Dikuasai Preman, Patok Harga hingga Rp 5 Juta

87
Dikuasai Preman, Patok Harga hingga Rp 5 Juta
Dikuasai Preman, Patok Harga hingga Rp 5 Juta

RADARSEMARANG.ID, Praktik jual beli lahan bagi pedagang kaki lima (PKL) tak hanya terjadi di pasar tradisional, tapi juga di sejumlah jalan protokol di Kota Semarang. Di kalangan para PKL, praktik curang yang dilakukan oknum preman jalanan itu sudah bukan rahasia lagi. Terlebih di lahan yang berada di wilayah strategis dan ramai pembeli.

DERETAN PKL di trotoar Jalan Kelud Raya kawasan Sampangan tak pernah sepi pembeli. Mereka berjualan menggunakan gerobak dan tenda bongkar pasang. Keberadaan para PKL ini ternyata menjadi lahan empuk bagi preman penguasa lahan. Seorang PKL berinisial UD mengaku untuk bisa berjualan di kawasan tersebut, dirinya harus membeli lahan. Penguasa trotoar mematok harga Rp 5 juta, namun ia baru membayar Rp 3 juta.

Menurut sepengetahuannya, bukan hanya dirinya yang harus membeli lahan, melainkan ada tiga penjual yang juga ikut bayar. Ia menilai wajar, karena dirinya memang bukan warga asli Semarang, melainkan pendatang. Namun demikian sepengetahuannya, yang bayar lahan lapak memang tidak semuanya.

“Untuk lahan lapak saya bayar Rp 5 juta, tapi masih dibayar Rp 3 juta, lokasinya petak kecil Mas, ya yang saya tempati ini. Itu masih ada lagi setoran per malan Rp 2 ribu, kemudian listrik Rp 25 ribu untuk satu lampu. Kalau lampunya lebih dari satu, tinggal dikali Rp 25 ribu,” jelas UD, PKL bongkar pasang sambil menunjukkan lokasi lapaknya, di Sampangan, Kamis (28/3).

Diakuinya, dirinya membayar bukan itu saja, karena sebelumnya saat masih berjualan di dekat Pasar Sampangan, ia juga diminta membayar. Namun letaknya di depan toko orang, meski masih di trotoar. Sepengetahuannya, hampir semua PKL di depan Pasar Sampangan membayar untuk lahan jualannya. Berbeda dengan lahan yang ditempati UD sekarang, hanya sebagian yang bayar.

“Dulu pas masih di dekat Pasar Sampangan, saya ditarik Rp 500 ribu per bulan. Letaknya di depan toko milik warga. Itu masih bayar lagi untuk lampu, bayar ke orang kelurahan Rp 10 ribu seminggu sekali, tapi enaknya bisa untuk jualan siang malam, lokasinya tepat di depan Pasar Sampangan,”sebutnya.

Sekalipun ditarik uang untuk lahan lapak, ia merasa terpaksa membayar, karena kalau ndak membayar risikonya takut dirusak-rusak, apalagi tempat jualannya di titipkan. Namun demikian, ia merasa di Semarang premannya tidak begitu anarkis, terbukti dirinya menitipkan tempat jualan saja masih aman, padahal saat itu dirinya pulang ke Jakarta dua mingguan.

“Di sini (Sampangan, Semarang) masih ndak begitu nakal premannya. Saya pernah ke Jakarta 3 minggu, tinggal telepon premannya aman-aman saja, tempat jualanku dijaga, beda preman di Jakarta dan kotaku premannya nakal-nakal,”katanya yang mengaku sudah 3 tahunan di Semarang.