Ombudsman Temukan 6 Dugaan Maladministrasi

99
Penyimpangan Prosedur Pengawasan UNBK 1. Pelaksanaan UN di hari Pertama Tingkat SMK sesi I ada yang tidak sesuai jadwal, karena kendala jaringan/sistem. 2. Terdapat Pengawas memasuki ruangan ujian tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan. 3. Masih ditemukan pengawas yang membawa dan mengoperasikan handphone ke dalam ruangan ujian. 4. Jumlah pengawas tidak ideal, harusnya 1 pengawas untuk 20 peserta, kenyataannya 1 pengawas dengan 30 peserta. 5. Ditemukan peserta ujian yang membawa handphone, namun sudah disita oleh pihak sekolah setelah diingatkan oleh Tim Ombudsman. 6. Peserta terlambat masuk ruang ujian tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Ketua Panitia UNBK sebelum memasuki ruang ujian. Sumber : Ombudsman RI
Penyimpangan Prosedur Pengawasan UNBK 1. Pelaksanaan UN di hari Pertama Tingkat SMK sesi I ada yang tidak sesuai jadwal, karena kendala jaringan/sistem. 2. Terdapat Pengawas memasuki ruangan ujian tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan. 3. Masih ditemukan pengawas yang membawa dan mengoperasikan handphone ke dalam ruangan ujian. 4. Jumlah pengawas tidak ideal, harusnya 1 pengawas untuk 20 peserta, kenyataannya 1 pengawas dengan 30 peserta. 5. Ditemukan peserta ujian yang membawa handphone, namun sudah disita oleh pihak sekolah setelah diingatkan oleh Tim Ombudsman. 6. Peserta terlambat masuk ruang ujian tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Ketua Panitia UNBK sebelum memasuki ruang ujian. Sumber : Ombudsman RI

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Jateng menemukan 6 dugaan maladministrasi. Kebanyakan, berkaitan dengan pengawas.

Ketua Tim Pengawasan Ujian Nasional Tahun 2019 ORI Jateng Achmed Ben Bella merinci keenam dugaan pelanggaran itu, pertama adanya ujian yang dilaksanakan tidak sesuai jadwal. Hal ini karena kendala sistem, sehingga molor 30 menit dari waktu yang ditentukan.

Dugaan pelanggaran kedua, Ombudsman masih menemukan adanya pengawas yang memasuki ruang ujian tidak sesuai waktunya atau telat. Dalam aturan, pengawas harus memasuki ruang ujian 20 menit sebelum ujian dimulai. Selanjutnya, Ombudsman juga menemukan masih ada pengawas yang membawa dan mengoperasikan smartphone di ruang ujian. Padahal, ini dilarang.

Masih berkaitan dengan pengawas, Achmed melanjutkan, Ombudsman menemukan pengawas yang mengawasi peserta ujian lebih dari ketentuan.

”Idealnya satu pengawas mengawasi 20 peserta. Namun temuan kami, masih ada yang mengawasi sampai 30 peserta,” jelasnya kepada koran ini.

Terakhir, temuan Ombudsman adalah masih ada siswa terlambat yang langsung masuk ke ruang ujian. Padahal, yang sebenarnya mereka harus izin kepada ketua panitia UNBK. ”Dalam pengawasan ini, kami menerjunkan tim di beberapa SMK. Namun kami belum bisa sebutkan, dugaan itu terjadi di sekolah mana,” jelasnya.

Hasil temuan ini, akan disampaikan kepada Ombudsman RI sebagai bahan evaluasi pelaksaan UNBK tahun ini di Jateng. ”Kami juga mengimbau kepada masyarakat yang menemukan kecurangan dalam pelaksanaan UNBK ini agar melapor ke kami. Jangan takut,” ujarnya. Ombudsman telah membuka posko pengaduan untuk hal ini.

UNBK SMK di Jateng dimulai Senin (25/3) kemarin. Sedikitnya ada 1.538 SMK di Jateng melaksanakan UNBK dan diikuti 247.089 siswa. Untuk SMK, UNBK dilaksanakan pada 25-28 Maret 2019. Sementara untuk SMA/MA akan dilaksanakan pada 1, 2, 4 dan 8 April mendatang.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Sulistyo menerangkan, semua proses ujian di SMA/SMK di Jateng tahun ini berbasis komputer. Rata-rata SMK di Jateng melaksanakan UNBK hanya dua sesi. Ada beberapa sekolah yang sudah satu sesi karena jumlah komputer sama dengan jumlah siswanya.

Namun demikian, ia tidak menampik bahwa masih ada beberapa sekolah yang melaksanakan UNBK di sekolah lain. ”Istilahnya nunut, namun itu hanya sedikit. Karena semua sekolah sudah kami persiapkan sejak awal,” tegasnya.

Gubernur Ganjar Pranowo meninjau pelaksanaan UNBK di SMK Jateng, Jalan Brotojoyo Semarang. Dari hasil pantauannya, pelaksanaan UNBK berjalan baik dengan ketersediaan komputer yang cukup. ”Ada juga ahli di bidang IT yang mendampingi sehingga kalau ada masalah langsung bisa ditangani,” ujar Gubernur usai mengintip siswa-siswi yang tengah menghadapi komputer. Dari siswanya juga jauh lebih siap.