Go Digital Rentan Pemalsuan

76

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Aplikasi Go Digital yang mulai diterapkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kendal dirasa sangat membantu. Dengan aplikasi tanda tangan digital ini, persetujuan dokumen permohonan kartu keluarga (KK) dan akta kelahiran bisa cepat. Namun jika tidak teliti, penggunaan aplikasi ini rentan terhadap pemalsuan data.

Kepala Disdukcapil Kendal Bambang Dwiyono mengatakan, aplikasi Go Digital yang sudah tiga pekan dijalankan ini telah banyak menyelesaikan permohonan. Bahkan sehari bisa menyelesaikan rata-rata 150 permohonan KK dan Akta.

“Lebih cepat dan efisien, karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Sehingga berkas tidak sampai menumpuk di kantor. Tapi di mana saja sepanjang terkoneksi internet bisa melakukan persetujuan tanda tangan,” katanya.

Namun sayangnya, aplikasi tersebut belum tersambung sampai ke tingkat kecamatan. Sehingga pemohon dari kecamatan masih dilayani secara manual. “Padahal pemohon dari kecamatan cukup banyak, bahkan mencapai 600 setiap pekannya,” tandasnya.

Saat ini pihaknya sedang mengajukan proses agar aplikasi itu tersebut bisa juga diterapkan di kecamatan-kecamatan. Sehingga bisa mempercepat proses pengajuan KK dan akta kelahiran. “Ke depan tidak hanya KK dan akta, kalau bisa KTP elektronik mempercepat proses,” jelasnya.

Namun jika tidak berhati-hati , katanya, aplikasi tersebut sangat rentan terhadap pemalsuan. Sebab petugas tidak mengetahui apakah berkas yang dilampirkan asli atau tidak. Makanya, butuh ketelitian dari petugas lapangan yang melayani permohonan.

Selain itu, aplikasi juga rentan terhadap virus dan serangan hacker. Bahkan beberapa waktu lalu sempat diserang oleh virus yang diretas dari Paskitan. “Sempat setengah hari lebih tidak bisa digunakan, akhirnya kami panggil teknisi dari Kominfo untuk membantu dan akhirnya bisa digunakan kembali,” paparnya.

Perihal pemutakhiran KTP-el, sejauh ini masih ada 15 ribu warga Kendal yang belum melakukan perekaman data L. Jumlah tersebut menurutnya di luar warga baru atau pindahan, memasuki usia remaja 17 tahun, warga yang meninggal dan sebagainya. “Artinya masih data penduduk yang lama,” tuturnya.

Sedangkan untuk WNA, saat ini ada tercatat ada 22 orang yang tinggal dan menetap di Kendal. “Dari 22 itu yang mempunyai KTP-el hanya dua orang, karena sudah mempunyai syarat mempunyai Kitap,” jelasnya

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dispendukcapil Akhyan menambahkan, meski para WNA memiliki KTP elektronik, mereka tidak dapat melakukan pencoblosan dalam pemilu. “Meski punya KTP mereka tidak bisa memilih karena tidak terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap),” jelasnya. (bud/ton)