Target Angka Kemiskinan Dinilai Ambisius

Bappeda Optimistis Tercapai

54
Kepala Bappeda Jawa Tengah : Prasetyo Aribowo (Sigit Andrianto/ RADARSEMARANG.ID)
Kepala Bappeda Jawa Tengah : Prasetyo Aribowo (Sigit Andrianto/ RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Target penurunan angka kemiskinan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Tengah 2013-2023 adalah 7,48. Sebelumnya, di 2018, angka kemiskinan di Jawa Tengah berada pada angka 11,19 persen. Meski dinilai cukup ambisius, pemerintah optimistis mampu mencapai satu digit angka ini.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah Prasetyo Aribowo mengatakan, kemiskinan memang masih menjadi PR utama pemerintah untuk segera diselesaikan. Karenanya, kemiskinan mendapat perhatian lebih dalam pembangunan Jawa Tengah lima tahun ke depan.

“Memamg cukup berat, tapi kami yakin bisa mencapai angka itu. Sebenarnya beberapa tahun ini angka kemiskinan di Jawa Tengah terus mengalami penurunan. Bahkan penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah menjadi nomor satu di Indonesia,” kata Prasetyo Minggu (24/3).

Pada periode Semptember 2017 ke September 2019 penduduk miskin Jawa Tengah turun 1,04 persen. Lebih tinggi dari penurunan kemiskinan Indonesia yang hanya 0,46 persen.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Sosial Bappeda Jawa Tengah Edi Wahyono menambahkan target angka 7,48 persen tersebut adalah jumlah penduduk miskin berdasar jumlah penduduk pada saat itu. Ia pun mengakui bahwa target ini sedikit ambisius. Namun demikian, angka ini justru untuk mendorong semua pihak agar bersama-sama berupaya mengentaskan kemiskinan dengan prinsip no one left behind.
“Karena bukan hanya dari pemerintah saja. Tapi semua yang ada secara bersama-sama kita libatkan dalam upaya ini. Dengan prinsip itu tadi, no one left behind,” jelasnya.

Sementara untuk mencapai angka ini, sejumlah strategi yang akan dilakukan diantaranya menyasar pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Meningkatkan pendapatan masyarakat rentan miskin dan berada di bawah garis kemiskinan.

“Termasuk dengan memberikan intervensi. Ini kami lakukan dengan penguatan basis data terpadu dan update. Sehingga penanganan kemiskinan bsia langsung by name by address,” tandasnya. (sga/zal)