Taufik Seret Mantan Bupati dan Sekda

Kasus Suap DAK Kebumen dan Purbalingga

30
SIDANG PERDANA: Wakil Ketua DPR RI nonaktif Taufik Kurniawan saat menjadi terdakwa kasus suap pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen dan Purbalingga di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (20/3).ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID
SIDANG PERDANA: Wakil Ketua DPR RI nonaktif Taufik Kurniawan saat menjadi terdakwa kasus suap pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen dan Purbalingga di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (20/3).ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Lima nama petinggi di Kebumen dan Purbalingga kembali ikut terseret dalam perkara dugaan suap pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menjerat Wakil Ketua DPR RI nonaktif Taufik Kurniawan. Mereka adalah mantan Bupati Kebumen Muhammad Yahya Fuad dan mantan Bupati Purbalingga Tasdi, serta mantan calon Bupati Kebumen Khayub Muhammad Luthfi. Juga mantan Sekda Kabupaten Kebumen Adi Pandoyo dan Sekda Purbalingga Wahyu Kontardi. Hal itu terungkap dalam sidang perdana terdakwa Taufik Kurniawan dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh Penuntut Umum (PU) Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (20/3).

Dalam dakwaannya, PU KPK Eva Yustisiana, Joko Hermawan dan Mufti Nur Irawan menyampaikan, pada Juli 2016 terdakwa menghubungi Muhammad Yahya Fuad meminta komitmen fee pengurusan DAK yang telah disepakati sebelumnya. Dalam komunikasi itu, Yahya Fuad menyepakati komitmen fee tahap pertama diserahkan pada 26 Juli 2016. Fee diserahkan sesuai permintaan terdakwa di Hotel Gumaya Semarang melalui Rachmat Sugiyanto. Agar penyerahan berjalan aman, terdakwa memesan tiga kamar, yakni dua kamar bersebelahan dan satu kamar di depannya yang akan digunakan terdakwa untuk mengawasi penerimaan fee.

Namun sehari sebelumnya, Yahya Fuad meminta Hojin Ansori menyiapkan uang komitmen fee tahap pertama sebesar Rp 1,65 miliar. Atas perintah itu Hojin menyiapkan uangnya yang diterima dari Muji Hartono sebesar Rp 1,05 miliar dan PT Sarana Multi Usaha sebesar Rp 600 juta.

“Setelah terkumpul, Yahya Fuad memerintahkan Hojin Ansori agar uang diserahkan di kamar 1211 Hotel Gumaya Semarang. Kemudian 26 Juli tersebut Hojin menyerahkan ke Rachmad Sugiyanto sesuai instruksi dari terdakwa ke Yahya Fuad,” kata Eva Yustisiana dan Joko Hermawan secara bergantian di hadapan majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono.

Setelah penyerahan fee tahap pertama tersebut, Kabupaten Kebumen mendapatkan DAK pada APBD Perubahan Tahun Anggaran (TA) 2016 sebesar Rp 93,369 miliar. Selanjutnya Agustus 2016, terdakwa menghubungi Yahya Fuad meminta agar fee tahap kedua kembali diserahkan ke Rachmad Sugiyanto di Hotel Gumaya. Untuk memenuhi fee tahap kedua itu, Yahya Fuad meminta Khayub Muhammad Luthfi yang mendapatkan jatah dana alokasi DAK Rp 36 miliar segera menyerahkan uang fee sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya melalui Adi Pandoyo, mantan Sekda Kebumen. Selanjutnya Khayub memberikan uang Rp 2,5 miliar dalam dua tahap. “Lalu Adi Pandoyo melaporkan ke Yahya Fuad memerintahkan agar uang Rp 2 miliar diserahkan kepada terdakwa di Hotel Gumaya, dan sisanya Rp 500 juta untuk operasional,”sebut jaksa.

Sedangkan terkait penerimaan fee penambahan DAK pada APBD Perubahan Tahun Anggaran 2017 untuk Kabupaten Purbalingga terjadi pada 18 Maret 2017, terdakwa menemui Tasdi menawarkan pengurusan DAK untuk Kabupaten Purbalingga sebesar Rp 50 miliar sampai Rp 100 miliar dengan syarat memberikan komitmen fee 5 persen kepada terdakwa melalui Wahyu Kristanto. Atas tawaran itu, Tasdi menyetujui.