelter tersebut. Setidaknya jika desainnya eye catching kan memperindah tampilan kota itu sendiri,” katanya.

Sementara itu, Lukas Bayu Kamarendra Kurniawan, salah satu desainer shelter Trans Semarang mengaku, tahun ini ia dipasrahi untuk membuat desain shelter di Balai Kota dan Imam Bonjol. “Desain ini adalah hasil dari paduan kenyamanan dan arsitektur pada shelter, insipirasinya tentu penggabungan antarkeduanya dan kemudian dirapatkan dengan BLU. Kalau kesulitan hampir tidak ada,” tuturnya.

Rencananya, shelter Balai Kota akan memiliki konsep yang berbeda dari shelter lainnya. Perbedaannya ada pada bentuk atap yang berbentuk pipih dengan bagian tengah shelter terdapat kolom piramida sebagai penopang kedua atap pipih. “Bagian kolom akan memberikan aksen tegas dimana kedua atap pipih sebagai aksen fleksibel,” jelasnya.

Sementara untuk desain shelter Imam Bonjol mengambil dari bentuk bangunan tua. Namun dikombinasi bentuk modern beraksen lengkung di tengah shelter dan finishing modern kemudian digabungkan dengan atap berbentuk datar. (den/ton)