Rokok Elektrik Berbahaya untuk Kesehatan

121
BAHAS ROKOK ELEKTRIK: Diskusi Kontroversi E-Cigarette & Penegakan Kawasan Anti-Rokok yang diadakan Muhammadiyah Tobacco Control Center UM Magelang di aula Rektorat UM Magelang lantai 3 Jumat (22/3). (Agus Hadianto/ Radarsemarang.Id)

RADARSEMARANG.ID,MUNGKID – Pesatnya konsumsi penggunaan rokok elektrik di kalangan anak muda dan pelajar, membuat prihatin Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UM Magelang. Pasalnya, rokok elektrik juga berbahaya untuk kesehatan dan juga mengganggu upaya penerapan kawasan tanpa rokok (KTR).

Project Director of MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang, Retno Rusdjijati Jumat (22/3) lalu saat TOR pers conference Kontroversi E-Cigarette & Penegakan Kawasan Anti-Rokok di aula Rektorat UM Magelang lantai 3, mengatakan pesatnya perkembangan rokok elektrik dikarenakan adanya isu rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

Rokok elektrik ini, menurut Retno, diklaim sebagai alat bantu berhenti merokok, tidak berasap, dan dipromosikan memiliki banyak manfaat. “Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa rokok elektronik merupakan alat bantu untuk berhenti merokok. Selain itu belum ada penelitian bahwa rokok elektrik bermanfaat bagi kesehatan,” tegasnya.

Retno menegaskan, padahal kenyataanya rokok elektrik di dalam kandungan e-liquid terdapat aerosol yang dikeluarkannya dapat berakibat negatif untuk kesehatan. Selain itu, menurut Retno, ada kecenderungan anak-anak dan remaja ingin mencoba rokok elektrik karena kemudahan membeli. Sehingga risiko bertambahnya perokok pemula akibat adiksi nikotin.

Retno menyebutkan, di Indonesia kasus penyalahgunaan dengan memasukkan obat ilegal dan narkotika semakin marak dan sulit dikendalikan. Rokok elektrik, menurut Retno, juga dapat mengganggu kebijakan kawasan tanpa rokok (KTR).

“Kadar nikotin dalam rokok elektrik berdampak pada mual dan muntah. Dosis yang berlebihan akan menyebabkan tremor, diikuti oleh kejang. Kadar propylene glycol dan glycerol juga menyebabkan masalah kesehatan secara akut dan kronis seperti asma, mengi (wheezing), sesak dada, penurunan fungsi paru-paru, iritasi pernapasan, dan obstruksi jalan pernapasan,” tandasnya.

Retno menuturkan, di negara lain, seperti New York Amerika Serikat, rokok elektrik atau vape sudah dilarang dikonsumsi. Bahkan di Australia, menurut Retno, lembaga penelitian setempat yakni Medical Journal of Australia telah memastikan produk rokok elektrik yang beredar diklaim bebas nikotin justru mengandung nikotin dan berbahaya untuk kesehatan.

Sikap MTCC UM Magelang sendiri sangat tegas dan jelas bahwa rokok elektrik pada dasarnya sama dengan rokok konvensional, karena mengandung zat-zat berbahaya, menyebabkan ketergantungan, dan merusak kesehatan.

“Mendesak kepada pemerintah daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah khususnya, segera menetapkan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok, dalam bentuk perda, termasuk pelarangan rokok elektrik di dalamnya,” tegasnya.

Sementara narasumber dari Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) Kota Magelang, NS. Ruspratikno Abimanyu, S.Kep, MCH, CHt, memaparkan Indonesia menempati urutan ketiga setelah Tiongkok dan India dalam konsumsi rokok di dunia.

Abimanyu menyebut rokok elektrik mengandung nikotin yang dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah dan terjadinya pengentalan darah. Selain itu, rokok elektrik, mengandung propilen glikol yang menyebabkan sesak nafas, asma dan penurunan fungsi paru-paru.