Gerakkan Kursi Roda Cukup dengan Jari Tangan

Udinus Kembangkan Kursi Roda Berteknologi Modern

302
CANGGIH:Mahasiswa Udinus sedang memeragakan cara menggunakan kursi roda berteknologi modern hasil pengembangan Program Studi Teknik Biomedis Udinus. (DOKUMEN PRIBADI)
CANGGIH:Mahasiswa Udinus sedang memeragakan cara menggunakan kursi roda berteknologi modern hasil pengembangan Program Studi Teknik Biomedis Udinus. (DOKUMEN PRIBADI)

Mahasiswa dan dosen Program Studi (Progdi) Teknik Biomedis Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) mengembangkan kursi roda yang memiliki teknologi modern. Kursi roda ini sangat membantu bagi penyandang disabilitas.

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID, KURSI roda merupakan salah satu alat bantu yang digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan dalam berjalan yang dapat disebabkan karena penyakit, cedera maupun cacat. Biasanya kursi roda digerakkan dengan cara mengayuh menggunakan tangan oleh penyandang disabilitas maupun didorong oleh orang lain.

“Untuk lebih memudahkan, kami coba mengembangkan kursi roda dengan teknologi modern. Juga memberi solusi bagi disabilitas yang hanya mampu menggerakkan jari tangannya,” kata Kepala Progdi Teknik Biomedis Udinus Aripin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, selama ini kursi roda belum cukup membantu, terlebih dengan adanya keterbatasan gerak terjadi karena tangan penyandang disabilitas menggerakkan roda kursi roda, sehingga kesusahan untuk melakukan aktivitas lain. “Biasanya pengguna kursi roda kesulitan dan tidak bergerak secara leluasa,” ujarnya.

Kursi roda hasil pengembangan Progdi Teknik Biomedis Udinus ini secara teknis dipasangi sensor flex di sebuah sarung tangan pengendali yang ada di bagian kanan kursi roda. Sensor flex adalah sensor yang berfungsi untuk mendeteksi suatu kelengkungan. Sensor flex biasa digunakan untuk pengontrolan robot. “Dari sensor flex, langsung kami integrasikan ke dalam mesin penggerak yang ada di bawah kursi roda. Bisa maju, belakang dan belok,” jelasnya.

Ia menjelaskan, jika sensor flex pada kursi roda dipasang pada jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Hanya dengan menggunakan jari, penyandang disabilitas tak perlu lagi repot-repot menggunakan tenaga tangannya untuk menggerakkan kursi roda. “Energi yang digunakan adalah dengan memasanginya baterai yang bisa di-charger,” bebernya.

Untuk pengembangan dan penyempurnaan, lanjut dia, sudah dilakukan pada awal tahun ini.

Aripin mengaku, Udinus telah berupaya terus mengembangkan dan menyempurnakan dengan mendatangkan ahli bidang desain produk-produk biomedis asal Belanda Ir GJ Verkeke dari University of Twente. Ia beranggapan dengan bantuan seorang insinyur Belanda, maka kursi roda modern ini akan memiliki kualitas, seperti buatan luar negeri. “Koreksinya adalah untuk sensor yang digunakan, letak sensor yang baik dan lain-lain,” katanya.

Aripin berharap, kursi roda modern yang dikembangkan Progdi Teknik Biomedis Udinus ini dapat menjadi terobosan baru bagi penyandang disabilitas. Dalam pengembangannya, kursi roda yang memanfaatkan gerakan jari penggunanya berkolaborasi dengan Program Studi Teknik Elektro Udinus. “Kursi roda ini segera akan masuk dalam tahap studi kelayakan agar dapat dilanjutkan untuk proses produksi,” harapnya.

Rektor Udinus Edi Noersasongko mengapresiasi pengembangan kursi roda ini. Ia berharap inovasi yang dilakukan oleh Progdi Teknik Biomedis Udinus mampu memberi kontribusi pengembangan peralatan teknologi kedokteran menjadi lebih maju di Indonesia. (*/aro)