Sudah Miskin Menjadi Semakin Miskin

285
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

SEDIANYA hari itu saya hanya ingin berangkat dari Sidoarjo ke Semarang naik kereta Maharani. Irit. Hanya Rp 49.000. Tidak sampai separo dibanding naik bus Patas Surabaya – Semarang. Tiket sudah di tangan. Mendadak harus bermanuver. Saya ingin ke rumah Jasmin di Desa Singonegoro, Jiken, Blora.

Karena pagi di tanggal 12 Maret itu saya ketinggalan kereta, jadilah naik bus ekonomi. Dari Surabaya ke Babat. Kemudian estafet ke Cepu. Dari Kota Minyak itu naik Grap motor ke Singonegoro dengan biaya Rp 57 ribu.

Begitu turun dari angkutan bersistem on line itu terlihat Suwarini tergopoh-gopoh hendak masuk rumah berdinding kayu. Seluruh pakaiannya basah kuyub. Air yang menetes dari pakaiannya membasahi lantai tanah di teras.

Kelihatan Ayahnya Jariyo dan ibunya Tahan (berulang-ulang saya tanya namanya memang Tahan) yang duduk di ruang tamu beranjak menyambut. Mereka bertemu persis di pintu yang terbuka separo. Belum sempat mereka berbincang, saya menyapa. Mereka kaget. Mbengong.

‘’Bagaimana keadaan Pak Jasmin,’’ tanya saya. Swarini menjawab, suaminya sehat. Saat itu berada di tahanan Polres Blora. Swarini baru dari sana. Di jalan kehujanan. Kebetulan siang itu hujan lebat mengguyur tlatah Blora. Saya juga kehujanan sejak dari Cepu. Sempat berteduh tetapi akhirnya nekat.

Paki Jasmin yang saya tanyakan tersebut adalah seorang buruh tani serabutan. Kalau bekerja penghasilannya Rp 30.000 sehari. Dia ditangkap polisi karena kedapatan menjual sebatang kayu jati berukuran empat meter. Besarnya hanya 8 mx 10 cm. Kayu itu dipikul. Di dekat Pasar Jewpon, Blora, ditawarkan kepada seseorang seharga Rp 100 ribu. Orang yang ditawari itu polisi kehutanan. Jumat, 8 Maret 2019 itulah Jasmin ditangkap.

Kata Swarini, seumur-umur baru kali itu suaminya ditangkap polisi. Semula dia tidak tahu duduk perkaranya. Dia hanya mendengar celotehan orang lewat di depan rumah bahwa Jasmin tertangkap. Swarini kemudian ke Balai Desa untuk mendapat informasi. Ternyata betul. Suaminya ditangkap polisi karena dituduh mencuri kayu jati. Tangispun pecah. ‘’Seandainya tahu akan mencuri, saya pasti melarangnya,’’ ujarnya.

Sebenarnya, kata Swarini, keluarganya pasrah meski hidup serba kekurangan. Mereka rela makan apa adanya. Ayahnya yang sakit belum sempat diberobatkan. Kakinya bengkak karena ketusuk kayu lancip. Jalannya dengklang. Sesekali harus dipapah. Ibu Jasmin juga tidak sehat. Praktis mereka menjadi tanggungan Jasmin. Tiga saudara Jasmin berumah tangga di tempat lain.

Bertahun-tahun Jasmin hidup merantau. Jakarta, Surabaya, sampai Bali. Hanya sebagai kuli bangunan. Kemudian pulang karena kondisi orang tuanya yang tidak sehat. Di kampung dia bekerja serabutan. Swarini, istrinya, membantu juga sebagai buruh serabutan. ‘’Setelah Pak Jasmin ditahan, saya yang merawat bapak-ibu,’’ ujar Swarini yang membiarkan pakaiannya tetap basah.