Tak Merasa Jijik, Senang Urusi Sapi

70
Puji Selawati/Dokumen Pribadi
Puji Selawati/Dokumen Pribadi

RADARSEMARANG.ID, PUJI Selawati, dara kelahiran Temanggung 22 tahun lalu ini, memang berbeda dengan anak perempuan pada umumnya. Jika yang lain enggan masuk kandang sapi yang kotor, dia justru dengan senang hati mengurusi sapi.

Diakuinya, sebelum Sela -sapaan akrabnya- lahir, ayahnya memelihara sapi. Dari jumlah yang sedikit, Sela dilatih sang ayah untuk mengurus sapi sejak dini. Dengan harapan, sang anak tidak jijik dan takut terhadap sapi yang dipeliharanya. Bahkan sedari SMP, Sela sudah diajari sang ayah untuk membuang kotoran sapi.

“Dulu tiap pulang sekolah disuruh ikut ke sawah mencari rumput. Kemudian masuk kandang untuk memberi makan sapi. Jadi ya kalau sekarang masuk kandang sapi, sudah tidak jijik karena sudah terbiasa,” ujar dara yang hobi nonton film ini.

Makanya ketika di rumah, dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di kandang, bermain dengan sapi daripada keluar bersama teman-temannya. Menurutnya, sapi adalah hewan yang unik. Bahkan, bisa mengerti perasaan manusia.

“Aku dulu punya sapi kesayangan namanya Matteo. Karena lahir di kandang sendiri, dari kecil aku yang ngurus. Sering saya suapi makan.

Waktu kuliah di Semarang dan jarang pulang, begitu pulang langsung masuk kandang dan Matteo langsung menyapa. Dia tahu kalau aku pulang.
Tapi sekarang Matteo sudah tidak ada, suka kangen sama Matteo,” lanjut anak kedua dari 2 bersaudara ini.

Sela yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di Semarang kerap merindukan saat merawat sapi. Makanya, selalu menyempatkan pulang ke Temanggung setiap Sabtu Minggu, demi mengobati rasa rindu terhadap sapi-sapinya.

Menjadi peternak sapi, diakuinya, banyak suka dukanya. Tapi dari merawat sapi, bisa belajar banyak hal. Pastinya, mengerjakan apapun harus ikhlas. Sedangkan kerja keras adalah kunci kesuksesan. Dukanya, saat sapi dijual kemudian disembelih, terasa ngilu melihatnya.

“Apalagi aku yang merawatnya, sehingga pas disembelih jadi ingat waktu mereka kecil, tak kasih makan. Tapi ya harus disembelih, karena
kodratnya sebagai hewan, memang dagingnya untuk dimakan,” lanjut anak pasangan Sulasno dan Asih ini.

Sela selalu ingat pesan ayahnya. Bahwa carilah hobi yang menghasilkan bukan malah menghabiskan. “Belajar itu hidup susah. Kalau hidup senang semua orang juga bisa,” ujar Sela yang sekarang bekerja di PT Intanwijaya Internasional Tbk Semarang

Cita-citanya sekarang adalag membesarkan peternakan milik ayahnya. Dia berharap bisa mengembangbiakan sapi sendiri untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri yang selama ini masih impor dari negara lain. “Aku ingin Indonesia bisa memenuhi kebutuhan daging untuk negerinya sendiri. Kita punya potensi, tinggal masyarakat atau kaum mudanya mau terjun ke peternakan atau tidak? Mari wujudkan Indonesia swasembada daging,” pungkasnya. (cr4/ida)