Kejari Istimewakan Eksekusi Eks Manager Finance

132

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Eks Manager Finance, Yuniati Kwik Binti Indro Istanto, 42, yang menjadi terpidana perkara penggelapan voucher belanja mencapai Rp 33,594 juta milik PT Hartono Raya Motor ini, dieksekusi secara istimewa. Meski sebelumnya telah menjadi tahanan kota.

Yakni, dengan menggunakan mobil dinas Kejari Kota Semarang, Toyota Avanza warna hitam pelat nomor warna merah H 9508 AW. Warga Jalan Bintoro Raya nomor 19-C, Kelurahan Pandean Lamper, Gayamsari itu dieksekusi pukul 12.50, setelah menjalani pemeriksaan.

Perlakuan istimewanya, selain diantar menggunakan mobil Avanza, kedua tangannya sama sekali tak diborgol. Selama eksekusi tanpa pengawalan polisi, namun didampingi jaksa dan penasehat hukum dari kantor Denas and Partners, serta kerabat terpidana, padahal statusnya sudah terpidana.

Hal itu berbeda perlakuan eksekusi penjara terhadap mantan Kepala UPTD Kasda DPKAD Kota Semarang, Dody Kristyanto Purwono, yang terjerat perkara raibnya dana Kasda Pemkot Semarang senilai Rp 26,7 miliar di Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Semarang. Padahal ketika itu, status Dody masih tersangka, namun dieksekusi dengan mobil tahanan warna hijau milik Kejari Kota Semarang.

Kepala Kejari Kota Semarang Dwi Samudji melalui Kasi Tipidum Bambang Rudi Hartoko mengatakan, nantinya terpidana Yuniati Kwik akan ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Klas II Bulu Semarang. Sedangkan terkait pemberian perlakuan berbeda dari tahanan umumnya tersebut, Rudi membantah.

Menurutnya, eksekusi tetap dilakukan dan menggunakan mobil dinas tahanan pidsus (pidana khusus). Namun demikian, detailnya, ia tidak begitu tahu prosesnya, ia beralasan sedang dinas luar di Pekalongan. Ia mengaku perkara penggelapan tersebut sudah berkekuatan hukum tetap (Inchrach) di tingkat banding.

“Ngapain tahanan demikian saja diistimewakan, semua kita perlakukan sama. Jadi nggak ada diistimewakan, percaya saja sama kami,” kilah Rudi saat dikonfirmasi koran ini.

Terpisah, Kordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang, Mardha Ferry Yanwar menyebutkan bahwa kalau memang proses eksekusinya menggunakan mobil Avanza, jelas ada perlakuan istimewa. Sebab, sepengetahuannya kebanyakan tahanan dieksekusi menggunakan mobil tahanan.

Apalagi kalau dibandingkan antara kasus Yuniati dengan kasus Dody Kristyanto Purwono, jelas sekali perlakuan keistimewaannya.

Ia menyayangkan, sudah terpidana saja diperlakukan istimewa. Ini berbeda dengan Dody yang masih status tersangka, sudah digelandang menggunakan mobil tahanan. “Kesalahannya terletak pada proses eksekusi yang tidak adil, kalau melihat dua kasus itu. Seharusnya proses eksekusi semua dianggap sama, kalau menggunakan mobil tahanan, sudah sepantasnya semua tahanan dieksekusi sama. Begitu pula penggunaan rompi tahanan dan tempat penahanan, maupun borgol tangan,” tandasnya. (jks/zal/ida)